Menelisik Sejarah Kawasan Boto Putih (21)_Jadi Rute Pejuang Menuju Pertempuran. Radar Surabaya. 26 Mei 2021. Hal.3. Chrisyandi. LIB

Seiring berialannya waktu, Belanda masuk ke kawasan Botoputih sebingga ada perubahan besar dari sisi per kembangan bangunan.  Pada zaman penjajahan kawasan Butoputih, Kebondalem hingga Kertopaten jadi tempat ber-kumpulnya para pejuang untuk melawan Belanda.

Rahmat Sudrajat Wartawan

Radar Surabaya

Menurut Pustakawan Sejarah Chrisyandi Tri Kartika, hampir semua kawasan di Surabaya terdapat banyak pejuang.

“Rute pertempuran pun juga terdapat di area tersebut (Botoputih) menuju ke Sidotopo dan Kedungcowek,” katanya kepada Radar Surabaya.

Namun, pengaruh penjajahan Belanda juga berpengaruh pada struktur bangunan di kawasan Botoputih. “Pembangunan Surabaya Utara juga secara bersamaan terutama karena pengaruh jug dari Belanda,”.

Sementara itu, Pegiat Sejarah Surabaya Nur Setiawan mengatakan, para pejuang itu berkumpul hanya masyarakat, namun para santri juga berjuang untuk berjuang merebut kemerdekaan dari genggaman Belanda.

“Ya bahkan ketika jalan menuju Ampel juga diblokir Belanda, mereka harus menyusun strategi untuk bisa membuka jalan tersebut sehingga jalan yang diblokir tadi bisa digunakan untuk syiar agama,” katanya.

Bahkan, kawasan Botoputih yang saat ini berada di kawasan Kertopaten juga menjadi basis para pejuang Lemerdekaan. Pasalnya, di kawasan Kertopaten terdapat ulama besar yakni Alwi Muso Kertopaten yang masih kerabat dengan KH  Mas Mansyur yang saat ini namanya menjadi nama jalan di belakang Ampel.(bersambung/nur)

 

Sumber: Radar Surabaya. 26 Mei 2021. Hal.3.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *