Moses Soediro, Dosen Culinary Business Pecinta Kopi. Jawa Pos. 20 Oktober 2018.Hal.7

DUNIA Moses Soediro seakan ditakdirkan tidak jauh-jauh dari memasak. Keluarganya punya bisnis kuliner turun-menurun. “Papa punya rumah makan sendiri sejak akhir 1990-an. Kakak ketiga saya juga bisnis kuliner,” kenang dosen Culinary Business Universitas Ciputra itu. Melihat koki meracik bumbu dan memasak bukan hal aneh buatnya.

Jalur kuliner pun dia tempuh ketika kuliah. “Terpaksa sebenarnya. Saya kuliah di Manajemen Perhotelan Universitas Kristen Petra karena biayanya lebih terjangkau,” ucapnya.

Awalnya, bungsu di antara empat bersaudara itu jemawa. Dia merasa, materi kuliahnya tidak jauh beda dari apa yang dia amati sejak kecil. Nyatanya meleset. “Nilai saya ada yang C+,” ungkap Moses, lantas tertawa.

Hal itu jadi lecutan buatnya. Passion di dunia masak perlahan tumbuh. Saat bagana, Moses memilih Belanda. “Saya pegang dapur, teman saya di bar. Nah, pas main di tempat teman, kenal kopi,” papar suami Ong Yuliana itu.

Moses langsung banting setir. Dia mendalami dunia kopi secara otodidak. Panduannya, mesin pencari Google dan kelas-kelas kopi yang diadakan komunitas.

“Belajar kopi itu enggak mudah. Di awal, saya merasa lidah saya bodoh,” kata ayah satu anak tersebut. Yang terlintas Cuma rasa asam dan pahit kopi. Aromanya pun Cuma satu: wangi kopi.

Dia belum bisa membedakan after taste, rasa dan aroma yang tercecap setelah kopi diminum. Moses baru benar-benar bisa “mendedah” aroma dan rasa minuman yang identik dengan rasa pahit itu pada 2008. “Lagi-lagi, karena diajak. Saya diajak saudara nyicip kopi,” katanya.

Moses menilai, agar rasa kopi benar-benar menjejak, kopi harus dihirup perlahan. Tidak bisa langsung ditenggak bak air putih.

Buat dia, dunia kopi adalah dunia yang penuh warna. Meski, sama-sama berasal dari bijian yang disangrai, rasa dan aroma bisa berbeda. Asal menentukan rasa, teknik menyeduh pun ikut berpengaruh.” Kita manasin air buat kopi kurang panas aja, rasanya beda. Kopi belum matang, jadi kembung,” ucap Moses.

Sebegitu cintanya, stok kopi alumnus Christelijke Hogeschool Nederland (CHN, kini Stenden University, Red) itu ada di mana-mana. Di kantor, di lab kopi, hingga rumah. Lengkap dari bijian, penggiling kopi mini, sampai alat seduhnya.

Moses menyatakan, dirinya tidak terlalu rewel tentang pilihan kopi yang harus diseduh. Selama bukan kopi instan, apalagi yang ditambah dairy creamer, pasti dia minum.

Kini Moses tidak sendiri menikmati kopinya. Dia melatih putranya Darren Jonathan Soediro ikut cinta kopi. Meski baru berusia 19 bulan, Darren sudah suka kopi. Tanpa gula, tanpa susu. Khusus si kecil, dia membuat seduhan paling light. Dimulai dari sesendok teh, kini putranya bisa menikmati kopi. Bahkan, Moses menilai, berpotensi jadi saingannya.

“Kalau dengar saya nggiling kopi, pasti noleh. Jadi, kalau minum, saya harus sembunyi-bunyi,” papanya. Soalnya, Darren bisa mengambil jata kopinya. Moses menyatakan, kopi buat si kecil tidak diberikan terlampau sering. Cukup sekali seminggu. “Bagus buat pembuluh darah. Bisa mencegah step juga,” imbuh Moses.

Moses membatasi konsumsi si hitam, tidak peduli betapa sukanya dia dengna kopi. “Kalau pakai takaran espresso, paling pol 3-4 cangkir. Kalau kebanyakan, nanti ketergantungan,” tegasnya. Dan, dia tidak mau jadi ketergantungan. (fam/c25/jan)

Sumber : Jawa-Pos.20-Oktober-2018.Hal.7

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *