Magnet Juara dari Juazeiro. Kamis 12 Agustus 2021. Hal. 16

Selama 20 tahun berkarier sebagai pesepak bola profesional, trofi juara seakan mengikuti ke mana pun Dani Alves (38) bermain. Bek kanan itu meraih gelar juara bersama enam klub serta tiga kelompok umur tim nasional Brasil. Terbaru, ia mengantar Brasil merebut medali emas sepak bola Olimpiade Tokyo 2020.

Sejauh ini, Alves telah meraih 44 trofi juara atau rata-rata meraih minimal dua gelar juara setiap tahun. Koleksi trofi itu membuat Alves menjadi pesepak bola dengan gelar juara terbanyak. Ia adalah pemain pertama yang mampu mengoleksi lebih dari 40 trofi juara.

Medali emas Olimpiade Tokyo 2020 yang diraih bersama tim nasional Brasil U-23 adalah gelar keenamnya selama mengenakan “Selecao”. Ia meraih trofi Piala Dunia U-20 pada 2003, kemudian mempersembahkan empat trofi bersama tim senior Brasil. Keempat gelar juara itu adalah Copa America 2007 dan 2019 serta Piala Konfederasi 2009 dan 2013.

Selain itu, Alves juga selalu mampu memberikan trofi bagi enam klub yang dibelanya sejak memasuki dunia sepak bola profesional pada 2001. Keenam klub itu adalah Bahia dan Sao Paulo (Brasil), Sevilla dan Barcelona (Spa- nyol), Juventus (Italia), serta Paris Saint-Germain (Perancis).

“Pele adalah raja (sepak bola). Na- mun, saya merebut lebih banyak titel dibandingkan dirinya. Tak peduli apa yang orang katakan, tetapi saya senang dengan capaian saya,” kata Alves, dilansir FotMob, beberapa waktu lalu.

Bagi Alves, medali emas Olimpiade adalah salah satu gelar juara yang amat berkesan dalam kariernya. Olimpiade, kata Alves, setara dengan Piala Dunia karena merupakan turnamen yang mempertemukan negara-negara terbaik di dunia. Ia mengatakan tidak semua pemain terbaik Selecao bisa memper sembahkan medali emas Olimpiade. Romario dan Bebeto, contohnya, ma sing-masing hanya membawa pulang medali perunggu dari Seoul 1988 dan perunggu di Atlanta 1996. “Misi (emas) tercapai. Ini adalah mimpi yang menjadi kenyataan. Brasil, saya sangat bangga menjadi wargamu,” ungkap Alves di akun Instagramnya.

Meskipun usianya telah memasuki masa senja bagi karier pesepak bola, Alves belum berhenti bermimpi. Ia masih seperti seorang remaja ambisius yang menembus tim senior Bahia untuk pertama kali ketika usianya baru menginjak 17 tahun.

Setelah meraih emas Olimpiade, pemain setinggi 1,72 meter itu masih berambisi mempersembahkan kembali satu trofi agung bagi Brasil, yaitu Piala Dunia 2022. Ia bertekad tampil konsisten bersama Sao Paulo dalam satu tahun kedepan agar mendapat tempat di skuad Selecao.

“Saya memang hampir berusia 40 tahun di Piala Dunia nanti, tetapi saya akan terus bekerja keras demi tampil dan memberikan trofi Piala Dunia untuk Brasil,” ucapnya, dikutip laman resmi FIFA.

Alves menambahkan, “Saya berharap bisa meraih 50 trofi sebelum pensiun. Saya berharap (trofi) itu termasuk Piala Dunia.”

Peran ayah

Alves adalah salah satu bintang Brasil yang mampu mewujudkan dongeng dalam hidupnya. Ia seperti tipikal pesepak bola sukses Brasil lainnya yang berasal dari keluarga tidak mampu dan menjadikan sepak bola sebagai pelita utama dalam kehidupan. Ayah Alves, Domingos Alves Silva, adalah petani dan pelatih sepak bola di da menjadi

 

akhir pekan. Alves, putra bungsu dari empat bersaudara, rajin membantu ayahnya ber- tani sejak kecil. Ia bangun pukul 04.00 dan pergi ke sawah bersama ayahnya.

Hingga usia remaja, Alves melakukan apapun demi membantu keuangan keluarga. Terkadang, ia jadi pedagang pelayan restoran, bahkan pernah menjadi kameo sebuah film independen di Bahia yang dibayar 5 real Brasil atau sekitar Rp 13.000 per hari.

Pada Sabtu dan Minggu, Alves fokus berlatih sepak bola di klub kampung yang dibentuk ayahnya, Palmeiras de Salitre. la bergabung di klub itu sejak berusia 10 tahun dan berposisi sebagai penyerang sayap ka nan. “Sebagai pelatihnya, saya melihat dia (Alves) tidak banyak mencetak gol di posisi menyerang. Jadi, perlahan saya tempatkan dia di bek sayap yang jadi posisi favoritnya saat ini,” kata Domingos kepada Globo.

Memasuki usia 13 tahun, Alves bersama sang kakak, Lucas, direkrut tim yunior Bahia, klub profesional di Serie A Brasil. Mereka meninggalkan rumah dan tinggal di sebuah kontrakan kecil tanpa kasur. Setelah rutin mengikuti kom petisi tingkat umur bersama tim muda Bahia, Alves mendapat panggilan pertama membela tim utama Bahia pada awal 2001.

“Dia bocah pekerja keras yang telah membuat kami bangga,” kenang Bartolomeu Monteiro alias Caboclinho, salah satu pelatih pertama Alves di klub lokal, Juazeiro, yang berkompetisi di  Liga Bah Bahia.

Setelah sukses, Alves pun tidak pernah melupakan jasa semua orang yang membantunya meniti karier sebagai pesepak bola. Tato wajahh dan ibunya ada di tubuh Alves ia selalu menemui Cabenho dan teman masa kecilnya ketika libur musim panas di Brasil.

Semangat Alves untuk terus mengejar kejayaan di lapangan hijau belum meredup, lama sih ingin terus mengejar mimpi- mimpinya meskipun banyak yang menganggap dirinya sudah seharusnya pensiun.

Bergabung ke Sao Paulo pun termasuk mimpi masa kecil nya. Sao Paulo termasuk salah satu klub tersukses di Brasil dan klub favorit Alves. Kostum tim berjuluk “Tricolor” itu adalah seragam sepak bola pertama yang dibelikan orang tuanya.

Meski telah kembali ke Brasil, Alves masih membuka kemungkinan untuk kembali ke Eropa demi meraih trofi di Inggris. “Ide bahwa saya akan mengakhiri karier tanpa bermain di Liga Inggris adalah hal yang mustahil,” kata Alves kepada The Telegraph.

 

Sumber: Kamis 12 Agustus 2021. Hal. 16

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *