Nafsiah Mboi. Berani dan Merangkul Semua. Kompas. 29 Juni 2021. Hal.16

Seperti tak mengenal kata istirahat, Nafsiah Mboi masih sangat aktif di usia yang pada 14 Juli 2021 genap 81 tahun. Mulai dari menjadi pembicara diskusi daring hingga jeli mengkaji data kesehatan terbaru serta memberikan masukan kepada para pemangku kepentingan.

“Saya tetap belajar, banyak ikut di grup Whatsapp yang isinya anak anak muda dengan pemikiran yang segar. Saya suka kedokteran berbasis bukti,” kata Nafsiah dalam percakapan secara daring, Selasa 15/6/2021).

Kehadiran Nafsiah di forum-forum pertemuan kesehatan, baik luar jaringan (luring) maupun dalam jaringan (daring), selalu mendapat sambutan hangat dari audiens. Nafsiah yang murah senyum ini menjadi guru bagi banyak kolega tenaga kesehatan. Banyak yang bisa diteladani dari mantan pegawai negeri, aktivis, dan menteri itu, termasuk kegigihannya dalam upaya penanggulangan HIV di Indonesia, 30 tahun terakhir. Atas kiprahnya itu, ia meraih penghargaan Cendekiawan Berdedikasi Tahun 2021 dari harian Kompas.

Sejak ditempatkan sebagai dokter di Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), tahun 1964 sampai pensiun tahun 1997 dan menggapai puncak karier sebagai Menteri Kesehatan 2012-2014, pergulatan pemikiran dan kiprah Nafsiah tak bisa dilepaskan dari pengalaman dan penugasannya di NTT.

Perjalanan Ibu Naf, begitu beliau dikenal luas oleh kolega, di bidang kesehatan, dimulai setelah lulus Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) tahun 1964 dan ditempatkan di Ende sekaligus menjadi perempuan dokter pertama di daerah itu. Sementara sang suami, Brigjen TNI (Purn) alm Benedictus Mboi, MPH, menjadi dokter kabupaten (dokabu) di Ende dan Manggarai.

Setelah mengabdi tiga tahun di daerah, Nafsiah ingin melanjutkan studi ke jenjang dokter spesialis. Melihat perempuan-perempuan Ende senang diperiksa perempuan dokter, ia ingin menjadi dokter spesialis kebidanan dan kandungan.

Namun, saat itu ia tak boleh menempuh pendidikan dokter spesialis kebidanan dan kandungan. “Banyak alasannya. Katanya perempuan tak mungkin kuat, tak bisa kalau jagalah. Omong kosong saja itu semua,” katanya. Ia pendidikan dokter spesialis anak di FKUI, lulus 1971, dan memperdalam kesehatan anak di Rijksuniversiteit, Gent, Belgia, lulus 1972.

Menyandang gelar dokter anak, Ibu Naf kembali ke NTT dan bertugas sampai 1975. Pengabdiannya di NTT tak sampai di situ. Ia mendampingi suaminya yang terpilih menjadi Gubernur NTT tahun 1978-1988.

Ketika itu ia gencar terlibat dalam pemberdayaan perempuan. Sebagai istri gubernur, ia wajib mendukung program kerja suaminya yang ingin mengatasi kemiskinan. Ia fokus pada penanggulangan penyakit pada anak terkait dengan kemiskinan. “Ketika itu anggaran provinsi kecil sekali. Rakyatnya miskin dan sangat miskin serta layanan kesehatannya hanya kuratif. Obat tak ada,” ucapnya.

Dalam kondisi serba terbatas itu, Ibu Naf merangkul semua pihak untuk memulai gerakan promosi kesehatan dan pencegahan penyakit, terutama malaria, infeksi saluran pernapasan, dan diare. Mamak-mamak NTT lalu menjadi penggerak nya di tingkat masyarakat. Program imunisasi yang amat terbatas kaka itu digenjot hingga cakupan imunisasi dasar wajib mencapai 97 persen.

Untuk menjadi dokter yang baik, Nafsiah belajar banyak dari mendiang suaminya. Menurut dia, suaminya adalah sosok dengan pen dekatan humanis dan memiliki kemampuan komunikasi luar biasa. Ia mampu meyakinkan rakyat biasa hingga presiden di masa itu, Soeharto. Keterampilan itu berguna untuk merangkul dan meyakinkan ba nyak pihak.

“Saya bertemu suami di FKUI Saat itu, dia ketua panitia penyambutan mahasiswa baru, tapi baik, halus suaranya. Keluarga sempat tak setuju karena beda suku dan agama. Kami seribu kali putus, tapi seribu kali nyambung lagi. Kami sama-sama kerasa,” kenangi Naf.

Pembangunan kesehatan

Menurut dia, pembangunan kesehatan di Indonesia kurun waktu 1990-2019 banyak kemajuan. Angka harapan hidup meningkat, angka kematian bayi dan angka kematian ibu menurun. Sistem layanan kesehatan juga lebih tertata dan bahkan InDonesia kini memiliki program Jaminan Kesehatan Nasional yang memiliki peserta 224 juta penduduk.

Namun, transisi epidemiologi di mana penyakit tak menular kian mendominasi sebagai penyebab kematian meresahkan Nafsiah. Meski angka harapan hidup penduduk meningkat, angka harapan hidup sehat penduduk masih merisaukan.

Tahun 1990, angka harapan hidup Indonesia 69,4 tahun, sementara angka harapan hidup sehat 61,2 tahun. Kesenjangan angka harapan hidup (AHH) dan angka harapan hidup sehat (AHHS) itu melebar pada 2019, yakni AHH 73,5 tahun dan AHHS 62,9 tahun. Ketimpangan mutu hidup dan akses layanan kesehatan antardaerah amat timpang.

Minatnya terhadap analisis data beban penyakit membuat Ibu Naf kini terlibat aktif sebagai anggota dewan Institute for Health Metrics Evaluation (IHME) di University of Washington, Amerika Serikat.

Dia banyak diminta menempati posisi dewan penasihat atau dewan pertimbangan banyak organisasi.

Berani

Salah satu alasan Ibu Naf dikenal luas adalah keberaniannya berpendapat dan mengambil keputusan. Dalam isu pengendalian tembakau, misalnya, dia berani beradu argumen dengan organisasi petani tembakau bahwa rokok berbahaya dan perlu dikendalikan produksi serta peredarannya.

Keberaniannya juga terlihat dalam pengendalian HIV bidang kesehatan tempat ia mendedikasikan diri selama tiga dekade. Perkenalannya dengan penyakit infeksi bermula ketika ia bertemu dengan Guru Besar Epidemiologi Jonathan Max Mann, saat menjadi research fellow di Harvard University, Amerika Serikat. “Mulai dari enggak tahu persis apa itu HIV sampai akhirnya tertarik, ya, setelah bertemu dengan bapak program HIV, Jonathan Mann,” ujar Nafsiah.

Dia juga sempat mempelajari formulasi kebijakan kesehatan yang nondiskriminatif di Australia. Pengalaman itu mendorong Ibu Naf mencari formula penanganan HIV yang cocok di Indonesia.

Sikap berani Nafsiah terlihat saat menawarkan alat suntik steril gratis dan terapi metadon kepada para pengguna narkoba suntik saat menjadi Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Nasional. Sebuah keputusan yang kontroversial ketika itu. “Banyak orang takut menangani ini (HIV),” ujarnya.

Kemampuannya merangkul banyak pihak, termasuk kelompok berisiko, untuk menjadi pendidik sebaya dan laki-laki yang sering dilupakan dalam penanganan HIV, juga membuktikan bahwa pendekatan yang ia ambil sangat tak biasa di Tanah Air. Namun, justru pendekatan itu efektif sampai sekarang. “HIV akan tetap jadi ancaman sepanjang pendekatan moral lebih di kedepankan dibandingkan kesehatan masyarakat,” ujarnya.

 

Sumber: Kompas. 29 Juni 2021. Hal.16

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *