Menelusuri Sejarah Kawasan Krembangan sebagai Bagian Europeesche Wijk (11)_UU Wijkenstelsel Membagi Kawasan Kota Menjadi Dua. Radar Surabaya. 2 Juli 2020. Hal.7. Chrisyandi. Library

“Dalam undang-undang (UU) Wijkenstelsel tahun 1843, kawasan Kota Surabaya saat itu dibagi menjadi dua wilayah pemukiman. Pemukiman orang Eropa yang berada di sisi barat Jembatan Merah dan pemukiman masyarakat timur asing (Vreemde Oosterlingen) berada di sisi timur yang terdiri dari Kampung Pecinan, Kampung Arab dan Melayu,” Mus Purmadani

KAWASAN kota saat itu ini dikelilingi oleh benteng dan kanal. Penduduk pribumi kebanyakan bermukim di luar benteng. “Selain itu, UU Wijkenstelsel bertujuan untuk memudahkan pengontrolan dan pengawasan pada setiap etnis. Pemerintah kolonial Belanda benar-benar memperhatikan tingkatan sosial, serta fasilitas yang diberikan bagi setiap golongan penduduk yang ada,” kata Pustakawan Universitas Ciputra Surabaya Chrisyandi Tri Kartika kepada Radar Surabaya.

Di balik UU Wijkenstelsel pemerintah kolonial Belanda memang mempunyai maksud dan tujuan tersendiri, khususnya dalam mengatur dan membatasi pergerakan penduduk pribumi dan bangsa non-Eropa. Oleh karena itu pada saat itu banyak yang tak sepaham dengan UU yang mengkotak-kotakkan kota tersebut.

Kawasan Eropa ini disebut Kota Bawah (Benedenstad) yang dibatasi oleh tembok kota yang melingkar dari utara, tepatnya di sebelah selatan Jembatan Petekan (Ophaal Brug) melebar ke barat hingga selatan (Pesapen) terus ke selatan (Krembangan) ke timur (Bibis dan Cantian), kemudian ke utara (Srengganan -Tonggomong- Njamplungan) dan kembali menyambung ketitik awal di selatan Jembatan Petekan, Jalan Jakarta (Batavia Weg) sebelah Timur sungai Kalimas.

“Kawasan ini memiliki dua jalan utama. Dari sisi barat timur sampai balai kota pertama (Jembatan Merah) yaitu Heerenstraat (Jalan Rajawali) kemudian jalan Yang sejajar dengan Kalimas dari utara selatan, yaitu Willemskade (Jalan Jembatan Merah dan Jalan Veteran),” ujarnya

Pemerhati sejarah Kota Surabaya ini mengatakan, tanggal 19 April 1871 benteng-benteng mulai dihancurkan. Perkembangan kota mulai berkembang ke arah selatan, yaitu daerah Pemuda, Kayoon dan perurnahan elit Belanda di Darmo dan Kupang. (bersambung/nur)

 

Sumber: Radar Surabaya. 2 Juli 2020. Hal. 7

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *