Maman Sulaeman Meronda Bencana Menyelamatkan Warga

 

Meronda Bencana Menyelamatkan Warga. Kompas.11 April 2016.Hal.16

Hidup di daerah rawan longsor di Dusun Bangbayang membuat Sulaeman waspada. I sering ronda sendirian keatas bukit saat hujan tiba untuk membaca tanda-tanda alam yang hendak murka. Aktivitas yang menyerempet bahaya itu terbukti bisa menyelamatkan nyawa warga.

Sabtu pukul 17.00 di akhir Maret. Hujan menitik dan kmembasahi lahan-lahan di Dusun Bangbayang, desa Bungurberes,Kecamatan Cilebak,Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Terlihat senyumnya mengembang. Padahal, satu jam sebelumnya, ia dan 200 warga RT 010 dan RT 11 di sergap rasa takut lantaran alarm peringatan bencana menyalak.

‘’Awas, tanah longsor! Evakuasi…evakusi!’’

Warga yang sedang beraktivitas sontak berlarian. Mereka berlombaan menuju tempat yang aman setelah perintah evakuasi terdengar. Maman berada paling belakang ketika semua warga sudah sampai di titik kumpul, tempat aman. Pemuda desa yang menjadi relawan bencana itu memastikaan tidak ada lagi warga yang berdiam di rumah ketika alarm peringatan bencana berbunnyi

Setelah itu, bersama sejumlah warga, Maman mengecek sejumlah bagian atas bukit yan gberjaraj lebih dari 1 kilometer dari permukiman warga, ‘’Alhamdulillah, tidak ada longsor. Mungkin ada monyet yang menginjak alat pendeteksi longsor sehingga berbunyi,’’ ujar Maman, pemuda dusun berusia 31 tahun itu.

Alat pendeteksi itu berupa kotak ukuran 30 cm x 40 cm dan tebal sekitar 10 cm yang di tanam di dalam tanah. Ada tiga alarm yang di pasang sejak 2015 di Dusun Bangbayang yang merupakan daerah rawan longsor.

Ketika alarm tersebut di hubungkan dengan sirene yang di passng di astap rumah. Jika terjadi gerakan tanah, alarm akan berbunti memperingatkan warga.

‘’Keberadaan alarm itu sangat membantu karena warga bisa cepat di evakuasi saat terjadi gerakan tanah,’’ kata Maman mengenai alat yang di pasang Badan Nasional Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kuningan, dan Universitas Gadjah Mada Tersebut.

 

MEMANTAU LANGSUNG

Meski keberadaan alat pemantau longsor sangat membantu, Maman tidak mau hanya mengandalkan alat tersebut. Belajar dari kearifan lokal, Maman mengetahui tanda-tanda bakal terjadi longsor, antara lain mengalirnya air dari celah-celah tanah yang berbeda dari biasanya.

 

MAMAN SULAIMAN

  • Lahir: Kuningan, 15 Oktober 1984
  • Pendidikan:
  • SDN Bangbayung, Kuningan
  • SLTP Cilebak, Kuningan
  • SMK Pertiwi Kuningan
  • D-2 Perpustakaan Universitas Terbuka, Kuningan
  • Istri: Ita Nurbayati
  • Pekerjaan:
  • Relawan BPBD Kuningandi Dusun Bangbayang, Penjaga SDN 2 Bungurberes
  • Ketua kelompok Tani Kesambi Subur

 

Oleh karena itu setiap hari Maman memantau atau ‘’meronda’’ perbukitan yang ada di desanya. Apabila ada tanda-tanda alam yang tak lazim, ia akan meningkatkan kewaspadaan dan meminta warga desa lebih siaga. Kebisaan itu di lakukan secara rutin sejak tahun 2010.

Tak hanya itu. Maman juga menggerakkan pemuda desa untuk sama-sama memantau longsor. Jika ada tanda-tanda yang mencurigakan atau indikasi bajkal terjadi longsor, mereka saling berkomunikasi menggunakan handy talky (HT).

Sebagai pencegahan, ia juga mengajak warga desa sama-sama menanam pohon di perbukitan yang gundul. Maklum saja, sejak sekitar lima tahun yang lalu, perbukitan di desa yang terletak di lereng Gunung Ceremai itu pohonnya banyak di tebang. Akibatnya, warga merasakan dampaknya yang berupa tanah longsor yan gkerap terjadi. Kini, warga di ajak bersama-sama menanam pohon keras untuk menghijaukan bukit sekaligus  mence3gah longsor.

Ronda Bencana

Di desa Bungurberes yang berada sekitar 600 meter di atas permukaan laut, Maman di kenal sebagai relawan penanggulangan bencana. Setiap tahun, saat nmusim hujan tiba, Maman berjalan ke bukit untuk memeriksa tanda-tanda bahaya. Kadang ia di temani rekannya, Robby dan Jefri.

Apa yang mendorong Maman menjadi relawan?  Ia sadar benar bahwa Dusun tempat tinggalnya masuk dalam zona merah bencana longsor. Karena itu, ketika musim hujan tiba, banyak warga yang memilih meninggalkan dusun. Sebagian lagi merantau agar terhindar dari bencana sekaligus mencari kehidupan yang lebih baik.

Maman pun pernah sekali merantau ke kepulauan Riau pada 2002 sampai 2005 setelah menamatkan pendidikan D-2 Perpustakaan Universitas Terbuka, Kuningan.  Akan tetapi, ia memilih kembali ke kampong halamannya dan hidup di tengah zona bahaya. Ia sempat mengajar sejumlah mata pelajaran di sekolah. Namun, itu tak bertahan lama. Ia memilih banting setir untuk menjadi penjaga sekolah dengan bayaran seadanya.

‘’Buat saya, lebih baik jadi penjaga sekolah. Saya jadi punya waktu untuk mkengecek ancaman bencana. Kalau upah sebagai penjaga sekolah, nggak usah di tanyalah. Pokoknya ada saja,’’ ujar maman yang sampai sekarang masih tinggal di rumah mertuanya.

Waktu luang yang cukup banyak di manfaatkan Maman untuk belajar membaca tanda-tanda bencana. Suatu hari di musim hujan 2010, misalnya, ia melihat tanda-tanda aneh. Sejumlah rekahan tanah muncul di bukit yang ada di desanya. Awalnya ia merasa penasaran. Setelah itu ia jadi curiga, dan waspada.

Menjelang tahun 2012, kecemasan Maman akan bahaya longsor semakin menguat. Sebuah pipa saluran air terlepas. ‘’Setelah  di pasang kembali.eh sorenya kembali terlepas. Air juga tidak mengalir. Artinya, tanah longsor menimpa pipa,’’ ucapnya.

‘’jam satu malam, saya enggak tidur. Saat mendekatkan telinga di lantai, seperti ada getaran ,’’ ujar Maman mengisahkan. Bersama sejumlah warga, ia melaporkan ke BPBD Kuningan. Warga Dusun  Bangbayang pun di evakuasi,’’ kenang maman.

Keesokkan harinya longsor hebat seluas 3,5 hektar melahap setidaknya 10 rumah warga dan warga satu RT di evakuasi. Berkat Maman dan sejumlah warga yang di tanggap bencana, taka da korban jiwa dalam bencana itu.

‘’untung saja ada Maman yang menjaga dusun Bangbayang,’’ ucap Andry Kusnadi, relawan BPBD di kecamatan Cilebak yang menjadi rekan sekaligus senior Maman dalam urusan tanggap darurat longsor.

Sejak kejadian itu, niat Maman menjadi relawan bencana kian mantap. Gayung pun bersambut. Ia di angkat sebagai relawan BPBD Kuningan.

Kerja keras Maman sebagai relawan yang tanpa pamrih mulai memperlihatkan hasil. Warga yang tinggal di zona merah kini tahu kapan harus mengevakuasi diri

KELOMPOK KESAMBI SUBUR

 Meski alarm tanpa peringatan bencana dan jalur evakuasi telah ada di Dusun Bangbayang, terror longsor tidak berarti sirna. Alarm dan jalur itu sekedar sarana yang membantu warga untuk menghindar dari resiko bencana. Penyebab longsor sendiri, yakni pengungdulan bukit, belum teratasi.

Maman dan sejumlah warga berusaha mengatasi bencana longsor langsung dari sembernya. Pada tahun2012, ia merintis  usaha penanaman kembali bukit yang gundul.

Ia memulai langkah dengan mendirikan kelompok tani Kesambi Subur lengkap dengan aktanya. Tujuannya bukan untuk mendapatkan bantuan, melainkan mendapat penyuluhan. Maman ingin warga Bangbayang yang 75% adalah petani di ajari teknik pola tanam padi dan penanaman pohon di daerah rawan longsor.

Pada tahun itu juga, kelompok tani itu mendapatkan sumbangan sekitar 40.000 bibit tanaman sengon atau albasia yang di masyarakat sunda di sebut  jeunjing ( Albizia falcataria). Maman menunjukkan sejumlah pohon albasia yang mulai tumbuh di bekas kawasan yang di lahap longsor hebat pada tahun 2012.

Tumbuhnya pohon-pohon albazia itu membuatnya sangat bahagia. Ia tahu, ketika bibit albasia itu tumbuh menjadi pohon-pohon besar, terror longsor pun berangsur-angsur akan sirna.

 Sumber: Kompas, Senin 11 April 2016, Halaman 16

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *