Negara dan Hoax Erdogan. Jawa Pos.29 Oktober 2018. Hal.4. Burhan Bungin_Dekan Fakulas Komunikasi dan Bisnis Media Universitas Ciputra: Guru Besar Bidang Ilmu Sosiologi Komunikasi.

Oleh Burhan Bungin

*)Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi dan Bisnis Media Universitas Ciputra, guru besar bidang ilmu sosiologi komunikasi

 

DALAM konteks sejarah, hoax adalah realitas sosial yang ada sejak manusia ada manusia ada. Bahkan, kisah iblis membohongi Adam dan Hawa maupun cerita-cerita hoax Hawa kepada Adam dalam cerita pohon khuldi di surga memberikan inspirasi dan tercatat di semua agama samawi sebagai hoax terbesar dalam sejarah umat manusia dan sejarah hubungan di antara makhluk-makhluk Tuhan.

Ketika masyarakat aktif menggunakan teknologi komunikasi seperti media sosial, hoax menjadi metode kebohongan yang langsung dikenal karena menunggangi media sosial sebagai medium penyebaran.

Kehadiran media sosial membuat orang dengan mudah menyebarkan hoax dalam skala yang luas setiap hari. Harapannya, hoax menjadi hantu sosial dalam keteraturan manusia. Tujuannya, mengganggu harmoni sosial.

Kelompok penyebar hoax itu menganggap ideologi masyarakat harmoni bukan sesuatu yang ideal. Sebab, menurut mereka, masyarakat akan stagnan dan tidak inovatif. Masyarakat yang selalu bergejolak, pikir mereka, akan mencapai kemajuan yang lebih tinggi.

 

Konstruksi Sosial Hoax

Apa yang dikontruksikan hoax tangisan adalah contoh bagaimana kontruksi sosial hoax itu di bangun oleh pihak tertentu dan dengan cepat sekali memenuhi ruang-ruang komunikasi kita.

Ada dua bentuk konstruksi sosial. Pertama, the social construction of reality, yaitu konstruksi sosial atas realitas yang digagas oleh Luckmann dan Petter L.Berger.

Konstruksi sosial atas realitas itu berproses melalui proses sosial sehari-hari antara guru-murid, orang tua-anak, kakak-adik, pelanggan-penjual, kiai-santri dan seterusnya. Melalui sosialisasi terus-menerus terbangun bangunan-bangunan konstruksi sosial tersebut.

Yang kedua adalah konstruksi sosial media massa. Hal itu lahir setelah masyarakat mengenal media komunikasi massa. Kekuatan media massa dan media sosial mampu menghantarkan kekuatan konstruksi sosial dalam waktu yang pendek, namun memiliki daya sebar yang luas, seluas-luasnya sesuai dengan kemampuan tbaran media massa dan media sosial itu.

Ciri utama konstruksi sosial media.

Tidak ada jaminan orang dalam kelas sosial apa pun akan steril dari pengaruh kekuatan konstruksi sosial hoax

Massa itu memiliki daya sebar yang luas dalam waktu singkat, memiliki kekuatan membangun konstruksi sosial yang kuat. Karena itu, dalam waktu yang singkat dan cepat, kekuatan konstruksi sosialnya mudah hancur bila ada alasan yang rasional mendekontruksi realitas sosial yang telah dikonstruksi sebelumnya, mudah digunakan untuk mengonstruksi realitas hoax yang dapat disalahgunakan oleh orang-orang yang ingin bermanfaatkan “mesin” konstruksi sosial media massa, dan hoax yang diciptakan konstruksi sosial media massa memiliki masa hidup yang pendek bila dibangdingkan dengan konstruksi sosial media massa itu sendiri.

Dalam hoax tangis Erdogan, yang terjadi adalah konstruksi sosial realitas media massa. Ketika suatu pihak memilih menyebarkan informasi bohong pada gambar Erdogan dengan menghapus wajahnya, kemudian hoax itu tersebar di media sosial sebagai berita Erdogan menangis, orang kemudian menghubungkan informasi tersebut dengan citra Erdogan sebagai pemimpin Islam yang baik.

Di masyarakat yang masi belum sadar literasi media, media sosial menjadi medium tumbuh kembangnya hoax secara dinamis dalam spektrum yang luas. Baik untuk menyerang sekelompok orang, lawan politik, maupun menyerang tokoh, agama, kelompok, etnis, serta institusi negara melalui delegitimasi kebenaran dan rekonstruksi kebenaran subjektif.

 

Negara dan Kecerdasan Komunikasi

Hoax tidak terlalu “bermanfaat” untuk masalah-masalah yang berkaitan dengan pribadi yang tidak memiliki akses kepada kekuasaan. Oleh karena itu, hoax selalu berbahaya jika digunakan untuk menyerang penguasa atau orang di sekitarnya.

Negara sesungguhnya lebih mampu dengan sempurna membuat hoax karena negara memiliki semua alat perlengkapan hoax. Bayangkan tatlaka seluruh aparat menggunakan kata “diamankan”. Padahal, kata tersebut justru berarti “tidak selamat”.

Kasus hoax Erdogan menangis, untuk yang kesekian, telah membuka mata kita bahwa media, terutama media sosial, merupakan inkubator hoax terbaik yang dimiliki masyarakat saat ini.

Tidak ada jaminan orang dalam kelas sosial apa pun akan steril dari pengaruh kekuatan konstruksi sosial hoax. Bahkan, negara pun suatu saat akan terkontaminasi dengan hoax manakala orang-orang di sekitar kekuasaan juga sudah terkena pengaruh. Inga kasus Ratna Sarumpaet?

Jadi, kita semua tidak memiliki kekuatan apa-apa melawan hoax kecuali memperkuat diri dengan kecerdasan komunikasi. (*)

 

Sumber : Jawa-Pos.29-Oktober-2018.Hal.4

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *