Melihat JLLB dari Titik Tertinggi Citraland. Harian DIS Way. 5 Oktober 2020. Hal.2

Dekan Fakultas Industri Kreatif Universitas Ciputra (UC) Freddy H. Istanto tidak bilang bahwa dirinya akrofobia. Alias takut ketinggian. Ia hanya sempat menanyakan mau melihat jalan lingkar luar barat (JLLB) dari lantai 8 atau 24 dari gedung Universitas Ciputra (UC).

Kalau dari 8 bisa lewat kampusnya. Tapi kalau dari lantai 24, kami harus naik ke proyek UC Tower di sebelah kampus. Makin tinggi tempat kami berada tentu akan makin luas angle foto yang bisa diambil. Maka, kami meminta agar diizinkan memotret dari titik tertinggi gedung yang mencapai 93,4 meter itu.

Freddy harus meminta izin ke pihak kampus Kamis (1/10). Itu adalah proyek UC Tower tahap kedua. Tahap pertama sudah selesai dan digunakan kampus. Untungnya diperbolehkan. Asal ada pendampingan dari pihak UC dan Freddy harus ikut.

Sebenarnya gedung itu sudah memiliki loft. Namun, untuk mencapai atapnya, kami harus baik lift proyek. Yang seluruh sisinya pagar besi yang memiliki ratusan lubang. Penumpangnya bisa melihat kanan, kiri, atas, dan bawah. “Seumur hidup baru kali ini naik lift proyek yang gemeretak itu,” katanya.

Dari atas terlihat pemandangannya sedang indah di sisi selatan. Gunung Penanggungan dan Arjuno terlihat dari kejauhan. Padang golf dan bukit ular juga terlihat jelas dari sana.

Di tempat itu juga terlihat bahwa CitraLand masih memiliki wilayah yang belum dikembangkan. Rumah-rumah mewah dibangun agak berjauhan. Masih ada tanah kosong di antara rumah-rumah itu.

Freddy menghampiri kmi. Ia menunjukkan ia menunjukkan letak bundaran Citraland dengan patung kuda putihnya. Simbol patung kuda selalu menyertai proyek Ciputra Group. Itu lambing kerja keras. Empat jalur jalan di sekitar patung itu adalah JLLB yang sudah terbangun. Jalan itu akan tersambung ke selatan hingga Jalan Raya Menganti. Itulah sisi paling selatan JLLB Surabaya. “Semua orang di sini berharap agar segera nyambung,” kata Freddy.

Kami beranjak ke sisi utara. GBT juga terlihat dengan jelas. Stadion yang diresmikan Wali Kota Bambang D.H. pada 6 Agustus 2010 itu belum punya akses yang layak sampai sekarang. Dari kejauhan GBT terlihat seperti stadion apung yang dikelilingi tambak.

Pemkot akan membangun JLLB sisi utara. Proyeknya ditargetkan tuntas awal 2021. Tidak boleh telat. Sebab, GBT menjadi salah satu venue Piala Dunia U-20 yang digelar Mei-Juni nanti.

Terkihat pula Pelabuhan Teluk Lamong yang dikelola Pelindo III. Mereka sudah membuat flyover untuk disambungkan ke JLLB. Namun, mereka harus sabar menanti. Pembangunan JLLB tidak bisa secepat kilat. Dibutuhkan triliunan rupiah untuk merealisasikannya. Selain membangun jalan, pemkot harus membebaskan lahan milik warga.

Di sisi barat terlihat juga wilayah Gresik yang belum dikembangkan. Wujudnya masih berupa tanah gersang. Sebagian wilayah itu sudah similiki CitraLand. Wilayah Surabaya Barat yang sebelumnya tandus itu akan menjadi salah satu pusat kota baru nanti.

Sementara itu, di sisi timur terlihat pusat kota Surabaya. Mau tidak mau pembangunan harus ke pinggir. Dan yang paling memungkinkan untuk berkembang adalah Surabaya Barat. Sebab, di Timur terdapat 2,500 lahan kawasan lindung, Tidak boleh ada bangunan di kawasan itu. (Tomy C. Gutomo- Salman Muhiddin)

 

            Sumber: Harian DI’S Way. 5 Oktober 2020. Hal.2

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *