Menelusuri Kampung Pecinan. Surya. 7 Februari 2022. Hal.2

DALAM rangka Imlek. Sabtu (29/1/2022) Laboratory of Tourism Fakultas Pariwisata Universitas Ciputra Surabaya bekerja sama dengan perpustakaan Universitas Ciputra mengadakan acara Mlaku-mlaku Nang Pecinan. Rutenya dari Jalan Rajawali, Jalan Karet. Jalan Coklat. Jalan Slompretan. Kembang Jepun. Jalan Panggung, dan Jalan Kalimati.

Titik kumpulnya di depan Hotel Acardia. Tepat pukul 08.00 WIB peserta mulai berjalan ke arah timur menuju ke beberapa titik pemberhentian yang sudah direncanakan. Mereka berhenti untuk mendapatkan penjelasan tentang sejarah di Jembatan Merah. Kelenteng Hok An Kiong, Pasar Bong, Pasar Pabean. Taman Sejarah, dan beberapa rumah sembahyang seperti Rumah Abu Han, Rumah Abu The, serta Rumah Abu Tjoa.

Peserta yang hadir tampak antusias. Peserta yang seharusnya hanya tujuh orang bertambah hingga 18 karena banyak yang ingin ikut. Selain dari Universitas Ciputra Surabaya, mereka dari Universitas Airlangga. UPN, dan Universitas 17 Agustus 1945. Chrisyandi Tri Kartika. Pustakawan Universitas Ciputra Surabaya dan Ketua Komunitas Pernak Pernik Surabaya Lama memandu dan menceritakan fakta menarik tentang hidden gem dari lokasi-lokasi itu.

Pemberhentian pertama di Jembatan Merah. Di sana terlihat beberapa bangunan peninggalan Belanda yang masih difungsikan. Jembatan Merah dulunya bernama Roode Brug. Roode artinya merah dan brug artinya jembatan.

“Sisi sebelah timur Jembatan Merah di bagi menjadi tiga area berdasarkan tiga suku bangsa yang mendiami. yaitu Tionghoa. Melayu, dan Arab.” tutur Chrisyan di sambil menunjuk peta lama terbitan 1866 hingga cetakan 1951.

Selanjutnya adalah Jalan Karet yang di sepanjang jalan itu masih ada beberapa rumah dengan arsitektur bernuansa Tionghoa. Di jalan itu terletak rumah abu keluarga Han Bwee Koo. Pada bagian depan terdapat satu pintu kayu besar diapit dua jendela bundar berornamen naga. Rumah Abu Han yang terletak di Jalan Karet 72 itu dibangun pada awal abad XVIII dengan perpaduan tiga langgam arsitektur Melayu/Jawa, Eropa, dan Tionghoa yang merupakan keturunan Han pertama yang datang di Indonesia, yaitu di kota Lasem pada 1673. Rumah Abu Han merupakan cagar budaya yang bakal dijadikan museum oleh Pemkot Surabaya.

Sebelum berlanjut ke Rumah Abu The, peserta melewati Jalan Gula yang merupakan salah satu spot foto favorit. Menurut Chrisyandi, jalan itu bisa dibilang jalan seribu umat karena sering dibuat lokasi foto yang populer untuk prewedding, photoshoot, dan sebagainya.

Pemberhentian ketiga yaitu di rumah sembahyang keluarga The Goan Tjing. Ciri khas arsitektur Tionghoa pada atap rumah yang berciri pelana kuda dengan ujung ekor burung walet dan terdapat sepasang singa yang terbuat dari batu di sebelah kanan kiri pintu masuk.

Selanjutnya ke Klenteng Hok An Klong yang berada di Jalan Coklat. Itu merupa kan tempat ibadah Tri Dharma Yayasan Sukhaloka. Bagian depan pintu masuk tampak dijaga oleh ornamen Dewa Oe Tie Kiong dan Dewa Cin Siok Poo.

“Di tembok kanan-kiri di bagian dalam kelenteng ada lukisan sejarah panglima perang Kwan Kong yang menjadi pemimpin dinasti tiga kerajaan Tiongkok. Itul merupakan tiruan dari lukisan asli. Lukisan aslinya ada di balik tembok.” tutur Chrisyandi.

Rute selanjutnya adalah Pasar Bong lalu berjalan melewati Jalan Slompretan dan Jalan Kembang Jepun menuju Jalan Panggung. Jalan Panggung merupakan salah satu area di kawasan kota lama Surabaya yang berada di tengah Kawasan Ampel dan Kembang Jepun.

Di sebelah utara terdapat Pasar Pabean yang dibangun pada 1831. Pasar Pabean terkenal dengan hasil laut dan hasil bumi terutama bawang merah dan bawang putih.

Sepanjang pagi itu peserta benar-benar menikmati Surabaya di masa lalu. Arsitektur, suasana. wawasan, dan pengalaman baru menjadi bonus dari acara itu.

 

Sumber: Surya. 7 Februari 2022. Hal.2

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.