Menyelamatkan Rupiah Lewat Wisata Lokal. Kontan. 6 September 2018.Hal. 23_I Dewa Gde Satrya.IHTB

Oleh Dewa Gde Satrya (Dosen Bisnis Hotel dan Wisata Fakultas Pariwisata Universitas Ciputra Surabaya)

 

Pelemahan nilai rupiah atas dollar Amerika Serikat (AS) pada hari selasa (4/9) mencapai Rp 14.897, membutuhkan perubahan signifikan pola berwisata warga Indonesia. Ada 6,2 juta orang indonesia yang melancong ke luar negeri pada tahun 2010, melonjak drastis pada tahun 2016 menjadi 8,4 juta orang dan 9,1 juta orang pada tahun 2017 lalu. Tujuan perubahan pola berwisata ke lokal untuk menghemat devisa dollar AS.

Di sisi lain, momentum ini menjadi dara tarik tersendiri bagi wisatawan manca negara untuk datang ke sini. Kunjungan turis asing year on year pada Juni lalu melonjak 15,21% dari 1,14 juta kunjungan menjadi 1,32 juta. Jika dilihat month to month, ada lonjakan sebesar 6,07% pada semester I tahun ini di bandingkan semester I tahun lalu.

Melihat hal tersebut ada ungkapan dari Albert Einstein yang relevan untuk digemakan di benak wisatawan domestik: imagination is more important than knowledge. Banyak warga negara yang memimpikan melakukan perjalanan wisata menyusuri berbagai belahan dunia, dari negara ke negara lain, dari suatu benua ke yang lain. Tak ayal, mimpi dan imajinasi petualangan ke seluruh Nusantara juga seharusnya tersimpan dan menyeruak ke berbagai batin anak bangsa yang saat ini dibutuhkan untuk memperkuat niai rupiah.

Menjaga keberlanjutan mimpi berpetualang ke banyak daerah di negeri yang kaya ini menjadi perjuangan dan obsesi tersendiri. Lebih-lebih ketika perjalanan berpetualang ke negara-negara lain (Asia khususnya) semakin menawarkan kemudahan, ada daya tarik dan tentu saja efisiensi biaya. Dengan modal Rp 2 juta misalnya, sudah dapat berkeliling ke tempat wisata pilihan di Thailand, Singapura atau Malaysia.

Kesemarakan liburan Lebaran lalu misalnya, menyisakan suatu pesan. Seandainya biaya perjalanan (transportasi) dalam negeri murah, niscaya semakin banyak perjalanan wisata domestik ke berbagai tempat di tanah ait. Namun, ambisi meningkatkan perjalanan dan pengeluaran wisatawan domestik kerap kali dihadang dengan berbagai kesulitan di sektor transportasi. Baik dari segi harga, aksesbilitas, kelayakan modal transportasi, serta keamanan dan kenyamanan selama di perjalanan tersebut.

Program mendorong perjalanan wisata di dalam negeri pernah diupayakan pada masa kepemimpinan sebelumnya. Dirjen pengembangan Destinasi Wisata, Kementerian Pariwisata saat itu, Firmansyah menyatakan, karena pola liburan masih terfokus pada destinasi Bali, Yogyakarta, Bandung, Jakarta, maka perlu mengembangkan pola penyebaran wisatawan ke destinasi lain di luar tempat favorit tersebut.

Pemerintah sendiri tengah mengembangkan patron perjalanan atau travel pattern sebagai dasar pembuatan paket wisata, mendorong agar wisatawan memiliki alternatif tujuan wisata lain yang baru. Di antaranya, akan mengembangkan 10 destinasi wisata alternatif untuk melengkapi destinasi favorit yang banyak diminati masyarakat saat ini, yakni Jakarta, Yogyakarta, dan Bali serta Bandung, Surakrta, Surabaya, Medan, Batam, Padang&Bukittinggi, Makassar dan Manado. Di samping itu, pengembangan destinasi wisata minat khusus dilakukan menggunakan pndekatan pada market attractiveeness dan pushing product (Budpar.go.id). kini, program tersebut bertransformasi menjadi 10 Bali Baru.

Pertanyaan tersebut eksplisit menunjukan adanya kepekaan sekaligus dorongan kebijakan di pihak pemerintah guna mengatasi hal klasik yang bisa disetarakan sebagai suatu persoalan. Mengapa demikian? Kita melihat, jika ditelaah lebih dalam, kekuatan ekonomi turis lokal selain tersebar di kantong-kantong wisata mainstream Tanah Air, sebetulnya lebih banyak ongkos yg di keluarkan untuk perjalanan wisata ke luar negeri.

Pemikat awal dari semua itu adalah sensasi dan gengsi berwisata ke luar negeri. Pendorongnya adalah kemudahan dan biaya murah dalam merencanakan perjalanan wisata.

Non Bali dan Jawa

Air Asia misalnya, maskapai penerbangan yang berbasis di Malaysia itu meluncurkan airasiago.com. poertal tersebut tidak hanya menjual tiket secara online, melainkan juga pemesanan hotel dan beragam event kegiatan secara mudah.

Ilustrasinya, satu koper besar digunakan untuk berbagai kepentingan. Mulai tiket pesawat, hotel, pemesanan taksi, hingga peket tur serta liburan lainnya, bahkan, dengan mengkombinasikan berbagai pembelian – tiket pesawat, hotel, paket perjalanan wisata, dan sebagainya – harganya lebih murah antara 20-30% dibandingkan pemesanan terpisah. Situs seperti itu kini mulai bertambah banyak yang menawarkan ragam layanan wisata.

Ini menjadi tantangan bagi setiap pihak terkait kepariwisataan untuk mendongkrak perjalanan wisatawan domestik ke berbagai tempat-tempat wisata di Indonesia. Khususnya adalah daerah-daerah wisata eksotis yang ada di luar Jawa dan Bali.

Program pengembangan destinasi yang berfokus pada pushing product misalnya, akan meliputi sejumlah daya tarik seperti Tanjung Lesung (Banten), Raja Ampat (Papua Barat), Weh-Sabang (Naggroe Aceh Darussalam), Togean-Tomini (Sulawesi Tenggara), Wakatobi (Sulawesi Utara), Banda (Maluku), Tanjung Putting (Kalimantan Tengah) dan Derawan (Kalimantan Timur).

Sedangkan pengembangan destinasi dengan fokus pada market attractiveness di 14 provinsi antara lain Bromo-Tengger-Semeru (Jawa Timur), Danau Batur (Bali), Toba-Nias (Sumatra Utara), Komodo-Kelimutu (Nusa Tenggara Timur) serta kepulauan Seribu-Kota tua (DKI Jakarta).

Mimpi melakukan perjalanan wisata ke seluruh Tanah Air kini menjadi impian mulia yang setara dengan cita-cita profesi mulia di masa kanak-kanak semoga semakin banyak anak bagsa yang menyatukan mimpi terkait hal ini. Dan semakin banyak pula instansi kepariwisataan di elemen pemerintahan dan swasta yang mampu melakukan terobosan demi terciptanya mimpi perjalanan wisata yang murah dan menyenangkan di seluruh Nusantara. Dengna demikian, perjalanan wisata di dalam negeri akan menghemat devisa negara, membantu memulihkan nilai rupiah.

Sumber : Kontan.6-September-2018.Hal.23

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *