Menelisik Sejarah Kawasan Jalan Sulung (12)_Warga Didominasi Tionghoa dan Eropa. Radar Surabaya, 9 Januari 2021. Hal 3. Chrisyandi.Lib

“Bangunan kuno di kawasan Jalan Sulung tidak begitu banyak. Di situ hanya ada beberapa bangunan, seperti SDN Alun-alun Contong dan rumah-rumah warga dengan desain khas Eropa dan Tionghoa,” Ginanjar Elyas Saputra

BANYAKNYA rumah penduduk di kawasan ini campuran, yakni orang etnis Tionghoa dan Eropa. Selain dikarenakan adanya peradapan penga-nut Kristen Tionghoa, juga dipengaruhi tempatnya yang strategis dengan pusat kota.

Sejarahwan sekaligus pustakawan Universitas Ciputra Surabaya Chrisyandi Tri Kartika menjelaskan, kawasan ini menjadi salah satu tempat strategis bagi warga saat itu.

“Banyak bangunan tempat tinggal di sana. Karena tempat itu tidak jauh dari pusat bisnis dan perkanto-ran.” kata Chrisyandi kepada Radar Surabaya.

Saat ditanya apakah kavvasan ini termasuk kawasan yang dijadikan untuk berdagang seperti di Jalan Bongkaran? Chrisyandi mengatakan tempat ini hanya sekadar digunakan untuk hunian.

Berbeda dengan kawasan di pinggir sungai Kalimas yang menjadi lokasi strate-gis untuk kegiatan niaga, seperti di Jalan Karet, Semut Kali, Kalimas Barat, hingga Jalan Kalimas Utara. Jalan Sulung hanya sebagai kawasan pemukiman saja.

“Beda dengan sekarang di pinggir sungai itu sekarang banyak pergudangan dan rumah toko (ruko). Dulu ya cuma rumah-rumah saja,” ujarnya.

Lokasinya yang dahulu bekas Keraton Surabaya yang kemudian dibangun Kantor Gubernur Jatim mungkin juga menjadi alasan kawasan Jalan Sulung ini hanya sebagai pemukiman. Dimana kawasan tersebut sedikit diatur dan dibatasi, agar tak terlihat semrawut, padat dan ramai hiruk pikuk aktivitas niaga. (bersambung/nur)

 

Sumber: Radar Surabaya. 9 Januari 2021. Hal. 3

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *