Memaafkan Kado Terbaik Untuk Diri Kita

Penulis: Tika Anggraini Purba

Seberat apa pun kesalahan yang dilakukan oleh seseorang, alangkah lebih baik jika kita memberi maaf kepadanya. Bukan sekedar untuk menyelesaikan persoalan, memaafkan membawa gelombang kebaikan untuk jiwa dan raga kita.

Siska termenung. Perempuan separuh baya dihadapannya juga tak berani menatap. Dalam benak Siska, tergambar lagi kisah-kisah masa lalu yang membuat pilu. Dadanya sesak menahan geram. Hari itu adalah pertemuan Siska dengan ibunya setelah berpisah 20 tahun. Namun tidak ada sedikitpn keinginannya untuk melepas rindu. Penyiksaan yang diterima siska hingga usia 15 tahun telah menyebabkan luka fisik dan hati yang dalam. Apalagi, pada akhirnya perempuan itu meninggalkan siska dan ayahnya dalam keadaan sulit. Tak sedikit pun siska berpikir untuk memaafkan ibunya. Lain lagi dengan cerita Kris. Ia bercerai dengan isrti yang baru dua tahun dinikahinya. Semua itu terjadi lantaran istrinya kedapatan berselingkuh di depan matanya sendiri. Kini, jangankan memaafkan. Kris bahkan tak sudi untuk sekedar bertemu.

Cara tepat untuk menghukum

Memang betul, memaafkan kesalahan seseorang, tidak semudah mengucapkannya. Sebab, bagi sebagian orang memaafkan bukan hal yang sepele. Apalagi jika kesalahan itu meningggalkan luka karena dihianati, dihakimi, disakiti, dan dihina. Jangankan bertemu, mengingatnya saja sudah menyakitkan. Tapi apakah benar memaafkan bisa sesulit itu? Atau jangan-jangan, kita hanya terjebak dalam perasaan yang tersakiti?orang yang tersakiti sulit memaafkan karena mereka akan berkeinginan agar sipelaku tahu bahwa dia sudah melukai hatinya. Karena sakit hati, kadang timbul juga rasa mengasihani diri sendiri sebagai korban. Lantas, tidak memaafkan seolah menjadi cara paling tepat untuk menghukum si pelaku. Pada akhirnya kerelaan hati untuk memaafkan sudah tertimbun jauh di atas tumpukan kesalahan. Apalagi jika masih ditambah lagi dengan kebencian.

Ketika seseorang menjadi korban atas perbuatan orang lain, umumnya dia akan merasakan dua hal. Pertama, rasa marah, kesal, kecewa, benci dan merasa tersakiti. Kedua, ada pikiran untuk balas dendam. Ia berharap ada suatu kejadian buruk yang menimpa pelaku. Atau setidaknya terjadi peristiwa serupa terhadapnya. Nah jika perasaan itu masih ada dalam diri korban, maka itu belum bisa dikatakan telah memaafkan.

Pertama-tama, mungkin perlu disadari, manusia tentu tak lepas dari kelemahan dan kesalahan. Selain itu, setiap orang lahir dan bertumbuh dengan karakter yang berbdeda-beda. Ada yang sifatnya kasar, lembut, pemarah, tenang dan lain-lain. Semua kondisi itu bisa membuat orang bersinggungan satu sama lain.

Kadang pergesekan antara karakter itu menghasilkan konflik yang merembet kemana-mana. Hasilnya, ada hati yang terluka, dendam membara, dan kebencian yang sulit diredam. Duh, sebenarnya kalau dipikir-pikir, tidak ada hal positif dari menyimpan kesalahan orang lain. Tapi mengapa banyak ornag yang lebih suka tenggelam dalam rasa enggan memaafkan?

Tidak memaafkan adalah penyakit

Pada umumnya manusia pernah mendapatkan luka ditubuhnya. Dalam kondisi seperti itu, mereka pasti akan segera mencari obat untuk menyembuhkannya. Namun anehnya, pada kondisi sakit hati karena perasaan dan harga diri yang terluka, mengapa tidak semua orang secara spontan mencari obatnya? Bahkan tak sedikit orang yang cenderung membiarkan rasa sakit hati itu dalam dirinya. Adanya amarah, kebencian, dendam, dan sakit hati sebenarnya menunjukkan bahwa kita sedang mengidap penyakit serius bernama penyakit enggan memaafkan. Tentu penyakit ini harus segera diobati.

Psikolog Klinis Dewasa, Ignatia Aditya Hapsari, M. Psi, menyatakan seseorang yang belum memaafkan cenderung memiliki perilaku baru yang berasal dari konflik masa lalu yang belum selesai. Ilmu psikologi menamainya unfinished business. Celakanya, semakin lama kondisi ini dibiarkan akan semakin sulit penanganannya. “karena orang itu tidak hanya harus disembuhkan sakit hatinya, tapi juga karakter dan perilaku baru yang terbentuk karena luka batin yang tidak diobati, “tutur Aditya.

Contohnya siska yang diasuh dalam kekerasan ibunya, tumbuh menjadi pribadi dengan karakter yang lemah. Sakit hati yang disimpan terus-menerus mempengaruhi konsep dari dan cara pandangnya. Ia akan menganggap semua ibu adalah orang jahat, sama seperti ibunya. Ia juga cenderung menarik diri, sulit percaya kepada orang lain, jutek, dan tertutup. Begitu pula dengan Kris. Sakit hati akibat perselingkuhan membuat ia beranggapan semua perempuan adalah tukang selingkuh. Akibatnya ia sulit membangun hubungan dengan perempuan. Emosinya negative setiap kali melihat ada pasangan yang mesra. Dalam pikirannya tidak aka nada pasangan yang langgeng, karena semua perempuan berselingkuh. Sama seperti mengobati luka fisik, kita tidak boleh malas mengurus soal luka hati. Jangan pernah berpikir, luka karena kesalahan orang lain bisa sembuh seiring waktu berlalu.

Justru waktu bisa menginfeksi luka itu sehingga sakitnya makin parah. Yang paling tepat, kita memang butuh waktu untuk berproses dalam memberi maaf dan memulihkan diri. Banyak juga orang yang menekankan dalam dirinya, “saya tidak bisa memaafkan”. Tapi persoalannya bukan “tidak” bisa tapi “tidak mau”. Kita perlu memahami, memaafkan bukan sebuah kemampuan tetapi kemauan dan pilihan. Kita yang memilih, mau membebaskan dari dari sakit hati atau tidak. Mau memberi maaf atau tidak.

Memaafkan, obat paling manjur

Antara meminta maaf dan memberi maaf sesungguhnya sama derajatnya. Namun kita cenderung lebih memuliakan pemberian maaf. Penyebabnya karena pihak yang menderita dalam rusaknya suatu hubungan adalah orang yang disakiti. Bukan pelaku yang menyakiti. Ketika seseorang menyakiti orang lain, ia mungkin tidak langsung menyadari kesalahannya dan langsung meminta maaf. Karena ketidaksadaran itu, si pelaku bisa hidup dengan tenang bahkan lupa. Kalaupun akhirnya ia menyadari, tidak dibutuhkan energi besar untuk meminta maaf dibandingkan dengan memberi maaf.

Dari sisi korban, salah satu faktor yang membuat seseorang sulit memaafkan adalah pengabaian. Ia bersikap seolah-olah kesalahan dan konflik itu tidak pernah terjadi dengan cara mengabaikanya.  “Hal ini disebut fase denial, menganggap dirinya baik-baik saja dan merasa nyaman dengan kondisi masa bodoh yang dipilihnya tersebut,”kata Aditya. Kanyataan itu tentu memprihatinkan, karena justru rasa sakit maupun pengabaian yang kita lakukan sebenarnya menunjukan ada yang perlu dibereska dalam diri kita. Agar dapat merasakan kebebasan dan kelegaan, mau tidak mau kita harus membutulkan ketidakberesan itu.

Ada banyak cerita dan metode untuk belajar memaafkan, tapi semuanya itu mesti berawal dari niat di dalam diri. Niat itu bisa berasal dari kesadaran yang timbul akibat mulai terganggu oleh rasa marah dan kebencian yang belum terlepaskan tadi. Niat memaafkan itu juga patut dicampur dengan kerelaan dan kerendahan hati. Memang tidak mudah, tapi itulah satu-satunya jalan lepas dari belenggu kebencian.

Tidak Wajib rekonsiliasi

Mungkin banyak orang beranggapan, mengingat masa lalu hanyalah suatu yang sia-sia, karena tidak aka nada yang bisa mengubah sesuatu yang sudah lewat. Namun dalam proses memaafkan, kita wajib melewati fase melihat mundur ke masa lalu. Tujuannya agar kita bisa menelusuri akar persoalan dari hubungan yang retak. Sebab selalu ada alasan dari semua persoalan. Alasan itulah yang wajib kita temukan. Setelah intropeksi diri, langkah selanjutnya adalah konfrontasi. Konflik tidak akan pernah selesai jika tidak didiskusikan. Akan lebih baik jika kita bisa langsung berhadapan dengan orang yang bermasalah terhadap kita. Tapi jika orang itu tidak bisa terjangkau karena jarak, keadaan, dan kematian, sebaiknya kita terbuka pada orang lain.

Persoalan semacam ini jangan dipendam, ceritakan dan berbagilah pada orang yang bisa dipercaya, bahkan jika perlu mintalah pertolongan pada psikolog. “Seseorang bisa dikatakan tuntas mamaafkan bila ia telah mengalami perubahan emosi dan perilaku. Yang tadinya marah berubah menjadi tidak marah, yang tadinya kecewa berubah menjadi tidak kecewa lagi, “tutur Aditya. Jika kondinya sudah seperti itu, tambah Aditya, maka yang terpenting adalah telah terjadi perubahan dalam diri sendiri. Kita justru tidak berkewajiban untuk membangun kembali hubungan dengan ornag yang sudah kita maafkan. Karena memaafkan itu bisa berdiri sendiri, tanpa rekonsiliasi. Selamat memaafkan. Selamat memberi kado terbaik bagi diri sendiri.

 

 

Mendatangkan sehat dari sebuah maaf

Memaafkan bukan hanya mendatangkan kelegaan jiwa, namun juga reaksi yang sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh. Berikut fakta-fakta ilmiahnya:

Saat marah, tubuh memproduksi hormone “negative” seperti kostisol yang membuat stress. Pada waktu memaafkan, tubuh memproduksi emosi positif melalui hormone endorphin yang membuat kita merasa lebih senang dan tenang.

  • Tekanan darah dan detak jantung yang tadinya tidak normal karena menyimpan kemarahan menjadi normal kembali.
  • Tidur lebih nyenyak karena perasaan menjadi lega
  • Tingkat kekentalan darah berkurang sehingga baik untuk sistem peredaran darah
  • Sistem kekebalan tubuh meningkat karena otak tidak beraktifitas terlalu berat seperti yang dialami oleh orang yang marah dan stress.
  • Tekanan darah yang tadinya meningkat tidak normal saat menyimpan kemarahan, semakin stabil
  • Raut wajah menjadi lebih bahagia karena otot alis mata yang tadinya tegang telah mengendur
  • Hidup lebih lama dibandingkan orang yang tidak memaafkan (the Journal of behavioral medicine)
  • Stress berkurang karena otot-otot yang tadinya tegang mulai mengendur

 

Banyak alasan untuk memaafkan

Menyimpan kemarahan tidak akan menghancurkan mereka yang bersalah pada kita, kitalah ornag yang paling terluka karena tidak memberi maaf.

Memaafkan bukan berarti memaklumi kesalahan orang lain, tapi tindkaan pencegahan agar diri kita tidak hancur digerogoti kebencian.

  • Tanpa mamaafkan tidak aka nada pemulihan diri dan pemulihan hubungan
  • Memaafkan memang tidak mengubah masa lalu, namun mengubah masa kini dan masa depan
  • Memaafkan bukan untuk orang yang lemah. Hanya orang yang berjiwa besar dan kuatlah yang sanggup memaafkan
  • Dengan memaafkan bukan berarti kita harus kembali mempercayai orang yang pernah bersalah pada kita.

 

 

Nelson Mandela

Memaafkan semua musuh-musuh politik yang telah membuatnya dipenjarakan selama 18 tahun tanpa dakwaan yang jelas. Bahkan setelah menjadi presiden, ia tidak menggunakan kekuasaannya untuk menangkap musuh-musuh politik itu.

Elisabet & Suroto

Orang tua dari Ade Sara Angelina Suroto, korban pembunuhan oleh mantan kekasihnya sendiri beserta kekasihnya pada 2014 lalu. Orangtua Ade Sara memaafkan kedua pelaku yang telah merenggut nyawa putri semata mayang mereka.

Amelia Ahmad Yani

Menyaksikan langsung ayahnya, jenderal (Anumerta) Ahmad Yani, terbunuh pada peristiwa 30 September 1965. Sempat mengalami trauma dan kemarahan mendalam, namun dengan tulus akhirnya ia memaafkan semua orang yang terlibat dalam peristiwa tragi situ.

Paus Yohannes Paulus II

Memaafkan Mehmet Ali Agca, pelaku penembakan yang hampir saja merenggut nyawanya pada 13 Mei 1981.

 

 

Kata mutiara

Jika kita ingin benar-benar mengasihi seseorang, maka kita harus belajar bagaimana cara memaafkan. Bunda Teresa (1910-1997), Misionaris

 

Sumber: INTISARI, Juli 2016

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *