Pameran Batik Oey Soe Tjoen. Jawa Pos. 30 Agustus 2018.Hal.32_Yohannes Somawiharja. Rektorat

SURABAYA – Semangat melestarikan batik sebagai warisan Nusantara terpancar nyata pada sosok Oey Kim Lian. Perempuan yang juga akrab disapa Widianti Widjaja itu merupakan generasi ketiga dari pembatik legendaris, Oey Soe Tjoen. Kemarin (29/8) dia ikut datang untuk berbagi kisah mengenai perjalanannya sebagai pembatik pada press conference yang mengawali pameran batik Oey Soe Tjoen di Jayanata Beauty Plaza.

Widia, sapaan akrabnya, mengungkapkan, sejak awal, dirinya tidak pernah dipersiapkan untuk menjadi seorang pembatik. “Awalnya, mendalami proses pembatikan untuk membayar utang ayah saya,” ujarnya. Ya, sangayah, Oey Kam Long atau Mulyadi Wijaya, merupakan pembatik generasi kedia. Uang yang dimaksud Widia adalah pesanan batik yang terlanjur diterima. Sang ayah belum bisa menyelesaikannya karena tutup usia pada 2002.

Dia akhirnya mulai mendalami proses pembuatan batik pada 2003, kemudian benar-benar memegang kendali estafet bisnis sejak 2006. “Awal belajar dulu, ada 13 batik yang saya rusakkan,” kenangnya. Usaha batik turun-menurun itu pun saat ini sudah berusia 100 tahun.

Yohannes Somawiharja, rektor Universitas Ciputra yang ikut hadir kemarin, mengungkapkan bahwa pameran itu penting. Pameran tersebut bertujuan mengedukasi generasi muda agar tidak hanyak mengenal batik cap yang dipotong-potong. Mereka juga bisa mengagumi sebuah kain batik tulis utuh yang berharga. Terlebih, ada 75 kain batik yang dipamerkan dari 14 kolektor.

Dari situ, akan bisa dipelajari keistimewaan batik Oey Soe Tjoen. Menurut Yohanes, salah satu keistimewaannya adalah pada dua sisi kain yang sama-sama dibatik. (hay/c20/tia)

Sumber : Jawa-Pos.30-Agustus-2018.Hal.32

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *