Merajut Kembali Pariwisata Sunda Kecil. Kontan. 11 Agustus 2018.Hal.19. Dewa Gde Satrya_Dosen Fakultas Pariwisata Universitas Ciputra

Oleh Dewa Gde Satrya Dosen Fakultas Pariwisata Universitas Ciputra

 

Pasca gempa yang terjadi di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan kembali lagi terjadi, efeknya sampai ke Bali. Ini mengingatkan ketertarikan dua pulau tersebut yang dulu Sunda Kecil, bersama jajaran pulau di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Gema persatuan dan saling bahu membahu dalam membagi rezeki dari sektor pariwisata di antara kepulauan Sunda Kecil, pernah terbersit pada proyek sosial, memenangkan Komodo menjadi tujuh keajaiban dunia baru berapa tahun lalu. Kini, gagasan kerjasama bekas wilayah Sunda Kecil (Bali, NTB dan NTT) patut diseriusi lagi.

Bulan Januari 2009, kerja sama antara tiga provinci di wilayah Sunda Kecil itu pernah dirintis. Meliputi bidang pariwisata, perdagangan, pertanian dan peternakan, kesehatan, kerukunan hidup beragama serta memperjuangkan kepentingan yang berkaitan dengan isu regionalisasi yang selama ini hanya terfokus pada Jawa dan Bali.

Wilayah Bali, NTB dan NTT sebelumnya tergabung dalam Provinsi Sunda Kecil berdasarkan PP No. 21/1950 (Lembaran Negara Tahun 1950 No. 59) yang kemudian berubah menjadi Nusa Tenggara berdasarkan UU Darurat No. 99/1954 yang kemudian ditetapkan dengan UU tanggal 6 Februari 1958. Berdasarkan UU No. 64/1958, Provinsi Nuga Tenggara dibagi dalam tiga daerah yakni Swatantra Tingkat I, yakni Daerah Swantantra Tingkat I Bali, Daerah Swatantra Tingkat I Nusa Tenggara Barat dan Daerah Swatantra Tingkat I Nusa Tenggara Timur.

NTB memiliki destinasi wisata internasional seperti Gunung Rinjani dan Tambora. Desa Wisata Sade juga memiliki potensi besar untuk menarik kunjungan wisatawan. Secara topografi, provinsi NTB yang memiliki dua pulau-Lombok dan Sumbawa-yang oleh pemprov setempat telah ditetapkan 15 objek dan daya tarik wisata (ODTW), yaitu sembilan di Pulau Lombok dan enam di Pulau Sumbawa. Di antaranya yang populer, Panti Senggigi dan Gili Trawangan.

Pulau yang biasa di sebut sebagai Pulau Seribu Masjid ini semakin banyak mengundang perhatian wisatawan asing. Kehadiran Lombok-Sumbawa dalam pentas industri dan destinasi wisata di Tanah Air berdampak strategis bagi Indonesia, khususnya dalam hal persebaran dan pemerataan ODTW unggulan. Data kunjungan wisatawan asing ke NTB tahun 2008 mencapai 450.000 orang, tahun 2009 naik 500.000 orang, melonjak menjadi 3,5 juta orang pada thaun 2017.

Pengemasan dan penjadwalan event wisata reguler berperan penting mendongkrak kunjungan wisatawan ke NTB. Misalnya, dua event akbar pariwisata, yakni Lombok Sumbawa Pearl Festival dan Indonesia MICE & Corporate Travel Mart (IMCTM) yang pernah digelar di The Santosa Villas & Resort Senggigi, Lombok.

 

Metode THIO

Sementara itu, NTT memiliki keunggulan destinasi wisata Pulau Komodo, termasuk Pulau Gili Lawa yang minggu lalu dikabarkan terbakar, danau tiga warna Kelimutu di Ende, taman aut sekitar Labuan Bajo di Manggarai Barat, Riung di Ngada, Teluk Maumere di Sikka dan Pulau Kepa di Alor. Di Sumba ada pesona megalitik, tenun ikat dan pasola atau perang tanding sambil mengendarai kuda dan Timor dengan banyak objek petualangan. NTT sendiri ditetapkan sebagai gerbang Asia-Pasifik berbasis pariwisata, seni, dan budaya yang spesifik.

Karena itu, tak salah jika gugusan kepulauan Sunda Kecil ini menjadi kekuatan baru bagi periwisata Indonesia yang jika disatukan akan lebih memperkuat satu dengan yang lain,  terutama pada momen duka lara gempa saat ini.

Jika dapat difokuskan, kerjasama pariwisata Sunda Kecil dengan memperkuat aspek “THIO” yang mensyaratkan sharing keunggulan satu daerah kepada daerah lain. Dengan memodifikasi sesuai kebutuhan kepariwisataan di Tanah Air, metode THIO yang dikenalkan Prof.Nawaz Sharif dari Pakistan yang terdiri dari technoware (T), humanware (H), infoware (I), dan orgaware (o) itu lain untuk diterapkan dan dikembangkan di NTB dan NTT khususnya.

Komponen pertama, yang di maksud technoware (T) adalah fasilitas fisik termasuk segala sesuatu yang terkait peralatan, mesin, teknologi yang digunakan dan sejenisnya. Unsur ‘T’ ini terutama menunjang kita melakukan peningkatan kualitas layanan kepariwisataan dan mendongkrak kinerja promosi di luar negeri. Kita meyakini, promosi secara online memiliki dampak yang signifikan untuk mempercepat penguatan branding destinasi Indonesia sebagai tujuan wisata internasional.

Maka, website, search engine optimation bagi pencarian kata kunci tertentu yang ditargatkan terkait dengan destinasi wisata daerah, layanan registrasi perjalanan wisata secara on-line, dan sebagainya, perlu diperkuat. Webside pariwisata NTB dan NTT yang sejauh ini dikelola Pemda, menjadi semakin penting distandardisasi sesuai kebutuhan dan daya tarik wisatawan asing.

Jika memungkinkan, dapat mencontoh yang dilakukan Surabaya melalui Surabaya Tourism Mobile Service (STMS). Fasilitasi ini bisa diakses melalui telepon seluler. STMS memberikan informasi mengenai peta, berbagai tujuan wisata, dan berbagai informasi guna mempermudah wisatawan melakukan perjalanan wisata secara aman, nyaman dan menguntungkan di Surabaya.

Kedua, humanware (H), yang terkait dengan kemampuan manusia seperti halnya keterampilan, keahlian, dan sejenisnya. Sumber daya manusia (SDM) di tiga daerah itu perlu semakin ditingkatkan, baik dalam hal kualitas maupun kuantitasnya.

Komponen ketiga infoware (I) yang terkait penguatan dalam akses informasi dan ilmu pengetahuan terkini menyangkut isu pariwisata global. Seperti soal sustainable tourism, green tourism dan responsible tourism yang menjadi sorotan publik dunia. Isu sensitif kepariwisataan global tidak Cuma diketahui tapi diimplementasikan. Penerapan ini bisa menjadi semacam nilai baru yang teramat berharga untuk menarik kunjungan wisatawan asing.

Komponen terakhir adalah orgaware (O) terkair jaringan organisasi dan manajemen praktis kepariwisataan. Berbagai stakeholder kepariwisataan di Bali, NTB, dan NTT perlu semakun memperkuat kinerja organisasi mereka guna membangun bersama-sama kepariwisataan Sunda Kecil. Lebih-lebih, pemanfaatan organisasi sosial kemasyarakatan dan kepemudaan yang mungkin selama ini belum banyak dilibatkan, perlu dicarikan peluar untuk turut serta menjadi bagian penting dalam kepariwisataan Sunda Kecil. Hal ini menjadi harapan di tengah duka gempa.

Sumber : Kontan.11-Agustus-2018.Hal.19

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *