Menjaga Kepatuhan Warga Menjalankan Protokol Kesehatan Tahun 2022. Kompas. 2 Januari 2022. Hal. 4

Memasuki tahun 2022, masyarakat tentu ber harap pandemi Covid-19 segera berakhir agar mereka bisa menjalankan aktivitas dengan lebih leluasa. Meski demikian, mematuhi protokol kesehatan dengan memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, dan menghindari kerumunan akan tetap menjadi kebiasaan setiap orang. Bahkan, ketika pandemi telah mereda.

Hampir dua tahun hidup di masa pandemi yang mengharuskan setiap orang selalu menjalankan protokol kesehatan, membuat mematuhi protokol itu sudah menjadi bagian dari keseharian masyarakat. Mengingat pandemi memang belum usai, ditambah pula dengan ditemukannya kasus varian Omicron di Indonesia pada 15 Desember 2021 lalu. Meski kasus positif Covid-19 cenderung melandai, cepatnya penularan Covid-19 varian Omicron yang dalam waktu dua minggu ini tercatat sudah menjadi 68 kasus, membuat kepatuhan pada protokol kesehatan harus tetap dijaga. Apalagi sudah terjadi ka sus penularan transmisi lokal.

Masyarakat yang sudah ba nyak melakukan kegiatan di luar rumah jangan sampai lengah hingga abai menjalankan protokol kesehatan karena euforia dengan semakin melan dainya kasus dan alasan sudah divaksin. Nyatanya varian baru.

Omicron tetap bisa menulari orang yang sudah menjalani vaksinasi lengkap. Oleh karena itu, patuh menerapkan protokol kesehatan tetap menjadi benteng untuk melindungi diri dari paparan Covid-19.

Tingkat kepatuhan masyara kat menerapkan protokol ke sehatan ini tergambar dalam hasil jajak pendapat Kompas medio Desember lalu. Sebanyak 45,5 persen responden mengakui bahwa menerapkan protokol kesehatan sudah menjadi kebiasaan sehari-hari sehingga ke mana pun mereka pergi selalu patuh protokol kesehatan. Sementara separuh. responden lainnya menyebut memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, dan menghindari kerumunan akan mereka lakukan sebagai upaya untuk melindungi diri jika sedang melakukan aktivitas di luar rumah meski pandemi sudah mereda.

Paling tinggi

Kepatuhan menerapkan protokol kesehatan paling tinggi terlihat pada responden dari kelompok generasi X (40-55 tahun), diikuti gen Y/Milenial (24-39 tahun) kemudian baby boomers (56-74 tahun). Kepatuhan menja lankan protokol kesehatan kelompok anak muda, yaitu gen Z (< 24 tahun) yang terpotret dari jajak pendapat ini berada di kisaran 10 persen. Hal ini perlu mendapat perhatian lebih untuk mengingat kan anak-anak muda agar tertib menerapkan protokol kesehatan dalam setiap aktivitasnya.

Selaras dengan hasil jajak pendapat Kompas, pemantauan kepatuhan menjalankan protokol kesehatan yang dilakukan Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 setiap minggu di 34 provinsi juga menunjukkan hasil serupa. Berdasarkan data per 26 Desember 2021, dalam tujuh hari terakhir 92,15 persen masya rakat sudah patuh menggunakan masker dan 90,56 persen. sudah berperilaku menjaga jarak serta menjauhi kerumunan. Perilaku yang sudah baik dan harus terus dijaga.

Namun, masih ada 64 dari 284 kabupaten/kota (22,54 persen) yang dipantau memiliki tingkat kepatuhan mema- kai masker <75 persen. Pada level kecamatan, terdapat 456 dari 1.747 kecamatan (26,10 persen) yang tingkat kepatuhan memakai maskernya <75 persen. Sementara di level ke lurahan/desa masih ada 2.020 dari 7.961 kelurahan/desa (25,37 persen) yang dipantau. Artinya, lebih kurang 75 persen wilayah yang kepatuhan memakai maskernya bisa dikatakan sudah baik, yaitu di atas 75 persen.

Demikian pula untuk kepa tuhan dalam menjaga jarak dan menghindari kerumunan. Masih diperlukan upaya pemerintah daerah untuk mening- katkan kepatuhan protokol kesehatan tersebut pada 24,65 persen kabupaten/kota, 28,39 persen kecamatan, dan 26,33 persen kelurahan/desa.

Peranan institusi

Di samping kepatuhan individu, Satgas Covid-19 juga memantau kepatuhan institusi dalam hal ketersediaan fasilitas cuci tangan, pemeriksaan suhu tubuh, kegiatan desinfeksi atau pembersihan secara berkala, sosialisasi penerapan protokol kesehatan, dan ada nya petugas pengawas protokol kesehatan. Hasilnya, meski terdapat 59,74 persen kabupaten/kota dengan institusi yang sudah patuh dan sangat patuh, masih ada 40,26 persen kabupaten/kota dengan institusi vang kurang patuh dan tidak patuh menjaga protokol kesehatan.

Meski secara umum kepatuhan masyarakat

menerapkan protokol kesehatan sudah baik, menjaga kepatuhan menjalankan protokol kesehatan tidak boleh kendur, apalagi keinginan masyarakat untuk berwisata atau mencari hiburan di luar rumah tahun 2022 mulai menguat. Dari hasil jajak pendapat terlihat, enam dari 10 responden berencana untuk berwisata di tahun 2022 jika kondisi pandemi membaik. Sepertiga responden berencana berwisata ke luar kota, sementara seperlima responden ingin berwisata ke lokasi yang dekat dengan tempat tinggal saja, sedangkan 7 persen responden merencanakan perjalanan ke luar negeri.

Artinya, mobilitas masyarakat akan meningkat demikian pula dengan potensi terjadinya kerumunan di tempat-tempat wisata. Apalagi pemantauan terhadap kepatuhan protokol kesehatan yang dilakukan Satgas Covid-19 mendapati tempat wisata sebagai salah satu lokasi kerumunan dengan. tingkat kepatuhan menjaga jarak dan menghindari kerumunan terendah, yaitu 11,1 persen.

Lokasi kerumunan lainnya dengan kategori kepatuhan kurang dari 60 persen adalah tempat olahraga publik/RP TRA (21,6 persen), restoran/kedai (20,6 persen), per mukiman (14,1 persen), dan jalan umum (8,6 persen).

Sejumlah provinsi terpantau memiliki kepatuhan tinggi dalam memakai masker serta menjaga jarak di lokasi kerumunan, di antaranya Provinsi Kalimantan Utara, Maluku, Kepulauan Riau, Sulawesi Tengah, Gorontalo, dan Bali. Namun, masih ada catatan bagi beberapa provinsi dengan kepatuhan rendah.

Sekali lagi pandemi belum usai. Jangan sampai ketidak disiplinan warga mengakibatkan kondisi parah lonjakan dan kegawatan kasus Covid-19 medio 2021 terulang kembali. Penegakan penerapan protokol kesehatan wajib dilakukan bahkan perlu diperketat.

 

Sumber: Kompas. 2 Januari 2022. Hal. 4

 

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.