Mewujudkan Museum Berdaya Saing. Bali Pos. 15 Oktober 2020. Hal.1. Dewa.GS. HTB

Oleh Dewa Gde Satrya (Penulis, dosen Hotel & Tourism Business, Universitas Ciputra Surabaya)

SEJAK 2015, setiap 12 Oktober dirayakan sebagai Hari Museum Nasional. Akar dari perayaan itu adalahpertemuan permuseuman se-Indonesia di Yogyakarta pada 12-14 Oktober 1962. Sejarah tersebut menjadi dasar penetapan Hari Museum Nasional yang disahkan pada Musyawarah Museum seIndonesia di Malang pada 26- 28 Mei 2015. Perhelatan Hari Museum Nasional memiliki arti penting bagi permuseuman di Indonesia khususnya pada masa pandemi Covid-19 ini, yang juga memperkuat industri pariwisata.

International Cound of Museums mendefinisikan museum sebagai institusi permanen, nirlaba, melayani kebutuhan publik, dengan sifat terbuka, dengan cara melakukan usaha pengoleksian, mengonservasi, meriset, mengomunikasikan, dan memamerkan benda nyata kepada masyarakat untuk kebutuhan studi dan kesenangan. Dilihat dari sisi definisi, maka museum sebenarnya tidak dimaksudkan untuk mencari keuntungan. Sebagai destinasi wisata, museum memiliki tujuan berganda, selain untuk bersenang-senang juga untuk belajar. Karena itu, dalam peringatan Hari Museum Nasional 2020, patut dikemukakan upaya-upaya untuk memastikan keberlanjutan dan pertumbuhan museum di Indonesia di masa yang akan datang.

Fakta bahwa museum di Indonesia sulit berkembang, ticlak hanya dari sisi market yang kurang memberi apresiasi, tetapi juga jaminan atas keselamatan dan keamanan koleksikoleksi museum yang sangat berharga. Acapkali koleksi museum menjadi sasaran pencurian, yang diduga dilakukan oleh jaringan yangprofesional. Salah satunya, empat artefak kuno abad ke-10 peninggalan Majapahit dan Mataram Kuno milik Museum Nasional Jakarta diketahui hilang. Dari keempat koleksi emas yang hilang itu, tiga koleksi merupakan benda peninggalan situs Petirtaan Jalatunda di Kabupaten Mojokerto, yakni lempeng emas Naga Mendekam berukuran 5,6 cm x 5 cm dengan inskripsi yang sudah aus, lempeng bulan sabit beraksara dengan ukuran 8 cm x 5,5 cm, dan satu wadah bertutup atau cepuk berukuran diameter 6,5 cm dengan tinggi 6,5 cm. satu benda lain adalah peninggalan situs Candi Belahan di kaki Gunung Penanggungan, yaitu lempeng Harihara berbahan emas dan perak. Pada lempeng berukuran 10,5 cm x 5,5 cm ini terdapat lukisan arca Harihara yang berdiri di atas bantalan teratai ganda.

Peristiwa itu dapat dimaknai dengan menggugah kembali kesadaran publik akan pentingnya museum bagi peradaban bangsa. Museum memegang peran vital dan strategis dalam mengurai dan mengatasi persoalan kebangsaan yang berdampak pada eksistensi dan masa depan bangsa Indonesia di antara bangsa-bangsa di dunia, erat kaitannya dengan keberlanjutan sejarah bangsa yang melalui koleksi yang dimiliki, pengunjung diajak untuk meningkatkan rasa bangga sebagai bangsa Indonesia sekaligus meneladani nilai yang terkandung dalara produk budaya yang dipamerkan.

 

Revitalisasi

Pada tahun 2009, Menteri Pariwisata saat itu Jero Wacik, pada saat memberikan penghargaan APWI 2009 kepada insan pers yang berjasa bagi pariwisata Indonesia menyatakan jumlah kunjungan masyarakat ke 275 museum di seluruh Tanah Air sekitar 4,2 juta setiap tahun. Pemerintah RI opiimis 
antara tahun 2009-2014 terjadi penurunan 
kondisi museum Indonesia yang tidak layak 
kunjung dari 90% menjadi 50% layak

dikunjungi (budpar.gold).

Hambatan lain adanya persepsi dominan dan nilai yang salah kaprah di masyarakat, menyebabkan museum tersipu malu untuk hadir, menawarkan diri dan mendekati “pasar” dengan rasa percaya diri yang tinggi. Jarang kita melihat ada promosi, selebaran atau brosur museum yang tersebar dengan tampilan yang”menggoda”. Mcskipun alasan keterbatasan dana promosi kerap dikambinghitamkan menjadi penyebab rendahnya “promosi” perpustakaan dan museum, namun alasan sebenarnya yang implisit adalah ketidakpercayaan diri menembus permainan “pasar” dan peradaban modern yang tidak mudah menerima kehadiran museum dan hal-hal yang berkait erat dengan sejarah.

Di kalangan pengelola masih terjebak pada pemikiran museum sebagai institusi sosial, nirlaba dan sejenisnya yang tidak perlu mempromosikan diri. Meskipun mulai ada tanda gerakan “museum mengundang”, skema kegiatan yang terencana dengan baik yang menyertai gagasan tersebut belum terbentuk dengan jelas. Upaya mempromosikan diri seharusnya tidak berhenti hanya dengan publikasi, namun disertai dengan peningkatan daya saing dalam hal pelayanan dan kualitas produk yang ditawarkan yang memang mampu memikat kunjungan masyarakat.

Sekadar contoh dari entitas sosial lain yang mirip dengan museum, yakni perpustakaan, yang berhasil meninggalkan paradigma keliru tentang lembaga non-for-profit berpotensi menjadi perpustakaan yang maju tanpa harus kehilangan jati dirinya sebagai pengabdi masyarakat. Saat ini banyak dikembangkan kegiatan di perpustakaan yang memang dimaksudkan untuk mencari keuntungan. Seperti penyelenggaraan pelatihan, layanan penyewaan internet, layanan penelusuran literatur, fotokopi, document supply, konsultansi, penjualan produk, dan sebagainya. Yang penting adalah keuntungan yang didapatkan tidak boleh dibagi-bagi kepada pegawai ataupun sta,keholders, namun dikembalikan lagi untuk kepentingan pengembangan unit perpustakaannya (Saleh, 2002).

Di bagian lain, data yang diperoleh dari website menunjukkan bahwa pada tahun 2004, British Museum, Inggris, memperoleh keuntungan lebih dari 20 juta poundsterling. Museum di negara maju lainnyajuga membuka cara pandang kita tentang museum sebagai organisasi nirlaba. Museum of Art di Prancis menghasilkan sekitar US$ 13 juta tahun 2006, Smithsonian Museum menghimpun keuntungan sebesar US$ 167 juta pada tahun 2007 (Museografi, Oktober 2008).

Eksistensi museum bukan menjadi hal yang penting (primer) di masyarakat, maka pengelolaannya pun terkesan tidak total. Berbagai pengalaman dalam kunjungan ke museum dan kajian penelifian, menunjukkan buruknya layanan kepada pengunjung. Saatnya museum di Indonesia ditingkatkan daya saingnya dengan memperbarui dan memperbaiki pengelolaan sebagaimana diuraikan di atas. Selamat Hari Museum Nasional 2020.

 

Sumber: Bali Pos. 15 Oktober 2020. Hal. 1

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *