Pasang Kuda-Kuda di Pusat-Pusat Bisnis

Pasang Kuda-Kuda di Pusat-pusat Bisnis. Warta Ekonomi. No.20. 2015

Kondisi perekonomian yang sedang kurang sehat sekarang ini tak menyurutkan semangat para pengembang property untuk membentangkan rencana. Mereka memetakan pusat-pusat pertumbuhan property di masa mendatang.

 

SEKTOR property yang diharapkan mampu berkontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional tampaknya larinya tak sekencang pada periode-periode sebelum tahun ini. Jika mengacu pada data Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia (BI) secara kuartalan, angka pertumbuhan penjualan property pada kuartal II- 2015 hanya mencapai 10%. Padahal, para kuarta I-2015, penjualan berada di level 26,2%. Penjualan seperti  menengah ke atas juga berpotensi turun hingga 50% pada semester II-2015 jika keadaan juga tidak berubah.

PT Synthesis Karya Pratama, salah satu pengembang property nasional, tetap optimistis dapat menumbuhkan penjualannya pada tahun ini. Perseroan berencana meluncurkan proyek property redisensial di daerah premium di Jl. Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Tampaknya perseroan akan mengubah pola pengembangan property di wilayah tersebut yang umumnya bertemakan bisnis. Di atas lahan seluas 1,5 hektar, Synthesis Karya Pratama berencana membangun satu tower perkantoran, dan satu tower komersial, yang mengusung konsep mix-used development dengan total investasi ditaksir mencapai Rp. 3,5 triliun.

Direktur Synthesis Karya Pratama Julius J. Warouw mengatakan proses pembangunannya sendiri baru akan dimulai pada pertengahan tahun 2016 mendatang, tetapi proses penjualannya sudah mulai dilakukan saat ini. Gatot Subroto, yang notabene wilayah Grade  A, dipilih dalam pengembangan bisnis perseroan mengingat di kawasan tersebut banyak dibangun perkantoran dan area komersial. Jadi, hadirnya kawasan residensial di wilayah ini akan menjadi perlengkap pengembangan property berkelanjutan di area Gatot Subroto dan sekitarnya. “Wilayah Gatot Subroto merupakan kawasan potensial, mengingat lebar jalan yang lebih besar dari jalan-jalan protocol lainnya. Kemudian infrastruktur tol yang sudah memadai dan juga tingginya aktivitas bisnis di wilayah itu,” kata Julius.

Sebagai salah satu strategi penjualannya, perseroan menjual produk propertinya di bawah harga yang ditetapkan pemerintah. Hal yang sangat jarang dilakukan oleh perusahaan property pada umumnya. Harga jual tower redisendial dibanderol Rp. 38 juta per meter persegi atau 40% lebih rendah dari harga yang ditetapkan pemerintah. Padahal apabila mengacu pada data Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) pada 2014, harga jual lahan di wilayah tersebut sudah mencapai Rp 59 juta per meter persegi, NJOP pada 2014 mengalami kenaikan 111% dibandingkan padan 2013 yang hanya mencapai Rp 28 juta per meter persegi. “Mengapa pemerintah menaikkan NJOP sampai segitu di wilayah tersebut, dengan segala moda transportasi seperti MRT, LRT, busway, ini akan menjadi akses tepat untuk menuju Jakarta bagi masyarakat. Ini seperti permata yang belum digosok,” tambah Julius.

Wilayah Gatot Subroto, kata Julius, akan dijadikan business hub layaknya wilayah Jl. Jend. Sudirman dan Jl. M. H. Thamrin. Hal tersebut tentunya menjadi nilai tambah tersendiri bagi pengembangan property perseroan.

Optimism penjualan perseroan ini beralasan. Pasalnya, Synthesis Karya Pratama mengaku sudah memiliki beberapa komitmen pembelian dari calon pembeli yang sebelumnya juga sudah menggunakan produk property perseroan. Beberapa portfolio property perseroan, di antaranya, Apartmen Bassura City, Casablanca Mansion, Plaza Semanggi, Urbana Place, Bali Nusa Dua Hotel, Synthesis Residence Kemang, Festifal Citylink Bandung, Prajawangsa City, Lavanda Residence, dan De Oaze.

Pengembangan lainnya yang juga sudah masuk ke wilayah premium PT Ciputra Property Tbk. ( CTRA) bernama Raffles Residence and Hotel. Proyek yang berlokasi di Jl. Satrio, Jakarta Selatan, itu terdiri dari satu menara yang merupakan kombinasi antara Raffles Apartment dan Raffles Hotel. Satu unit apartment Raffles memiliki luasan 470 meter persegi yang dibanderol Rp. 33 miliar per unit atau Rp 70,2 juta per meter persegi. Kemudian proyek milik KG Global Developemet yang berada di Jl. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, bernama Regent Residence, juga digabung dengan hotel bintang lima skala internasional yaitu Regent Hotel. Harga satu unit apartment di Regent Residence dipato kRp 69 juta per meter persegi.

Pendiri Ciputra Group, Ciputra, mengatakan di tengah pelemahan ekonomi yang terjadi seperti saat ini, pengembang harus terus berekspansi untuk mengantisipasi booming property di masa yang akan datang. Namun, langkah yang dilakukan tetap harus terukur. “Selain konsolidasi, ekspansi juga harus dilakukan,” katanya.

Jika sector property terganggu oleh pelemahan ekonomi, efek turunannya akan sangat luas. Maklum, terdapat sekitar 150 industri yang terkait dalam bisnis tersebut. Oleh karena itu, property harus dipelihara dengan baik. “Tetapi kalau masalah property, misalnya, tentang pajak, DP, UU, pemilikan asing, tidak dibenahi, ya percuma,” ujarnya.

Pengembangan lain yang juga masuk ke wilayah CBD adalah PT Agung Sedayu TBK. (APLN) proyek The Langham Residence and Hotel yang berlokasi di SCBD, Jakarta Selatan. Satu unit apartment berluaskan 350-523 meter persegi itu dibanderol Rp 79,8 juta per meter persegi. Satu lagi apartment premium yang sedang berjalan kontruksinya adalah Casa Domainyang dikembangkan oleh konsorsium tiga perusahaan yaitu Salim Group, Kerry Group, dan Lyman Group. Apartment yang terhubung dengan Shangri-La Hotel tersebut dipasarkan Rp 53,9 juta per meter persegi.

Sementara itu, konsultan property Cushman dan Walefield Indonesia dalam risetnya memproyeksikan pasar perkantoran di kawasan pusat bisnis (central business district) CBD Jakarta akan mengalami penurunan pada semester II-2015. Dalam periode ini, pasokan bar uterus bermunculan dalam dua tahun ke depan sehingga menimbulkan adanya ruang kosong dalam jumlah besar. Transaksi untuk unit besar pun diprediksi sangat terbatas pada kuarta; III-2015 karena mayoritas penyewa lebih memilih untuk bersikap melihat dan menunggu terhadap kondisi perekonomian global dan nasional.

Saat ini, pasokan ruang perkantoran di pusat bisnis Jakarta berjumlah sekitar 4,79 juta meter persegi dan diproyeksikan suplai sebesar 608.000 meter persegi akan masuk pada kuartal III-2015. Ini merupakan suplai terbesar yang pernah tercatat di pasa perkantoran CBD Jakarta.

Associates Director Colliets International  Ferry Salanto mengataan ebuthna psaokan perkantoran dan hunian di wilayah CBD Jakarta dalam beberapa tahun kekan ekspansi di wilayah CBD hanya sebagai tes pasar. Ferry menambahkan, realitasinya nanti tergantung kondisi perekonomian. Oleh karena itu, jika dilihat saat ini saja belum banyak tenant yang melakukan ekspansi, padahal pasokannya terus bertambah, maka ke depannya diprediksi akan terdapat banyak ruang perkantoran yang terse 2016 mendatang akan bersinar lebih terang. “Kalau pertumbhan ekonomi membaik, property juga akann membaik,” ujar Ferry.

Sebagai catatan, pertumbuhan harga jual property di wilayah CBD pada tahun depan diprediksi akan melempem. Pada 2010 hingga 2012 lalu, harga jual property dapat tumbuh sekitar 20%.

 

Sumber: Warta Ekonomi. No.20. 2015

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.