Menelusur Pecinan di Kota Tua Surabaya

Dalam rangka menyambut Tahun Baru Imlek 2022, pada Sabtu, 29 Januari 2022 lalu, Laboratory of Tourism Fakultas Pariwisata Universitas Ciputra Surabaya mengadakan acara “Walking Tour: Mlaku-mlaku Nang Pecinan”. Adapun rute yang dikunjungi yaitu area Pecinan di Kota Tua Surabaya, antara lain: JMP (Jembatan Merah Plaza), Kya-Kya, Jalan Karet (Rumah Abu Han, The & Tjoa – Sightseeing), Kelenteng Hok An Kiong, Jalan Coklat, Pasar Bong, Pasar Pabean, dan Jalan Panggung. Melalui walking tour ini, diharapkan para peserta bisa bertemu dengan teman-teman baru, sekaligus mendapat trivia dan fakta menarik tentang hidden gem dari lokasi-lokasi yang dikunjungi bersama dengan tour leader Bapak Chrisyandi Tri Kartika, S.Sos yang merupakan salah satu Pustakawan Universitas Ciputra Surabaya dan juga ketua komunitas Pernak-pernik Surabaya Lama.

Trotoar depan hotel Arcadia Surabaya menjadi meeting point kegiatan yang dimulai pada Pkl. 08.00 WIB ini. Total 18 peserta yang hadir pun berasal dari beragam profesi, seperti dosen, mahasiswa dari beberapa universitas, ibu rumah tangga, dan tenaga kependidikan. Lokasi pertama yang menjadi pemberhentian adalah lokasi depan Jembatan Merah Plaza untuk melihat Gedung Internatio serta membandingkan dengan peta Surabaya lama yang dibagikan, melalui peta yang dibagikan, tampak kebijakan pemerintah kolonial yang dibuat untuk membagi permukiman penduduk berdasarkan etnisnya. Tampak area yang dikelompokkan dalam peta terdapat Chinezen Kamp, Arabische Kamp, Europesche Wijk dan kampung Pribumi. Kampung atau kawasan tersebut pun masih bertahan hingga kini dan menjadi salah satu tujuan wisata di Surabaya serta menjadi saksi bisu perjalanan masyarakat Surabaya.

Tur berlanjut ke area Jembatan Merah, “Jembatan merah pada awalnya bernama Roode Brug. Roode itu merah, Brug itu jembatan.” Jelas Pak Chrisyandi sebelum melanjutkan tur ke arah Jalan Karet. Rute selanjutnya dimulai sekitar Jalan Karet untuk melihat beberapa bangunan peninggalan budaya Tionghoa. Sepanjang Jalan Karet tampak arsitektur bernuansa tionghoa dan di jalan ini pula terdapat Rumah Abu Han, Rumah Abu The dan Rumah Abu Tjoa, namun selama pandemic belum bisa menerima tamu untuk masuk berkunjung. Perhentian pertama pada Rumah Abu Han, dimana terdapat simbol perpaduan arsitektur Jawa, Tionghoa, dan Eropa. Rumah Abu Han Bwee Koo yang tepatnya berada di Jalan Karet nomor 72 Surabaya ini memiliki nilai historis yang sangat tinggi dan bangunan yang punya nama asli Rumah Sembahyang Keluarga Han Bwee Koo ini kabarnya bakal dijadikan museum oleh pemkot Surabaya. Han Bwee Koo sendiri adalah seorang tokoh terkemuka Tionghoa Indonesia, pejabat pemerintah, dan sekutu Perusahaan Hindia Timur Belanda. Tampak pada Rumah Abu bagian depan dua pilar bercat abu-abu, satu pintu besar di tengah dengan pagar besi yang terpasang menempel di depan pintu kayu berornamen naga. Tampak pula dua jendela bundar terbuat dari batu berornamen naga khas Tionghoa di sisi kiri dan kanan teras rumah serta pintu depan rumah itu juga masih asli.

Sebelum berlanjut ke Rumah Abu The, rombongan tim Walking Tour melewati Jalan Gula, yang juga menjadi salah satu spot foto favorit anak muda Surabaya. “Jalan ini bisa dibilang jalan seribu umat, karena Jalan Gula ini sering dibuat lokasi foto yang populer untuk prewedding, photoshoot, dsb” Terang Pak Chrisyandi. Selanjutnya ada Rumah Abu milik keluarga The Goan Tjing yang terletak tidak jauh dari Rumah Abu Han. Dengan khas arsitektur Tionghoa, tampak juga pagar besi berwarna hijau di depan pintu masuk dengan sepasang singa batu di depan, seolah menjaga keamanan pintu masuk Rumah Abu The.

Lokasi selanjutnya adalah Klenteng Hok An Kiong, yang juga dikenal sebagai klenteng tertua di Surabaya. Klenteng ini didirikan tahun 1830 oleh Hok Kian Kong Tik. Klenteng ini merupakan Klenteng Tri Dharma yang memfasilitasi peribadatan umat Konghucu, Budha dan Tao. Tampak pula lukisan-lukisan indah di keramik tembok bagian dalam Klenteng yang menceritakan sejarah Panglima Perang Kwan Kong menjadi pemimpin dinasti tiga kerajaan Tiongkok. Spot selanjutnya peserta diajak untuk berkunjung ke Pasar Bong. Di dalam pasar yang terletak area Kembang Jepun ini terdapat satu rumah yang berdiri di atas pekuburan Tionghoa atau pekuburan keluarga (arti lain Bong).

Jalan Panggung dan Pasar Pabean menjadi rute perjalanan akhir dari rangkaian acara yang disusun. Jalan Panggung sendiri merupakan salah satu area di kawasan kota lama Surabaya yang berada di tengah-tengah Kawasan Ampel dan Kembang Jepun. Pada 2019 lalu Pemerintah Kota Surabaya sempat melakukan revitalisasi sepanjang jalan ini, berupa pengecatan, pembuatan trotoar dan memasang lampu hias serta pemasangan paving block sepanjang jalan. Alhasil saat ini jalan Panggung menjadi salah satu lokasi yang menarik wisatawan berkunjung ke kawasan wisata kota tua yang berada di sudut kota ini. Pak Chrisyandi menjelaskan, “Teman-teman yang ingin berkunjung ke Jalan Panggung ini, usahakan hari Senin sampai Sabtu ya, kalau hari Minggu dipastikan tutup semua ini, sepi!”

Selain banyak menyediakan banyak spot foto menarik, Jalan Panggung sendiri memiliki atmosfir berbeda ketika kita melewatinya. Ramai keragaman budaya tampak di jalan ini. Bau harum rempah-rempah dan keberadaan pertokoan berarsitektur tradisional yang masih kental serta lampu hias eksotis menemani perjalanan Pak Chrisyandi dan rombongan. Ke arah Utara menuju Pasar Pabean suasana semakin ramai dengan lalu lalang warga dan pedagang yang membawa barang dagangannya. Di tengah menjamurnya pusat perbelanjaan modern saat ini, Pasar Pabean yang telah berusia 150 tahun ini masih tetap eksis. Pasar Pabean sendiri merupakan pusat perdagangan palawija di Jawa Timur dan memiliki jenis dagangannya yang sangat segmented, yaitu ikan asin hingga ikan segar baik laut maupun air tawar. “Pasar ini dibangun tahun 1831, dan dibagi 2, area pasar basah dan pasar kering.” Ujar Pak Chrisyandi. Area pasar basah diperuntukkan untuk jenis jualan serba ikan, sedangkan untuk pasar kering untuk aneka hasil bumi.

Sekitar Pkl. 10.30 WIB peserta berkumpul di area Taman Sejarah depan Jembatan Merah Plaza untuk acara kuis dan pembagian giveaway serta foto bersama menjadi penutup rangakaian acara Walking Tour siang itu.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.