Menu Harus Bisa Naikkan Imunitas. Jawa Pos, 27 April 2020. Hal. 17.Bambang Wirjatmadi.FK

Menu Harus Bisa Naikkan Imunitas

Makanan untuk Sahur dan Berbuka Puasa

SURABAYA, Jawa Pos – Berpuasa di tengah pandemi Covid-19 membuat beberapa orang waswas. Apakah imunitas tubuh jadi terpengaruh? Prof Bambang Wirjatmadi MS MCN PhD SpGK (K) mengatakan, menu yang dikonsumsi selama sahur dan berbuka puasa harus diatur. Selain memenuhi kebutuhan tubuh normal, menu itu juga harus mendorong terciptanya imunitas yang baik.

Dokter spesialis gizi klinik itu menyebutkan, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Diantaranya, harus beragam, bergizi, seimbang, dan aman. “Tentunya halal sesuai tuntutan agama,” ucapnya, kemudian tersenyum.
Syarat beragam adalah variasi menu yang berbeda, baik untuk berbuka maupun sahur. Ada nasi, lauk, sayur-sayuran, hingga buuah-buahan. Komposisinya juga tak sembarangan. “Nasi atau karbohidratnya 60-65 persen, lalu lauknya berprtein 25 persen, dan asupan lemak berkisar 10-15 persen,” tutur dosen Fakultas Kedokteran Universitas Ciputra tersebut.

Angka itu merupakan kompossu standar bagi orang yang sehat fisik. Dalam hal ini, tak memiliki penyakit premorbid, seperti penyakit jantung, ginjal, stroke, hipertensi, atau gangguan diet lainnya. “Kalau ada penyakit khusus, dietnya harus disesuaikan lagi,” ucapnya.

Di tengah pandemi, komposisi itu diubah. “Imunitas tinggi bisa didorong dengan menaikkan komposisi protein menjadi 30 persen,” tuturnya. Protein sangat berperan dalam meningkatkan imunitas sehingga kali ini lemak harus mengalah hingga 5 persen saja.

Jenisnya bisa dieroleh dari produk hewani, Bambang sangat menyarankan ditambah protein dari produk laut. “Tentu pilih yang lemaknya tidak tinggi ya,” tegasnya. Jadi, lebih baik hindari jenis cumi-cumi, udang, atau rajungan yang berlemak tinggi.

Buah dan sayur juga tak boleh luput untuk bertahan di tengah pandemi. Sebab, keduanya memberikan asupan mineral dan vitamin. “Yang tentunya bagus untuk organ tubuh dan menaikkan imunitas,” paparnya.
Syarat kedua, bergizi. Bambang menekankan pentingnya menghindari dulu makanan yang instan. “Mi-mi, meski dikasih rasa macam-macam, kurangilah,” ucapnya. Selain itu, harus diperhatikan aspek keamanannya. Dalam hal ini, bahan tambahan pangan harus di bawah batas aturan sehat. Bahan tambahan pangan itu meliputi pewarna, pengawet, penyedap, dan pemanis. “Manis bebas dari bahan-bahan tersebut tentu makin aman,” sambungnya.
Syarat selanjutnya adalah seimbang sehingga tidak memaksakan diri. Hanya karena waktu makannya berjauhan, tubuh dipaksa hingga terlalu kenyang. “Puasa ini kan juga bermanfaat untuk mengatur berat badan. Kalau dipaksa kenyang, ya salah,” ucapnya. Bambang juga menyarankan untuk menghindari menu-menu pedas yang justru membuat lambung tak nyaman. Perlu pula mengonsumsi menu yang ringan saat berbuka. Setelah istrirahat sejenak, baru makanan berat.

“Selain dari menunya dan cara makan, kita bisa juga meningkatkan imunitas dari gaya hidup lain,” sambungnya. Di antaranya, memastikan waktu istrirahat cukup. Bmbang menyarankan waktu 10 jam istrirahat. Tidak hanya tidur, tetapi juga membiarkan tubuh tak melakukan aktivitas fisik yang terlalu berat. Selain itu, berjemur dianjurkan untuk meningkatkan daya tahan tubuh. (dya/c6/tia)

Sumber : Jawa Pos, 27 April 2020 | Hal 17

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *