Menelusuri Riwayat Jalan Kepanjen (4)_ Gereja yang Kental Nuansa Tempat Ibadah Tempo Dulu Eropa. Radar Surabaya. 13 Juni 2020. Hal. 3. Freddy H. Istanto. INA

“Gereja Katolik Kelahiran Santa Perawan Maria setelah berdiri sempat direnovasi tiga kali. Yakni pada tahun 1950,1960, dan 1996. Gereja dipugar karena terbakar, kemudian terkena dampak seranngan bom pada masa perang Kemerdekaan,” Moh.Mahrus.

Setelah berdiri, Gereja Kelahiran Santa Perawan Maria menajdi pusat kegiatan ibadah umat Katolik di Surabaya. Gereja ini juga menjadi saksi perkembangan umat Katolik di Surabaya.

Pada tahun 1900-1923, jumlah umat Katolik di Surabaya terus bertambah. Kurang lebih terdapat 3.464 orang. Dari jumlah tersebut sebanyak 2.608 orang tinggal di Surabaya.

Ketua Surabaya Heritage Society Freddy H Istanto mengatakan, Gereja Katolik Kepanjen atau disebut Gereja Kelahiran Santa Perawan Maria memang eksotik.

Menurutnya, dinding yang dipasang dengan batu bata tanpa campuran spesi (semen) membuat pemasang dinding dengan bata ekspos seperti itu justru memerlukan ketelitian tinggi. Pemilihan bata harus bagus, tercetak rapi, tidak cacat dan relatif mutu bata harus lebih bagus.

“Gereja ini dari kejauhan sudah Nampak, karena dua Menara kembar setinggi sekitar 15 meter itu. Bangunan gereja saat ini bukan asli seperti pada awalnya dibangun,” ujarnya kepada Radar Surabaya.

Dia melanjutkan, gereja dahulu pernah terbakar. Selain itu dari catatan, gereja juga pernah menjadi sasaran bom pada masa perang kemerdekaan.

“Karena pernah terbakar hebat, sehingga kemudian di restorasi kembali,” paparnya.

Yang masih asli, kata dia, bagian tengah bangunan depan gereja yang menggunakan batu bata didatangkan dari Eropa. Untuk dua menaranya sudah bangunan renovasi tahun 1996. Sedangkan untuk renovasi jendela dan kaca-kaca sekitar tahun 1960.

Dosen Universitas Ciputra ini menuturkan, dahulu gereja awalnya dinamai dalam Bahasa Belanda , Onze Lieve Vrouw Geeborte. Dirancang arsitek Belanda W. Westmass.

Arsitek yang juga merancang Gereja Blenduk di Surabaya. Ditambahkan Freddy, jendela-jendela dengan hiasan kaca mosaic gereja menghadirkan nuansa tersendiri di Gereja Katolik Jalan Kepanjen itu.

Freddy menyebutkan jendela selain berfungsi sebagai media masuknya cahaya , juga untuk penerangan pasif, sekaligus menambahkan keindahan interior. Apalagi, lanjut Freddy, dengan hadirnya lukisan kaca serta dinamika warna-warni yang menyertainya.

“Frame jendela yang bernuansa klasik, menambahkan kuatnya kesan tempo-dulu,” katanaya. (bersambung/nur)

 

Sumber: Radar Surabaya. 13 Juni 2020. Hal. 3

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *