Pariwisata Kota Bisa Bangkit jika Konsisten Taati Protokol Kesehatan. Jawa Pos. 16 Juli 2020. Hal.15. Agoes Tinus Lis Indrianto. Pariwisata

SURABAYA, Jawa Pos – Sektor pariwisata amat terpukul akibat pandemi. Untuk membangkitkannya kembali, pemilik usaha tentu harus menegakkan protokol kesehatan sesuai dengan pedoman tatanan normal baru yang dikeluarkan pemerintah. Mana yang sudah boleh buka, mana yang belum. Dekan Falcultas Pariwisata Universitas Ciputra Agoes Tinus Lis Indrianto SS MTourism PhD memaparkan, prinsip 3C berikut bisa menjadi kunci. Yakni, commitment, collaboration, dan consistency.

             Dalam disertasinya, Agoes menyatakan bahwa Kota Surabaya sudah mempraktikkan prinsip tersebut dalam konsep sparkling Surabaya. “Brand sparkling Surabaya itu termasuk yang paling lama digunakan daripada kota maupun provinsi lain,” jelasnya. Hal tersebut sudah menunjukan adanya konsistensi dalam perencanaan branding pariwisata kota.

Dalam kondis pandemi saat ini, prinsip tersebut harus ditarik ke level selanjutnya. Komitmen tak hanya diwujudkan seluruh stakeholder pariwisata dalam pembangunan. “Dari penelitian saya tahun lalu, pemkot commit tentang pembangunan fisik. Sedangkan, swasta dan masyarakat commit untuk promosi,” jabarnya. Maka, tahun ini komitmen tersebut harus terwujud dalam protokol kesehatan di kawasan wisata.

Selain penegakan aturan protokol oleh pemerintah, diperlukan komitmen bagi pelaku dan wisatawan untuk taat melakukan protokol. “Komitmennya jangan hanya bikin aturan di awal. Jangan sesuai sidak, lemah lagi,” tegasnya.

Kolaborasi seluruh stakeholder diperlukan. Agoes menyatakan, pemerintah dan dinas terkait Dekan Fakultas Pariwisata UC perlu membuat aturan ketat untuk keamanan seluruh pihak. Selanjutnya, kolaborasi dengan pihak swasta dilakukan untuk membuat SOP yang lebih detail. “Kita ambil contoh kolam renang. Perlu diatur sampai pH yang aman berapa. Dengan luas segini, boleh diisi berapa orang,” tambahnya.

Prinsip yang terakhir adalah konsistensi. Aturan tegas tak bisa hanya dibuat. Agoes menyatakan, penting adanya konsistensi pemerintah dalam penegakan. “Seperti Banyuwangi, pemimpinnya konsisten melakukan razia. Sekali langgar, pasar ditutup. Bukan hanya pemeriksaan di awal,” tuturnya memberikan contoh.

Konsistensi juga harus hadir dari swasta, masyarakat, dan wisatawan. “Kita tahu sekarang semua orang sudah ngebetwisata, tapi kalau tidak patuh, kan ya tidak amart bagi semuanya,” sambung4 (dya/c12/nor)

 

Sumber: Jawa Pos. 16 Juli 2020. Hal. 15

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *