Membangun Sikap Asertif_Bekal Anak untuk Membangun Relasi. Jawa Pos. 24 Januari 2021.Hal.40

Menghadapi anak memang tak mudah. Ada kalanya mereka membantah, tidak memedulikan, hingga sulit mengontrol emosi.  Agar kondisi itu tak terjadi, orang tua bisa mengenalkan pola komunikasi yang sehat dan sikap asertif kepada buah hati.

SEPERTI APA SIH KOMUNIKASI YANG ASERTIF?

Komunikasi asertif diartikan sebagai strategi komunikasi dengan penyampaian terbuka, tegas, dan tetap menghormati lawan bicara.  Seperti apa aplikasinya?

  • Menatap mata lawan bicara secara positif, tetapi tak mengintimidasi.
  • Tak mendominasi atau hanya menjadi pendengar dalam percakapan.
  • Mengungkapkan pendapat langsung pada poinnya.
  • Penyampaian jujur, sesuai dengan bahasa tubuh.
  • Tegas dan ramah tanpa menampakkan emosi negatif atau kebencian.
  • Yang disampaikan logis dan berdasar fakta.
  • Mampu menggunakan pengandaian seperti ilustrasi cerita yang serupa dengan apa yang sesuai untuk anak.
  • Bisa mėnginisiatori sekolah percakapan dengan gaya S bertanya (misalnya, “Tadi, di kantor Ibu. Kalau kakak di tadi, gimana? Ada cerita apa?”).
  • Melibatkan anak untuk mencapai solusi sehingga kesepakatan yang dicapai kedua belah pihak.

 TEGAS, BUKAN GANAS

  • Marah adalah emosi yang wajar. Namun, ayah dan ibu perlu berhati-hati dalam menyampaikannya ya.
  • Oracle diskusi ketika kondisi emosi orang tua maupun anak masih “panas”. Jujur kepada anak dan tak ragu minta maaf. Contoh: “Nak, maaf tadi Mama marahin kamu karena …”
  • Bagi orang tua yang dulu yang dulu diasuh secara otoriter dan keras, jangan marahkan “dendam” masa lalu kepada anak.

ANAK-ANAK masa kini dihadapkan dengan tantangan yang berbeda dengan orang tuanya.  Pandemi, perundungan di dunia maya, dan banyak lainnya.  Mereka tumbuh sebagai generasi yang “menantang” bagi ayah dan ibunya.  Psikolog Lucy Lau menilai bahwa sikap tersebut muncul sebagai cara untuk menarik perhatian dari lingkungan sekitar.

“Ngelawan ucapan orang tua atau membandel adalah cara anak menyampaikan pesan bahwa mereka bosan, sedih, dan tersakiti,”paparnya.  Sikap itu muncul karena anak-anak yang memiliki keterampilan komunikasi yang dibutuhkan.

Menurut Lucy, untuk menghindari hal tersebut, orang tua perlu menanamkan sikap asertif di diri anak.  Ibu dan ayah perlu membangun kedekatan yang hangat.  Prinsipnya, layani diinterupsi pekerjaan atau anak dengan utuh. Ketika mereka berkeluh kesah, dengarkan dan tanggapi, “tegas pakar parenting tersebut.  Dia menekankan bahwa obrolan sebaiknya tidak kesibukan lain.

Ibu empat anak itu sadar, membangun komunikasi dengan anak tak mudah.  Apalagi saat buah hati mulai usaha semaunya sendiri.  Lucy menjelaskan, dalam kondisi tersebut, orang tua boleh menegur.  Ingat, jangan asal bentak dan kasih label nakal. Yang kita tegur adalah kelakuan, bukan si anak, “jelasnya.

Jika emosi anak mereda, barulah ibu atau ayah ajakan buah hati berbincang lebih lama.  “Posisi orang tua tidak cuma menasihati. Misalnya, anak ngelunjak karena kesal. Tanyakan, keselnya karena apa? Karena tugas sulit atau temankah?”  katanya.  Berikan dukungan kepada anak dengan penuh simpati.  Misalnya, dengan sahutan, “Ibu dulu juga begitu atau oh, ayah baru tahu bahwa teman kakak.”  Lalu, mulai bangun solusi bersama.  Lucy mengungkapkan, pola komunikasi seperti itu membuat anak lebih terbuka karena takmerasa dihakimi.  Hubungan hangat tak hanya bermanfaat bagi orang tua.

Lucy mengungkapkan bahwa komunikasi komunikasi dua arah juga menjadi bekal anak untuk membangun relasi.  Mulai dengan teman, rekan kerja, hingga pasangan.  Ujamya “Anak kelak mampu berunding sehingga bisa berkomunikasi untuk menemukan win-win solution”.

Di sisi lain, penerapan komunikasi yang asertif juga membantu anak menerima dirinya sendiri.  Lucy menuturkan bahwa anak-anak yang diasuh secara otoriter oleh orang tua yang tak mau mendengar cenderung memiliki self-talk yang negatif.  “Ketika mengalami masalah atau kesulitan, mereka menyalahkan dir. ‘Emang aku enggak becus dan sebagalnya, lanjutnya.

Alhasil, hubungan orang tua-anak renggang. Saat anak beranjak dewasa, efeknya pun masih melekat. Contohnya, penolakan atau penolakan terhadap perasaan diri sendiri.  “Merela rentan menjadigenerasi BLAAST-boreri, kesepian, takut, marah, stres, lelah (pembosan, merasa sendir. Penakut, pemarah, mudah tersinggung, dan lelah)” tegas Lucy. (Fam / cl4 / nor)

 

Sumber: Jawa Pos. 24 Januari 2021.Hal.40

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *