Mengapa Banyak yang Suka Drama Korea?

Oleh Jeferson William Benhard Siritoitet (0306011810039)

Drama Korea Selatan “The World of the Married” sedang menjadi perbincangan banyak orang akhir-akhir ini. Tak hanya di Indonesia, rupanya drama yang dibintangi Kim Hee Ae dan Han So Hee ini juga berhasil menyita perhatian hampir 55 persen penonton di Viu dari Asia. Menonton film dan serial adalah pelipur lara bagi sebagian orang selama berada di rumah saat pandemi COVID-19.

Budaya Korea sendiri menjadi sorotan Negara Indonesia belakangan ini. Ha l ini terbukti banyaknya minat orang indonesia terhadap berbagai produk Korea, seperti makanan korea, busana atau pakaian, musik, film, drama, bahasa dan lain sebagainnya. Salah satunya adalah drama korea yang digemari banyak orang karena fashion yang digunakan pemeran drama tersebut menarik bagi mereka. Selain menirukan fashion banyak juga yang menirukan mulai dari gaya bahasa, sikap, sifat dan lain-lain. Di Indonesia, banyak sekali yang menggemari Drama Korea. Korea terkenal dengan sistematika drama yang bagus selain kebudayaan yang istimewa dan boyband nya.  

Drama Korea banyak disenangi oleh negara-negara lain karena drama yang dipertunjukkan memiliki ciri khas tersendiri dan unik. Drama korea ada yang bercerita tentang perjalanan hidup seseorang, percintaan, dan lain sebagainya. Drama korea juga mengangkat nilai-nilai kebudayaan sehari-hari yang menjadikan hampir seluruh masyarakat menyukai drama tersebut. Pada tahun 2002, drama korea yang berjudul “Endless Love”, merupakan drama korea yang pertama kali muncul di layar kaca pertelevisian di Indonesia yaitu Indosiar.

Menurut KBS World Radio tahun 2019 yang diterbitkan Korean Foundation dibawah naungan Kementrian Luar Negeri Korea Selatan terdapat 99,3 juta orang penggemar drama korea di seluruh dunia. Penggemar drama Korea terbanyak di Benua Eropa sekitar 15 juta orang dan negara Rusia menjadi negara penggemar drama Korea yang mengalami peningkatan sebanyak 290 persen dan menduduki 85 persen di peningkatan dunia.

Di Indonesia sendiri demam drama korea muncul ketika tahun 2012. Tidak hanya drama korea, tetapi musik korea, film, maupun aksesoris atau pernak-pernik juga digemari banyak masyarakat khususnya masyarakat Indonesia (Jimoondang, 2008). Drama korea sendiri menjadi salah satu bagian yang sangat disukai masyarakat, baik itu kalangan anak-anak, remaja, bahkan tak dapat dipungkiri kalangan dewasa maupun orang tua pun menyukai drama Korea. Ada beberapa alasan yang sering kita dapat mengapa orang-orang menyukai drama Korea, seperti kecakapan pemeran utamanya, serunya jalan ceritanya, dan lain sebagainya. Selain itu juga karena drama korea berbentuk episode menjadikan orang yang menonton drama korea tersebut penasaran bagaimana kelanjutannya di episode-episode selanjutnya, sehingga tak dapat dipungkiri kalau banyak orang yang menghabiskan waktu dengan menonton drama korea sampai ahkir episode. Dampak dari drama korea itu sendiri dapat kita lihat di kehidupan sehari-hari, mulai dari cara berpakaian, gaya hidup, makanan, bahkan sampai menirukan bahasa korea.

Berawal dari drama itulah masyarakat perlahan mempelajari kebudayaan yang ada disana dan semakin giat dan minat untuk mengetahui segala sesuatu yang berbaur dengan Korea. Drama memang memiliki pengaruh yang kuat terhadap kehidupan setiap orang karena hal itu merupakan simbol dari faktor dalam arketipe psikologis. Dalam kehidupan sehari-hari secara tidak sadar, menonton drama banyak membangkitkan faktor faktor arketipe psikologis seseorang, baik itu positif atau negatif, baik atau buruk, fantastik atau realistik (Chun, 2015),sehingga secara tidak langsung orang tersebut menangkap simbol yang tidak mereka sadari dan menginternalisasikan dalam bagian dirinya tanpa memperhatikan itu perilaku positif atau negatif

Ada beberapa alasan lain mengapa banyak orang yang menyukai drama Korea, diantaranya adalah:

Citra Diri, menurut Wibowo (2007) citra diri menggambarkan kehidupan makhluk hidup sosial yang kerap kali dikaitkan dengan keadaan sekitarnya termasuk penampilan seseorang secara umum. Sebagian besar orang banyak yang memiliki gambaran tentang pandangan orang lain terhadap dirinya, terkait dengan bagaimana cara seseorang memandang dirinya dan bagaimana berpikir tentang penilaian orang lain terhadapnya. Dengan demikian tak dapat dipungkiri bahwa seseorang dapat mengubah cara pandangnya.

Imitasi, seseorang yang memiliki panutan pastinya ia akan meniru panutannya tersebut. Imitasi merupakan perilaku menirukan orang lain yang tidak terjadi secara langsung melainkan dengan adanya penerimaan diri terhadap yang ia kagumi. Misalnya remaja yang mengimitasi budaya trend yang sedang populer saat ini seperti drama Korea. (Karapang, 2013).

Roseberg (1965) mengatakan bahwa semakin pesatnya perkembangan media massa dan budaya populer, maka semakin kompleks juga perkembangan konsep diri seseorang. Perilaku imitasi juga akan mempersulit seseorang untuk menemukan identitas aslinya, sementara idetitas asli seseorang menunjukkan citra diri orang tersebut (Giles and Maltby dalam (Rahmaningsih dan Martani, 2014)). Orang yang memperoleh peranan dalam masyarakat maka dia akan mencapai sense of identity dimana orang tersebut akan mengetahui perannya, siapa dirinya sebenarnya, sebaliknya orang yang tidak dapat menyelesaikan kritis identitasnya, ia akan merasakan sense of role confusion or identitty diffusion yang menunjukkan adanya perasaan yang berkaitan dengan ketidakmampuan dalam memperoleh peran dan menemukan jati diri (Soetjiningsih, 2007)

Dari penjelasan diatas, menurut saya Drama korea ada baiknya untuk diikuti tetapi tanpa meninggalkan budaya yang kita miliki apalagi sampai tidak mau mempelajari budaya sendiri. Kita boleh mempelajari budaya lain guna menambah wawasan kita sendiri. Drama korea memiliki tingkat popularitas yang tinggi sehingga tak dapat dipungkiri banyak negara-negara asing yang suka terhadap hal ini. Tak jarang banyak oraang yang ingin menyempatkan diri untuk berlibur atau berkunjung ke Korea. Selanjutnya, walaupun kita mengikuti drama korea, sebagai makhluk sosial kita tidak boleh sampai kehilangan identitas diri kita hanya karena terpengaruh drama tersebut. Kita harus menjaga identitas diri kita karena itu merupakan simbol seseorang dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu terkait imitasi (sikap meniru) menurut saya sikap meniru tidaklah baik, misal kita meniru bahasa Korea. Dalam hal ini ketika pengucapan bahasa tersebut kita katakan pastilah sebagian besar tidak benar dan alangkah baiknya harus dipelajari. Yang penting menurut saya adalah dipelajari daripada meniru yang belum tentu benar. Jadi, tanggapan saya terhadap banyaknya orang yang gemar drama korea adalah jaga identitas diri karena itu adalah simbol diri setiap orang, jangan melakukan sesuatu (meniru) yang belum pasti kebenarannya.

 

Referensi:

Chun, C. J. (2015). Korean wave as a factor on Taiwan’s entertainment, consumer behavior, and cultural identity: A case study about “My Love from the Star”. Journal of Human and Social Science Research, Volume 6. nomor 2. Hal 74-79.

Jimoondang. 2008. Korean Wave (Insight Into Korea series Vol.5). Korea: The Korea Herald.

Juni, S. A., Sadiq, F., Kareem, j., Alam, M. K., Haider, I., Ashraf, A., et al. (2014). The Influence of Indian Culture on Pakistani Society: A Case Study of Layyah City. International Journal of Innovation and Applied Studies, Volume 8 no 3 1120-1125.

Kaparang, M. Olivia. 2013. Analisa Gaya Hidup Remaja Dalam Mengimitasi Budaya Pop Korea Melalui Televisi.Jurnal Acta Diurna Vol. II/No. 2/ 2013.

Rosenberg, M. 1965. Society and the Adolescent Self-Image.Priceton University Press. United States of America.

Sarwono, S. W. (2014). Psikologi Lintas Budaya. Depok: PT RajaGrafindo Persada

Soetjiningsih. (2004). Tumbuh kembang remaja dan permasalahannya. Jakarta: CV. Sagung Seto.

Wibowo, H. 2007. Fortune Favors The Ready. Bandung: OASE Mata Air Makna.

http://world.kbs.co.kr/service/news_view.htm?lang=i&Seq_Code=57452

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *