Menghasilkan Enzim Rekombinan. Kompas 17 Januari 2022. Hal. 8

Tim peneliti di IPB University mengembangkan produk enzim rekombinan buatan dalam negeri. Hasil inovasi ini bisa dipakai untuk memenuhi kebutuhan reagensia dalam tes PCR yang meningkat selama masa pandemi Covid-19.

Kebutuhan reagensia pen dukung pemeriksaan polimerase makin besar. Padahal, sebagian besar reagensia masih diimpor. Tim peneliti dari IPB University pun berupaya menghasilkan reagensia berupa produk enzim rekombinan buatan dan produksi massal dalam negeri.

Teknik pemeriksaan berbasis reaksi rantai polimerase (polymerase chain reaction/PCR) banyak digunakan dalam bidang biologi molekuler. Selama masa pandemi Covid-19, teknik pemeriksaan itu makin banyak dimanfaatkan untuk mendeteksi vim SARS-CoV-2 penyebab

Penggunaan yang makin banyak ini membuat kebutuhan kit PCR semakin besar. Tidak hanya mesin PCR, kebutuhan reagensi untuk mendukung pemeriksaan PCR pun kian besar. Sementara ketersediaan reagensia di Indonesia saat ini bergantung dari produk luar negeri. Hal itu menyebabkan reagensia sulit didapatkan, terutama saat banyak permintaan di tingkat global.

Keterbatasan reagensia sempat terjadi ketika lonjakan kasus Covid-19 terjadi di banyak negara di dunia. Selain harga menjadi lebih mahal, proses pemesanannya pun menjadi lebih sulit karena negara yang memproduksi reagensia tersebut menghentikan pengiriman ke luar negeri.

Oleh sebab itu, penelitian dan pengembangan reagensia dari dalam negeri sangat mendesak. Diharapkan Indonesia bisa mandiri untuk memenuhi kebutuhan tersebut, bahkan membantu memenuhi kebutuhan secara global.

Berangkat dari situasi itu, para peneliti dari Pusat Studi Satwa Primata Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat IPB University, Bogor, pun berupaya mengembangkan enzim dari bagian reagensia dalam pemeriksaan PCR baik secara konvensional maupun real time. Inovasi yang telah dihasil kan itu kini memiliki merek dagang yang disebut Invent pro.

Ketua Peneliti Produk Inventpro Joko Pamungkas dalam acara peluncuran produk enzim reverse transcriptase (RT) Inventpro pada akhir Desember 2021 menyampaikan, enzim RT Inventpro merupakan enzim rekombinan asal gen sintetik Moloney Murine Leukemia Virus (MMLV) dan Simian Retro virus Serotype-2 (SRV-2) yang sudah dimodifikasi pada beberapa asam amino lain.

Enzim tersebut dihasilkan melalui proses ekspresi dalam sistem Escherichia coli dengan menggunakan sumber DNA dari gen sintetik

Gen sintetik dipilih karena dapat memudahkan proses konstruksi rekayasa genetik yang dilakukan. Konstruksi rekayasa diperlukan untuk menghindari efek dari penggunaan kode genetik individual (individual codon usage) yang dapat memengaruhi efektivitas ekspresi gen.

Penggunaan gen sintetik melalui teknologi sintesis gen juga relatif baru. Selain itu, enzim rekombinan sejenis dari gen sintetik tersebut belum pernah dikembangkan.

“Enzim reverse transcriptase Inventpro sangat penting dalam pengembangan teknologi, terutama bidang bioteknologi dan kegiatan yang terkait pengujian biomolekuler atau uji-uji yang memerlukan sintesis DNA dari materi genetik RNA,” kata Joko

Pengujian biomolekuler tersebut terutama untuk pengujian dari virus yang memiliki materi genetika. Apabila amplifikasi materi genetik akan dilakukan, mesin PCR tidak dapat melaksanakan pengujian sehingga materi genetik RNA ha rus diubah terlebih dahulu menjadi DNA. Enzim RT Inventpro inilah yang berperan dalam proses komplementari DNA dari materi genetik RNA.

Joko mengatakan, para peneliti sekarang berhasil mengembangkan kit enzim RT Inventpro sistem sintesis cDNA serta enzim RT Inventpro murni. Pengadaan enzim murni itu diharapkan bisa juga digunakan untuk pengujian lain selain pengujian berbasis PCR.

Keunggulan

Produk enzim RT Inventpro diklaim memiliki sensitivitas yang sebanding dengan produk komersial kualitas premium yang digunakan untuk sintesis cDNA dalam amplifikasi gen dari berbagai jenis spesimen. Secara spesifik, enzim ini juga telah teruji pada amplifikasi gen spike (S) SARS-CoV-2.

Joko memaparkan, enzim ini telah teruji memiliki periode simpan minimal dua tahun dengan fungsi sintesis yang tetap terjaga baik. Sebagai produk dalam negeri, enzim ini juga lebih mudah dijangkau dan dipasti 2021. kan ketersediaannya. Harga produk ini pun jauh lebih terjangkau, yakni 25 persen dari harga produk komersial dengan kualitas premium.

Produk enzim RT Inventpro sudah mendapatkan izin produksi dengan nomor FK.0102/VI/474/2018 dan dapat diproduksi melalui PT Biomedical Technology Indonesia Sejak awal pengembangan, penelitian enzim tersebut sudah dilakukan bersama dengan PT Biomedical Technology Indonesia dengan pembiayaan dari Lembaga Pengelola Dana Pen didikan (LPDP) Kementerian Keuangan pada tahun 2019 dan 2021

Bioteknologi

Direktur PT Biomedical Technology Indonesia Gunadi Setiadarma menuturkan, produk enzim RT Inventpro dinilai dapat bersaing dengan produk-produk lain yang serupa. Hal tersebut terutama jika di tinjau dari segi harga dan kemudahan dalam penyediaan di dalam negeri.

“Inovasi ini memiliki nilai penting dalam pengembangan bioteknologi di Indonesia dan juga ilmu pengetahuan secara umum. Enzim ini juga memiliki nilai ekonomi yang strategis sekaligus dapat mendukung kemajuan bidang biomolekuler ucapnya. dan bioteknologi di Indonesia,” ujarnya.

Menurut Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat IPB University Ernan Rustiadi, inovasi enzim Inventpro memperlihatkan bahwa penelitian yang dilakukan di IPB University cukup beragam, termasuk di bidang kesehatan. Inovasi tersebut juga menjadi bentuk sumbangsih dalam memberikan solusi atas pandemi Covid-19.

“Kerja sama dan kolaborasi akan terus ditingkatkan agar lebih banyak keluaran yang di hasilkan untuk mengatasi berbagai persoalan di masyarakat,”

Rektor IPB University Arif Satria, dalam siaran pers beberapa waktu lalu, mengutarakan, inovasi yang dihasilkan IPB University ini didapatkan dari hasil pengamatan terhadap realitas. Ia menyebut, interaksi antara dunia riset dan dunia nyata akan menghasilkan solusi yang baik. “Kombinasi antara imajinasi peneliti dan kebutuhan lapangan ini kombinasi yang tidak boleh dipisahkan,” katanya. Kehadiran inovasi di bidang medis ini menempatkan IPB University tidak hanya berkiprah di bidang pangan, tetapi juga di bidang kesehatan dan biomedis. “Dengan adanya inovasi Inventpro, IPB University menempatkan diri tidak hanya di bidang pangan, tetapi dalam bidang kesehatan,” ujarnya.

“Ketika kita berbicara mengenai kesehatan, maka kita harus membahas tentang kesehatan manusia, kesehatan hewan, kesehatan tanaman, dan kesehatan lingkungan. Kesehatan manusia tidak bisa terlepas dari kesehatan hewan, apalagi ber kaitan dengan sumber penyakit di masa depan yang diproyeksikan banyak bersumber dari hewan,” kata Arif.

 

Sumber: Kompas 17 Januari 2022. Hal. 8

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.