Menelusuri Sejarah Kawasan Krembangan sebagai Bagian Europeesche Wijk (12)_Dampak Pemuikiman Eropa terhadap Pribumi. Radar Surabaya. 3 Juli 2020. Hal. 3,7. Chrisyandi. Library

Dampak Pemukiman Eropa terhadap Pribumi

“Pembangunan Kota Surabaya yang kebanyakan hanya dilakukan di sekitar jalan-jalan utama secara spontan karena tidak diatur dalam masterplan pada masa kolonial, membuat beban berat akibat kenaikan penduduk yang tidak terkendali. HaI ini disebabkan karena pada periode kolonial, kota-kota yang berkembang baru sedikit,” Mus Purmadani

HAL tersebut berakibat arus migrasi penduduk tersebut hanya berpusat pada kota-kota yang baru berkembang. Adanya golongan golongan dalam masyarakat karena berkembangnya kelas menengah kolonial menyebabkan terjadinya permasalahan kampung.

“Pertumbuhan penduduk lokal juga kerap menjadi andil dalam permasalahan tersebut. Kampung-kampung dibangun oleh pendatang baru yang menghendaki untuk tinggal di kawasan pinggir-pinggir jalan yang strategis,” tutur Pustakawan Universitas Ciputra Surabaya Chrisyandi Tri Kartika kepada Radar Surabaya.

Selain itu, semakin bertambahnya penduduk menyebabkan mereka tinggal secara berdesakdesakan dan mengakibatkan keadaan menjadi tidak higenis yang kemudian mengancam daerah-daerah lainnya.

Lebih lanjut Chris mengatakan, selain nuansa pribumi dan barat, terdapat pula nuansa ketimuran yang sangat besar, yaitu nuansa Tionghoa. Oleh karena itu, kota-kota di Indonesia pada masa kolonial dapat dikarakterisasikan sebagai kota tripartite karena melibatkan tiga pihak terkait.

Yaitu unsur pribumi yang terdiri dari keraton dan kampung-kampungnya. Kernudian unsur Tionghoa dengan rumahrumah tokonya, dan unsur barat dengan benteng dan rumah kolonialnya. Tiga unsur pembentuk kota tersebut secara bersamaan membentuk konfigurasi yang dianggap sebagai ciri khas kota kolonial.

Terbentuknya pemukiman Eropa tahun 1794-1798 di Surabaya diperintah oleh Dirk Van Hogendorp.

Pada masa ini pemukiman orang Belanda yang awalnya merupakan benteng kecil Fort Retranchement yang letaknya di tepi Kalimas berkembang ke arah utara yang berpusat di Jembatan

Merah dan Willemsplein (Taman Jayengrono). Daerah ini kemudianmengalami peluasan ke arah selatan sampai daerah Simpang. (bersambung/nur)

 

Sumber: Radar Surabaya. 3 Juli 2020. Hal 3,7

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *