Mode Berkelanjutan dengan Batik Pasuruhan. Jawa Pos. 9 Januari 2020. Hal.19. Geraldus Sugeng

SURABAYA, Jawa Pos – Konsep sustainable fashion terus digaungkan. Makin banyak yang concern menerapkan prinsip-prinsip mode berkelanjutan dan ramah lingkungan itu. Mulai, pembuatan hingga pemakaian busana. Desainer sekaligus dosen Jurusan Fashion Product Design Universitas Ciputra (UC) Geraldus Sugeng mengatakan, ada beberapa prinsip yang diterapkan dalam sustainable fashion.

Pertama, desain tak boleh menghasilkan sisa kain hingga menjadi sampah. Seluruh kain yang dimiliki harus digunakan dengan maksimal. Selanjutnya, pola yang dibuat tidak terlalu rumit sehingga mudah diwujudkan dengan bahan-bahan yang dimiliki. Desain yang dibuat harus everlasting. Pengguna bisa mengenakannya hingga bertahun-tahun tanpa takut disebut “mati gaya”. “Biasanya desain yang simpel lebih bertahan lama,” sahut Soelistyowati, koordinator Jurusan Fashion Product Design UC.

Saat ini Sugeng dan Lilis – sapaan Soelistyowati – membimbing lima pembatik Pasuruan untuk menyelami konsep sustainable fashion. Mulai belajar anatomi tubuh, membuat pola sesuai kain yang dimiliki, hingga mewujudkannya menjadi busana.

Sustainable fashion makin utuh jika dibuat dengan bahan-bahan yang ramah lingkungan pula. “Pas dengan batik Pasuruan yang menggunakan pewarna alami,” ucap Lilis. Pewarna alami yang digunakan, antara lain, berasal dari kayu, akar pohon, dan beberapa jenis daun. “Sehingga limbahnya juga tidak merusak lingkungan,” jelas Sugeng.

Melalui program itu, Lilis maupun Sugeng berharap peserta bisa menyebarkan ilmunya kepada para pembatik lain di daerah asal mereka, “Dengan begitu, gerakan sustainable fashion ini makin meluas,” tutur Lilis (dva/c20/nor)

 

 

Sumber: Jawa Pos, 9 Januari 2020.Hal.19

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *