Menelusuri Jejak Bangunan Bekas Apotek Surabaya di Jalan Rajawali (5). Memiliki Jendela Besar, Atap Dibuat Sesauai Iklim Indonesia. Radar Surabaya. 4 Juni 2021. Hal.3. Freddy H Istanto. INA

Namun, jeruji tersebut kini tertutup oleh papan bekas reklame.  Sekilas dilihat dari Jalan Rajawali tidak seindah pada zaman dahulu.  “Untuk atap bangunan bekas apotek masih asli, belum pernah diganti,” terangnya.  Ketua Surabaya Heritage Society Freddy H Istanto menambahkan, bentuk bangunan lawas tersebut disesuaikan dengan kondisi iklim di Indonesia.  “Bentuk atap (bangunan) menjawab kondisi tropis di Indonesia,” jelasnya.  (bersambung/nur)

Salah satu keunikan bangunan bekas Soerabayasche Apothaek (Apotek Surabaya) adalah memiliki jendela dengan ukuran.  Jendela tersebut bisa dilihat langsung di lantai dua gedungnya.

Moh, Mahrus Wartawan

Radar Surabaya

ADANYA jendela tersebut berfungsi untuk mengatur cahaya yang masuk dan sirkulasi udara. Bangunan memiliki empat jendela besar di sisi lantai satu.  Sementara itu, pada bagian gedung bekas Apotek Surabaya itu kiri lantai dua.  Kemudian tiga jendela besar di sisi kiri bangunan depan jendela besar.  Namun kini sudah ditutup.

Pegiat Purwono mengatakan, pada bangunan bekas apotek yang ada di Jalan Rajawali Nomor 19 itu memang memiliki jendela berukuran jumbo.  Jendela tersebut sengaja dibuat besar karena untuk ventilasi udara.  “Selain itu juga untuk pencahayaan, ujar Nanang.

Pria yang juga merupakan salah satu anggota Begandring Soerabaia lantai dua terdapat dua Sejarah Surabaya Nanang ini menyatakan, jendela kini sudah diubah.  Menurut dia, terlebih dahulu yang terbuat dari kayu jati.

“Sekarang itu baru, pakai kaca nako. Asalnya dulu ya kayu,” ungkapnya kepada Radar Surabaya.

Jendela tersebut memiliki ukuran lebar sekitar 1 meter dan tinggi sekitar 1,5 meter.  Untuk bagian depan bangunan lantai satu jendela sudah tidak ada.  Kini mengganti pintu jenis roling door dan pintu kayu di bagian yang difungsikan sebagai toko alat tulis dan tempat foto kopi.

Sementara untuk balkon lantai dua terlebih dahulu menggunakan jeruji kayu.  Jeruji tersebut terpasang rapi dan memperindah bangunan bila dipandang dari depan Jalan Rajawali.

Namun, jeruji kini tertutup oleh papan bekas reklame.  Sekilas dilihat dari Jalan Rajawali tidak seindah pada zaman dahulu.  “Untuk atap bangunan bekas apotek masih asli, belum pernah diganti,” terangnya.

Ketua Surabaya Heritage Society Freddy H Istanto menambahkan, bentuk bangunan lawas tersebut disesuaikan dengan kondisi iklim di Indonesia. “Bentuk atap (bangunan) menjawab kondisi tropis di Indonesia,” jelasnya.  (bersambung/nur)

Sumber: Radar Surabaya. 4 Juni 2021

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *