Mitos dan Realita Ronggeng. Surya.16 Oktober 2020. Hal.6. Rachel Urapi. Library

DALAM memperingati Dies Natalis yang ke52 Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung bekerja sama dengan Museum Ullen Sentalu, Perpustakaan Universitas Ciputra Surabaya, serta Center for World Dance Studies ISI Surakarta menyelenggarakan International Conference on Ronggeng: Myth & Reality. Kegiatan yang diadakan pada Rabu (7/ 10/2020) secara daring melalui Zoom itu dihadiri lebih dari 200 peserta dari dalam negeri maupun luar negeri.

Kegiatan dibuka dengan sambutan oleh Een Herdiani, Rektor ISBI Bandung. Ia menyampaikan. kegiatan itu bertujuan untuk melestarikan budaya di Jawa Barat, yaitu ronggeng dan melihat perspektif lain dari seni tari Ronggeng. Setelah sambutan, para peserta disuguhkan penampilan dari Nur Fitriyani yang membawakan Tari Gaplek secara langsung dari Teater Sunan Ambu di ISBI Bandung.

Agenda selanjutnya adalah sesi pemaparan bersama dengan Daniel Haryodiningrat, Director of Ullen Sentalu Art, Culturc and Nature Museum Yogyakarta, selaku moderator. Pada pembuka sesi, ia menjelaskan dalam acara itu akan diternukan jawaban bagaimana perkembangan Ronggeng dahulu dan sekarang serta hal apa yang membuat Ronggeng memiliki stigma negatif di masyarakat. Kathy Foley sebagai pemateri pertama membawakan tema “Women’s Performance: South East Asian Patterns”. Kathy mempresentasikan mengenai pertunjukan wanita di Asia Tenggara yang memiliki 3 penggambaran yang berbeda saat pertunjukkan yaitu berdasarkan gender, usia, dan kelas.

“Seperti dalam pertunjukkan pada laki-laki, biasanya mempertunjukkan cerita peperangan yang lebih menonjolkan cerita hidup dan mati. Itu berbeda dengan pertunjukan perempuan yang menyajikan cerita dalam pesta panen yang biasanya ada unsur melodrama”, tuturnya.

Dalam sesi selanjutnya Henry Spiller membawakan materi “Music & Dance Perspective”. Dalam pemaparannya dijelaskan terdapat tiga elemen yang berkaitan dalam sebuah pertunjukan tari Ronggeng, yaitu ronggeng sebagai sebuah pertunjukan profesional. alunan kendang yang memberikan efek suara, dan bajidor atau para penikmat tarian ronggeng. Ketiganya berkaitan dan kombinasi itu tidak akan berubah meskipun terus ada perkembangan di dunia tari.

Pembicara terakhir adalah Endang Caturwati dengan tema ‘ Ronggeng: Now and Then”. Pada sesi pemaparan, ia menjelaskan, ronggeng adalah hal yang kompleks karena berkaitan dengan perempuan. Dulu ronggeng dianggap tabu dan memiliki citra negatif, namun sebenarnya ronggeng memiliki arti penting bagi kehidupan di tengah masyarakat. Ronggeng adalah sosok perempuan pekerja keras yang multiperan. Mereka adalah sosok yang penuh cinta kasih kepada keluarga dan mempunyai tanggung jawab masa depan bagi anak-anaknya.

Pada agenda selanjutnya, peserta kembali disuguhkan dengan penampilan secara langsung oleh seniman Sunda. Bunga Dessri Ghaliyah dan Raden Bangun Nurraga. Keduanya membawakan komposisi berjudul Swastria.

Diskusi dipandu oleh Daniel Haryodiningrat dan \Nrasi Bantolo. Head of International Program in ISI Solo and head of Center for World Dance Studies. Pada sesi itu, para peserta juga diberi kesempatan untuk memperoleh pemaparan dari Ahmad Tohari. Ia sastrawan, budayawan, dan penulis buku Ronggeng Dukuh Paruk yang diadaptasi ke dalam film dengan judul Sang Penari.

Sebagai penutup kegiatan International Conference on Ronggeng, Een Herdiani mengucapkan terima kasih bagi seluruh pihak yang turut mendukung kegiatan ini untuk melestarikan budaya Jawa Barat. “Ngamumule tradisi,” ujarnya dalam bahasa Sunda.

Itu merupakan pesan yang disampaikan beliau kepada para peserta untuk berarti memelihara baik-baik tradisi yang dimiliki. Acara kemudian ditutup dengan menari Ronggeng bersama dengan dipandu oleh Een Herdiani dan para penampil.

*RACHEL URAPI (Staf Perpustakaan Universitas Ciputra)

 

Sumber: Surya. 16 Oktober 2020, Hal.6

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *