Melipatgandakan Lapangan Kerja Sektor Pariwisata. Venue.Edisi. 147. Februari 2020. Hal.54-55. Dewa GS. IHTB

ISHNUTAMA Kusubandio ditunjuk sebagai Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pada Kabinet Indonesia Maju (KIM). Sosok insan kreatif, pebisnis, dan jagoan dalam industry kreatif, khususnya pertelevisian dan seni pertunjukan, ini menumbuhkan harapan baru akan meningkatnya kesejahteraan dan kehidupan bangsa yang lebih baik dari sector pariwisata. Tentu saja hal ini diharapkan semakin menambah keperkasaan kepariwisataan berbalut kreativitas di Tanah Air.

Pada 27 September lalu, dunia merayakan World Tourism Day. Isu dan tema sentral yang diangkat oleh United Nation World Tourism Organization adalah peran pariwisata dalam penciptaan lapangan pekerjaan. Indikator kinerja utama untuk sektor pariwisata adalah jumlah tenaga kerja langsung, tidak langsung, dan ikutan sektor pariwisata.

Tenaga kerja langsung untuk sector pariwisata adalah di bidang akomodasi, travel agent, airlines dan pelayanan penumpang lainnya, termasuk tenaga kerja di sektor usaha restoran dan tempat rekreasi yang langsung melayani wisatawan. Tenaga kerja tidak langsung ada di sektor promosi pariwisata, furnishing/equipment, penyewaan kendaraan, dan manufaktur transportasi. Tenaga kerja ikutan mencakup antara lain tenaga kerja pada sektor supply makanan dan minuman, wholesaler, computer utilities, dan jasa perorangan (Idrus,2018).

Kementrian Pariwisata (2017) melansir capaian jumlah tenaga kerja langsung, tidak langsung, dan ikutan sektor pariwisata tahun 2017 dari target 12,4 juta orang yang terealisasi sebesar 12 juta orang, atau tercapai sebesar 96,77%. Kemenpar juga meningkatkan kompetensi, baik dari segi kapasitas maupun profesionalitas tenaga kerja pariwisata, terealisasi sebanyak 65.000 orang tenaga kerja pariwisata telah disertifikasi, artinya tingkat capaiaannya 100%, sebab target dan realisasi klop yaitu sebanyak 65.000 orang.

Di antara indikator kuantitatif, baiklah kita melihat sisi lain tema “Tourism and Job For a Better Life”. Kepariwisataan sejatinya mampu mengangkat taraf kesejahteraan hidup, membangun budaya kehidupan yang selaras dengan alam, sesama, dan tentu saja relasi dengan Sang Pemberi Kehidupan.

Success story

Tiga kisah sukses energi positif pariwisata dalam menciptakan kehidupan yang lebih berkualitas melalui penciptaan lapangan pekerjaan adalah konservasi Jalak Bali/Curik di Taman Nasional Bali Barat (TNBB), konservasi gajah di Tangkahan, Taman Nasional Gunung Leuser, Langkat, Sumatera Utara, serta perlindungan satwa endemic, monyet hitam Sulawesi (Macaca Nigra) di Cagar Alam Gunung Tangkoko Batuangus, Bitung, Sulawesi Utara.

Puluhan tahun lalu, Curik mengalami bahaya kepunahan. Situasinya berbeda saat ini. Keberadaan penyangga TNBB berhasil menopang dan membantu konservasi Curik, salah satunya Desa Blimbingsari, Kabupaten Jembrana, Bali. Warga yang tinggal berdekatan dengn TNBB beberapa kali menemukan dan menangkar Curik, dan kini populasinya menjadi bertambah berlipat. Keberlanjutan satwa dapat terjaga, kesejahteraan masyarakat juga terdongkrak melalui kunjungan ekowisata maupun aktivitas lain dalam mata rantai konservasi.

Hasil kerja keras konservasi gajah di Tangkahan yang melibatkan taman nasional dan masyarakat setempat mengubah mindset dan sikap warga untuk bersama-sama menjaga kelestarian hutan. Tidak tampak lagi hutan yang kering di Tangkahan. Lalu, tidak ditemukan lagi cerita konflik satwa dengan penduduk. Dampak lanjutannya adalah kunjungan wisatawan dari dalam negeri dan mancanegara, sebagai bentuk apresiasi dan ketertarikan pada upaya penyelamatan satwa yang menghadirkan tatnan kehidupan yang lebih baik. Warga yang dulunya merusak hutan, kini berubah menjadi penjaga hutan.

Dalam bahasa local, monyet hitam Sulawesi dikenal dengan nama yaki. Dari cerita warga di sana, dulu yaki diburu. Kini kesadaran warga akan pentingnya menjaga dan menyelamatkan berkelanjutan satwa bertubuh unik ini salah satunya memiliki pantat berwarna merah menyala semakin berkobar. Mereka menyadari, dengan mempertahankan dan menjaga keselamatan satwa-satwa endemic dan langka, akan menghadirkan pekerjaan dan kesejahteraan bagi warga.

Harapan tersebut menjadi kenyataan. Puluhan homestay berdiri dan kerap terisi penuh di sekitar Tangkoko. Jasa interpreter, tour guide berkeahlian konservasi dan ekowisata menjadi kunci pengalaman berwisata, wisata asing khususnya, ketika berada di Tangkoko. Tentu saja, local food khas Minahasa di beberapa local restaurant juga menjadi tujuan wisatawan.

Karena itu, Wishnutama patut didukung dan diharapkan berhasil membawa perubahan dramatis pada kehidupan warga negara, menggapai kehidupan yang lebih baik melalui profesi dalam mata rantai aktivitas wisata, salah satunya yang menjadi bonus konservasi dan kelestarian alam. Selamat dan sukses Pak Wishnutama pariwisata memaklumkan kehidupan bangsa yang lebih baik.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *