Menara Pandang Masih Sedap Dipandang

SURABAYA – Menara Pandang bisa jadi salah satu cagar budaya yang paling sulit ditemukan. Lokasinya yang berimpitan dengan bangunan lain di Jalan Kalimas Timur membuatnya kerap terlewat dari pandangan masyarakat awam. Namun, Menara Pandang itu dinilai sebagai salah satu contoh cagar budaya yang cukup terawat.

Kondisi Jalan Kalimas Timur jauh berbeda dengan Kalimas Barat. Meski hanya terpisah sungai, Jalan Kalimas Timur dipenuhi lubang. Beberapa bagian juga dibiarkan dengan tanah tanpa aspal atau paving. Sehari-hari, jalan itu dipakai sebagai tempat parkir truk besar. Sebab, di sisi timur jalan berjejer gudang-gudang.

Meski cukup tersembunyi, bangunan menara yang dulu digunakan sebagai pemantau aktivitas pelabuhan lama tersebut terlihat paling ceria. Cat hijau dan kuning pucat masih terlihat kinclong dengan pintu dan jendela yang utuh di lantai 2 dan 3. Itu tanda-tanda bahwa pemilik bangunan tersebut masih merawatnya dengan baik.

“Yang punya bangunan itu sekarang orang Tionghoa. Tapi, memang bersih dan terawat terus,” ungkap Rodhi’ah, warga Kampung Baru Bangilan, Nyamplungan, kemarin (20/2).

Direktur Sjarikat Poesaka Surabaya Freddy Istanto menuturkan, Menara Pandang memang harus dipertahankan sebagai salah satu monumen di Surabaya. Sebab, bangunan itu menjadi saksi perdagangan awal di Surabaya saat masa kolonial Belanda. “Saat dulu Kalimas jadi pintu masuk kapal-kapal dari luar Surabaya, bangunan ini yang menjadi tempat otoritas,” jelasnya.

Apalagi, kata dia, bangunan tersebut menyimpan logo suro dan boyo zaman baheula. Di sana belum terlihat desain buaya dan hiu yang saling berhadapan. Yang terlihat hanya hiu yang menghadap ke kiri, sedangkan buaya di bawahnya menghadap ke kanan. (bil/c20/any)

 

 Sumber: Jawa Pos. 21 Februari 2018

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *