Menelusuri Sejarah Kawasan Krembangan sebagai Bagian Europeesche Wijk (7)_Pernah Ada Pemakaman Belanda Terbesar. Radar Surabaya. 27 Juni 2020. Hal.3,7. Chrisyandi. Library

“Sebagai bagian dari Europeesche Wijk (distrik Eropa), Krembangan tidak hanya dikenal sebagai tempat yang memiliki lapangan terbang, akan tetapi juga memiliki kawasan makam yang besar. Makam ini adalah makam orang-orang Eropa yang tinggal di Hindia-Belanda (Surabaya) saat itu,” Mus Purmadani.

Pustakawan Universitas Ciputra Surabaya Chrisyandi Tri Kartika mengatakan, saat ini untuk menemukan makam ini tidaklah mudah, pasalnya makan ini sudah beralih fungsi menjadi water toren (menara air). Meski demikian sisa-sisa jeberadaan makam ini masih bisa diketahui dari nama Jalan Krembangan Makam. “Jadi meskipun makamnya sudah tidak ada, tapi warga mengenal kawasan ini dengan krembangan Makam,” katanya kepada Radar Surabaya.

Kompleks pemakaman orang-orang Belanda dan Eropa ini disebut kerkhof. Keberadaan kerkhof terkesan lebih megah serta memiliki hiasan yang lebih kata bila dibandingkan makam pribumi. “Kata kerkhof berasal dari Bahasa Belanda yang berarti halaman gereja. Hal tersebut merujuk pada kebiasaan pemakaman di Eropa sebelum abad ke-19,” ungkapnya.

Pria yang juga pemerhati sejarah Kota Surabaya ini menuturkan, saat itu orang-orang Eropa memakamkan jenazah di halaman gereja. Pemilihan halaman gereja sebagai tempat permakaman didasarkan atas aspek religi, di mana orang Eropa percaya bahwa halaman gereja merupakan tempat yang suci.

“Kebiasaan dari Eropa tersebut kemudian dibawa oleh orang Belanda pada masa kolonial,” ujarnya.

Menurutnya, pemakaman Belanda pertama di Surabaya beradandi halaman gereja yang dulu pernah berdiri di Willemsplein di kawasan Krembangan. Gereja tersebur dibangun oleh Abraham Christoffel Coertz pada 1759. Sebagai mana tradisi pemakaman di Eropa, orang-orang Belanda di Surabaya juga memakamkan jenazah di halaman gereja (kerkhof) karena saat bagi orang Belanda dan Eropa lain, gereja adalah titik dokus yang penting dalam kehidupan masyarakat, mengingat segala kegiatan penting dilakukan di sini sepertu upacara pembaptisan bayi, pernikahan, dan kematian. Selain itu, halaman gereja juga dipandang sebagai tempat suci.

(Bersambung/nur)

 

Sumber: Radar Surabaya. 27 Juni 2020. Hal.3,7

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *