Pahlawan di Masa Pandemi

Rakyat Indonesia pasti sudah tidak asing lagi dengan yang namanya hari pahlawan. Upacara bendera, lomba-lomba tradisional, acara tabur bunga di makam pahlawan, dan masih banyak lagi. Kegiatan ini sudah menjadi suatu ‘ritual’ yang dilakukan rakyat Indonesia setiap tanggal 10 November. Tanpa adanya pengetahuan yang jelas mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada tanggal tersebut, atau mengapa hari itu disebut sebagai hari pahlawan. Terlebih lagi, tidak sedikit juga kita mendengar bahwa murid-murid yang merasa malas atau bosan untuk mengikuti peringatan hari pahlawan berupa upacara bendera. Padahal sejatinya, apa yang terjadi pada tanggal 10 November 1945 dahulu merupakan alasan mengapa kita bisa berdiri dan mengenyam pendidikan dengan mudah sekarang.

Jika kita bisa lebih menghormati jasa-jasa pahlawan lebih lagi, maka rakyat-rakyat Indonesia bisa menjadi rakyat yang lebih tertib dan menerapkan nilai-nilai yang sepatutnya kita lakukan. Menurut Wulaningsih (2011:1), Indonesia saat ini sudah mulai kehilangan jati dirinya sebagai bangsa yang bermartabat, ramah, santun, dan penuh toleransi. Hal ini dapat dilihat dari kehidupan bermasyarakatnya yang mulai dikotori dengan banyaknya korupsi, kolusi dan nepotisme. Namun hal ini tidak memberhentikan para petinggi edukasi yang terus menekankan pentingnya jiwa nasionalisme kepada rakyat Indonesia.

17 Agustus 1945, hari yang kita sebut sebagai hari Indonesia merdeka ternyata masih mengandung banyak tanda tanya didalamnya. Setelah hari proklamasi, ternyata Indonesia masih harus berjuang melawan pemerintahan Sekutu Belanda yang ternyata tidak mau memberikan kemerdekaan kepada Indonesia. Dimulai dari perkelahian di Hotel Yamato dimana Belanda malah memancing amarah rakyat Indonesia dengan mengibarkan bendera merah putih biru, hingga akhirnya harus menjadi faktor awal dari pertempuran pertama pihak Indonesia dan tentara Inggris. Jenderal Aubertin Walter Sothern Mallaby, saat itu merupakah salah satu brigadier yang memimpin pasukkan Inggris untuk memasuki Surabaya. Namun ia harus mengakhiri hidupnya ketika mobil yang ditumpangi Mallaby dicegat oleh pasukan Indonesia saat melewati jembatan. Tidak hanya itu, tubuh Mallaby ikut terbakar dengan mobilnya akibat adanya granat itu membuat tubuhnya sulit dikenali. Hal ini diduga menjadi hal yang memicu pertengkaran besar pada tanggal 10 November 1945. Pada hari itu, Inggris memerintahkan rakyat Surabaya untuk melakukan gencatan senjata sebelum pukul 06.00 dini hari. Namun Indonesia menolak ditindas lagi oleh pihak sekutu sehingga mereka melakukan perlawanan besar-besaran. Pertempuran itu menewaskan 20.000 masyarakat Surabaya, dan 1.500 orang pihak sekutu. Angka diatas mungkin memang berbanding jauh, namun itulah yang harus dikorbankan untuk mendapat kebebasan seutuhnya seperti sekarang.

Cerita singkat diatas merupakan cerita yang bersejarah bagi seluruh rakyat Indonesia. Sekutu yang dulunya melihat Indonesia sebagai bangsa yang lemah dan tidak berdaya, namun sekarang kita dikenal sebagai bangsa yang liar dan kuat. Pada hari 10 November 1945, seluruh Rakyat Indonesia bersatu tujuan dan tekad untuk melawan musuh mereka. Hal ini sungguh mengagumkan dan jasa-jasa mereka layak untuk dihormati. Jadi ketika kita renungi kembali, apakah kita layak untuk mengeluh hanya karena harus meluangkan waktu 1 jam di atas matahari, sedangkan mereka yang harus merelakan darahnya tercucur hanya untuk kepentingan generasi kita semua? Layaknya kita sebagai rakyat Indonesia mencintai bangsa kita dengan segenap hati dan rasa bersyukur atas apa yang kita punya. Bersama untuk melawan masalah-masalah yang ada, bukan malah merusaknya.

Nah, sekarang teman-teman sudah mengetahui mengenai cerita di balik 10 November 1945. Namun pada tahun 2020 harus mengalami beberapa perubahan dalam perayaan Hari Pahlawan dikarenakan adanya pandemi covid-19 ini. Upacara yang tidak dapat dilakukan secara langsung, berbagai lomba-lomba yang harus ditiadakan, dan masih banyak acara lainnya yang biasanya sudah menjadi ritual perayaan Hari Pahlawan. Berbagai pihak terus mencari solusi yang terbaik untuk tetap menanamkan butir-butir nasionalisme melalui ‘ritual’ Hari Pahlawan yang dilakukan secara virtual. Seperti beberapa waktu lalu ketika melakukan acara 17 Agustus’an, para warga setempat mengadakan suatu lomba kecil-kecilan yang tetap dipantau dengan protokol kesehatan yang luar biasa di salah satu perumahan di Jakarta. Tidak hanya itu, pemerintahan Jakartapun juga membatasi partisipasi peserta upacara di balai Kota pada untuk mencegah merebaknya Virus Covid-19. Dalam bentuk lain, Pemerintah Indonesia ikut mengeluarkan mata uang Rp 75.000,- yang merupakan suatu ‘kenang-kenangan’ untuk perayaan HUT RI-75tahun. Mata uang Rp 75.000,- hanya akan diberikan kepada mereka yang sebelumnya sudah mendaftar ke Website dan mengambilnya di konter yang telah ditentukan. Berbagai cara telah dilakukan, walaupun rasanya pasti bereda, namun hal ini seharusnya tidak boleh menghalangi kita sebagai Rakyat Indonesia untuk terus mencintai bangsa kita. Nasionalisme harus tetap dijunjung tinggi, baik melalui virtual maupun non-virtual.

Persatuan Indonesia adalah sesuatu yang menjaga Indonesia tetap harmonis dan tentram, maka marilah bersama mengintrospeksi diri kita sendiri, apakah kita sudah layak untuk menjadi rakyat Indonesia yang baik? Jangan menjadi seseorang yang tergiur dengan harta sehingga diam-diam melakukan korupsi. Jangan juga menjadi seseorang yang gila terhadap kekuasaan hingga harus menindas orang lain dibawahnya. Kita sendiri yang harus bergerak dengan semangat yang sama dengan para pejuang kita sebelumnya. Sebab kita adalah satu, satu Bangsa, Bangsa Indonesia, yang bersatu karena kita memiliki tujuan yang sama.

Cintai Negaramu, Junjung tinggi Nasionalisme!

Selamat Hari Pahlawan!

 

Daftar Pustaka

Junita, Nancy (2020, Agustus 17). Cegah Corona Upacara 17 Agustus di Balai Kota Diikuti 100 Orang. Bisnis.com. Diakses di https://jakarta.bisnis.com/read/20200817/77/1279970/cegah-corona-upacara-17-agustus-di-balai-kota-diikuti-100-orang-. 30 September 2020.

Febriani, Hani (2020, Agustus 18). Menangis saat Ikuti Upacara 17 Agustus 2020, Annisa Pohan Ungkap Perasan Rayakan HUT ke-75 RI. Diakses di https://www.pikiran-rakyat.com/entertainment/pr-01675361/menangis-saat-ikuti-upacara-17-agustus-2020-annisa-pohan-ungkap-perasaan-rayakan-hut-ke-75-ri?page=3. 30 September 2020.

Putri, Arum (2020, Maret 20). Kedatangan Sekutu dan Belanda pada Awal Kemerdekaan. Diakses di https://www.kompas.com/skola/read/2020/03/20/130000169/kedatangan-sekutu-dan-belanda-pada-awal-kemerdekaan?page=all. 30 September 2020.

Haryanti, Rosiana (2019, November 10). Hari Ini dalam Sejarah: Pertempuran 10 November dan Berbagai Pemicunya. Diakses di https://www.kompas.com/tren/read/2019/11/10/053400865/hari-ini-dalam-sejarah–pertempuran-10-november-dan-berbagai-pemicunya?page=all. 1 Oktober 2020.

Rochwulaningsih, Yety (2011, Agustus 2). MENGEMBANGKAN SPIRIT KEPAHLAWANAN DI KALANGAN MAHASISWA MELALUI MOMENTUM PERINGATAN HARI PAHLAWAN. Diakses di https://ejournal.undip.ac.id/index.php/cilekha/article/view/5040/4574. 1 Oktober 2020.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *