Membangkitkan Pariwisata Lombok-Sumbawa. Bali Post. 12 September 2018. Hal. 4_I Dewa Gde Satrya. IHTB

Oleh Dewa Gde Satrya (Penulis, Dosen Hotel & Tourism Business, Fakultas Pariwisata, Universitas Ciputra Surabaya)

GEMPA di lombok tidak hanya meninggalkan duka lara, tetapi juga harus disiapkan upaya revitalisasi dari sektor pariwisata. Mengingat pembangunan pariwisawa NTB khususnya, telah direncanakan secara matang dan berkelanjutan sejak pemerintahan SBY dan dilanjutkan oleh Jokowi saat ini dalam program “10 Bali Baru”.

Pada 5 Juli 2009, diluncurkan “Visit Lombok Sumbawa 2012” dengan targer menggaet sekitar satu juta wisatawan mancanegara (wisman). Dari segi teknis, terbukti program wisata itu bisa dikatakan sangat terencana dan berhasil. Itu, artinya, pencanangan ini bukan dadakan sebagaimana umumnya atau sering kita perhatikan pada pencanangan tahun kunjungan wisata di Tanah Air.

Secara topografi, provinsi Nusa Tenggara Barat yang memiliki dua pulau (Lombok dan Sumbawa) Memiliki sekurangnya 15 Objek dan Daya Tarik Wisata (ODTW). Diantaranya yang popular adalah pantai senggigi dan Gili Trawangan. Pulau yang biasa di sebut sebagai Pulau Seribu Masjid ini ditengarai semakin banyak mengundang perhatian wisatawan asing khususnya. Kahadiran Lombok-Sumbawa dalam pentas industri dan destinasi wisata di Tanah Air berdampak strategis bagi Indonesia, khususnya dalam persebaran dan pemerataan ODTW unggulan.

Data kunjungan wisman ke NTB pada tahun 2008 mencapai 450 ribu orang, dan tahun 2009 meningkat menjadi 500 ribu orang. Pada tahun 2017, jumlah wisman yang berkunjung ke Lombok naik menjadi 3,5 juta orang. Karena itu, pengemasan dan penjadwalan event wisata regular berperan penting mendongkrak kunjungan wisatawan ke NTB. Misalnya, di event akbar pariwisata, yakni Lombok Sumbawa Pearl Festival 2010 dan Indonesia MICE&Corporate Travel Mart (IMCTM) yang di gelar di The Santosa Villas&Resort Sengigi, Lombok. Di samping itu, perlu strategi marketing yang efektif guna mendongkrak dan melakukan percepatan kemajuan pariwisata Lombok-Sumbawa. Yang tak kalah pentingnya, berlajar dari pengembangan sekor pariwisata daerah lain di Indonesia, Lombok-Sumbawa perlu dikemas dalam suatu city branding dan logo yang iconic NTB, sebut misalnya, mutiara.

 

Marketing 2.0

Dalam konteks pariwisata, marketing 2.0 ini selaras dengan tantangan zaman dan kebutuhan di era digitalisasi. Media promosi pariwisata seperti familiarization trip, road show, iklan, dan regular event perlu diperkuat dengan media atau alat promosi virtual ala marketing 2.0 ini. Dirasakan, targer pasar saat ini lebih efektif untuk didekati secara langsung ketimbang melalui media perantara lain. Falsafah marketing 2.0 ini, lebih memperhatikan relasi langsung dan kedekatan personal atau kamunitas.

Malalui marketing 2.0, dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi, semakin mendekatkan pariwisata Lombok-Sumbawa dengna pasar wisatawan mencanegara. Sekadar contoh, pariwisata Surabaya selain mengandalkan webside sparkliksurabaya.com, juga membangun link dengan surabayafood.com dan Surabaya Tourism Mobile Service (STMS) yang bisa di akses di handphone dan blackberry. Jika selama ini beberapa daerah cenderung mengandalkan Tourism Information Center dalam memberikan informasi kepada wisatawan yang berkunjung, melalui STMS langsung memberikan informasi menyeluruh kepada wisatawan.

Pengemasan website promosi pariwisata meniscayakan ketepatsasaran strategi promosi untuk menggarap setiap segmentasi pasar. Dengan kata lain, website promosi pariwisata mengandaikan adanya kedalaman intuisi dan riset tentang ketertarikan, ekspektasi dan perilaku berwisata wisatawan mencanegara di berbagai negara calon Customer.

Pasar Asia misalnya, lebih menyukai shopping dan golf. Wisatawan Eropa lebih ke arah heritage dan art. Merki juga diakui tidak semua diberlakukan seperti demikian. Namun peling tidak website promosi pariwisata wajib men-display berbagai ketertarikan dan atraksi wisata untuk menjaring berbagai segmen pasar wisatawan mancanegara. Pengemasan website jelas-jelas tidak lagi dalam dua bahasa: Indonesia dan Inggris. Tetapi semakin meluas menjadi bahasa Jepang, Korea, Mandarin, Jerman dan Belanda.

Pada akhirnya, marketing 2.0 ini juga bergantung pada eksistensi nyata pelaku-pelaku wisata di Tanah Air. Sinergi pemerintah dan stakeholder pariwisata terkait diperlukan untuk memperkuat digitalisasi pemasaran ini. Bagi Lombok-Sumbawa, website pariwisata semakin penting untuk membangun citra dan mempermudah sekaligus memberikan benefit yang optimal kepada wisatawan. Dengan kata lain, marketing 2.0 untuk pariwisata Lombok-Sumbawa membutuhkan sinergi yang erat dengan birokrasi pemerintahan terkait (pusat dan daerah), dan semua lini stakeholder kepariwisataan terkait (airlines, perhotelan, agen perjalanan wisata, restoran dan pengelola objek wisata). Ada optimisme sekaligus harapan yang besar bagi pembangunan kepariwisataan Lombok-Sumbawa.

 

Sumber : Bali-Post.12-September-2018.Hal.4

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *