Mengubah Wajah Perpustakaan

    Pendidikan adalah faktor penentu kemajuan sebuah bangsa di masa depan. Maju tidaknya sebuah bangsa sangat bergantung pada kualitas pendidikan. Jika kualitasnya baik, sangat mungkin bangsa itu maju. Sebaliknya, kalau buruk, suramlah bangsa itu.

    Menuju pendidikan berkualitas membutuhkan peranti pendukung. Antara lain, kurikulum yang benar-benar teruji dan efektif. Selain itu, pendidik (guru) yang cerdas dan profesional serta sarana-prasarana yang memadai. Salah satunya adalah perpustakaan yang representatif.

    Tidak bisa dimungkiri, perpustakaan, terlebih perpustakaan umum, adalah satu dimensi dalam sistem pendidikan yang berperan sangat strategis. Kehadirannya juga dianggap sebagai penunjang upaya mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas melalui media literasi.

    Namun, keberadaannya yang penting itu justru termarginalkan jika dibandingkan dengan aspek pendidikan lain. Buktinya, perpustakaan di daerah/kota sering kali dikelola secara kurang profesional. Indikasinya adalah SDM, sarana, bahan pustaka, dan bahkan anggarannya serba terbatas. Hal itu rasanya berbanding terbalik mengingat betapa urgennya posisi perpustakaan.

    Sebagai bagian dari dimensi pendidikan nasional, perpustakaan umum memiliki sejumlah fungsi. Diantaranya, sebagai jembatan antara masyarakat dan pemerintah. Perpustakaan menjadi media yang mengemas masukan dan informasi masyarakat yang bisa diberikan kepada pengambil kebijakan. Dengan demikian, masyarakat memiliki kredit poin atau ikut andil dalam menentukan kebijakan kepala daerah.

    Sesuai undang-undang 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan, pemerintah daerah berkewajiban untuk menjamin ketersediaan, penyelenggaraan, kelangsungan, dan pengelolaan perpustakaan sebagai sumber belajar masyarakat.*M. Anang Abidin, Mahasiswa Pascasarjana Unsuri. Jawa Pos. 26 November 2015.Hal.31.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.