Liku Jalan Menuju Emas Olimpiade. Kompas. 3 Agustus 2021. Hal. 16

Greysia Polii dan Apriyani Rahayu menjalani lika-liku hidup yang naik turun sebelum merebut medali emas Olimpiade Tokyo 2020. Greysia pernah di titik nadir saat didiskualifikasi di Olimpiade London 2012 dan pasangannya pensiun karena cedera. Apriyani merangkak dari sangat bawah saat bermain dengan raket dari papan.

Sejar bulu tangkis Tanah Air diciptakan  Greysia Polii/Apriyani Rahayu dengan menjadi ganda putri pertama Indonesia yang meraih medali emas Olimpiade. Podium tinggi Olimpiade Tokyo 2020 mereka gapai melalui kehidupan mas masing yang penuh liku.

Dalam final di Musashino Forest Sport Plaza, Senin (2/8/2021), Greysia/Apriyani mengalahican Chen Qingchen/Jia Yifan (China), 21-19, 21-15. Tangis pun pecah saat mereka merebut emas Olimpiade.

Tangis itu melepas semua emosi yang mereka rasakan, bukan hanya saat bertanding, melainkan juga dalam menjalani hidup Keduanya melalui liku hidup berbeda untuk men capai puncak prestasi seorang atlet. Yang terdekat, Greysia kehilang an kakaknya, Rickettsia Polii, yang meninggal 24 Desember 2020, se hari setelah pernikahan Greysia dengan Felix Djimin. Rickettsia ibarat sosok kakak pengganti peran ayah Greysia yang telah lama tiada,

Masa kelamnya di arena bulu tangkin terjadi di ajang tertingti, Olimpiade. Dalam debut di London 2012 Greysla, yang berpasangan dengan Meiliana Jauhari, didiskualifikasi meski telah lolos ke perempat final.

Bersama tiga pasangan lain, yaitu Ha Jung-eung/Kim Min-jung dan Jung Kving-rua Kim Ho-a (Korea Selatan) serta Wang Xiaoli/Yu Yang (China). Greysia/Meiliana dicoret dari persaingan. Keempat pasangan dinilai merusak nilai-nilai olahraga karena tidak berusaha yang terbaik untuk menang demi menghindari lawan lebih kuat pada perempat final.

Greysia pun memandang momen pahit itu sebagai motivasi.

“Saya merefleksi diri, bukan hanya sejak London 2012, tetapi sejak usia 13 tahun. Waktu itu, saya melihat senior saya begitu luar biasa. Mereka menjuarai Olimpiade dan juara dunia. Saya punya mimpi untuk menjadi seperti mereka. Tuhan memberi mimpi spesifik dalam hidup saya, saya mau mendapat me dali emas Olimpiade di ganda putri,” tutur Greysin kepada wartawan Kompas, Agung Setyahadi yang meliput final ganda putri di Tokyo.

Kesempatan mewujudkan mimpi itu datang ketika dia menembus Olimpiade London 2012 “Banyak pro dan kontra tentang kejadian (diskualifikasi itu, tetapi saya hanya mau mendengarkan orang yang mendukung saya secara tulus Mreka bilang, jangan menyerah dulu karena ganda putri ada di pundak saya,” kata Greysia

Di tengah gempuran pemain-pemain China, Jepang dan Korea Selatan, yang dinilai Greysia sudah sangat terlalu kuat, dia menapaki kembali kariernya. Greysia kembali berpartner dengan Nitya Krishinda Maheswari yang pernah menjadi pasangannya pada 2008-2010

Keduanya menjadi salah satu pasangan terbaik tanpa gelar juara ajang besar, hingga membuat kejutan pada Asian Games Incheon 2014 di bawah polesan Eng Hian Mantan pemain ganda putra itu datang ke Pelatnas Cipayung pada Maret 2014,

Pesaing mereka, yang lebih difavoritkan juara, adalah pasangan China, Korea Selatan, dan Jepang yang menjadi kekuatan ganda putri dunia. Greysia/Nitya menembus kekuatan itu dengan merebut medali emas.

Greysia kembali kehilangan kepercayaan diri hingga memutuskan pensiun ketika Nitya tidak bisa lagi bermain karena cedera lutut hingga harus menjalani operasi. Apalagi, di Olimpiade Rio de Janeiro 2016 mereka terhenti pada perempat final. Saat itu, Greysia mengatakan, kemungkinan Rio de Janeiro 2016 menjadi Olimpiade terakhirnya.

Dia akhirnya memutuskan tetap di pelatnas, seperti permintaan Eng Hian, dengan misi mematangkan permainan adik-adiknya. Para pemain yunior itu dipasangkan dengan Greysia. Greysin pun dipasangkan dengan Rosyita Eka Putri Sari, lalu Rizki Amelia Pradipta pada awal 2017, hingga Apriyani Rahayu yang baru setahun lepas dari yunior.

Pasangan itu pertama kali di turunkan dalam kejuaraan beregu campuran Piala Sudirman, Mei 2017, di Selandia Baru. Mereka menjalani debut dalam turnamen individu di Thailand Terbuka dan jadi juara. “Waktu itu saya mikir, wah, saya harus ada empat tahun lagi,” kata Greysia.

Mental tangguh

Bagi Apriyani, yang saat itu berusia 19 tahun, momen juara di Thailand tersebut melambungkan namanya. Pada satu kesempatan, Eng Hian bercerita, dirinya memiliki tanggung jawab menjaga Apriyani sebagai bintang muda yang baru melejit

“Banyak teman yang mungkin tadinya sudah menjauhi dia mendekat lagi. Banyak yang mengajak bertemu, bahkan dalam waktu latihan. Saya pun harus berusaha menjaga Apriyani. Jika tidak, banyak gangguan yang membuat dia tidak disiplin,” tutur Eng Hian.

Diceritakan Imelda Wigoeno, Ketua Harian PB Jaya Raya, klub asal Greysia/Apriyani, Eng Hian membuka komunikasi dengannya untuk menjaga potensi Apriyani. “Greysin juga selalu membantu mengingatkan karena dia lebih senior. Apalagi, potensi besar Apriyani terlihat sejak yunior,” kata Imelda.

Saat yunior, Apriyani menjadi finalis ganda putri Kejuaraan Dunia Yunior 2014 bersama Rosyita. Dia juga meraih beberapa gelar juara ganda putri dan campuran, di antaranya bersama Jauza Fadhila Sugiarto dan Rinov Rivaldy. Jauza, anak Icuk Sugiarto, adalah pasang an Apriyani sejak bergabung di PB Pelita yang dibina Icuk.

Di mata Greysia dan Eng Hian, Apriyani adalah pribadi bermental tangguh yang tak takut dengan tan tangan apa pun. Dia tak mundur ketika tawaran berpasangan dengan Greysia membuatnya menjalani latihan dan tekanan yang teramat berat, lebih berat dibandingkan saat bersaing di yunior.

Karakter itu tumbuh pada diri bungsu dari tiga bersaudara itu dalam kehidupan sehari-harinya. Apriyani lahir dari keluarga sederhana di Lawulo, Konawe, Sulawesi Tenggara.

Seperti pernah dicentaran Ap riyani saat baru bergabunge pe latnas, ayahnya, Amiruddin, ang kali meminjam uang agar bisa membiayai putrinya itu mengikuti berbagai pertandingan, kad Ap riyani menjadi pemain bulu tangkis memang begitu besar.

Kegemarannya bermain bulu tangkis berawal dari kesukaannya menonton pertandingan di TV. Di awali dengan bermain di halaman rumah dengan raket dari papan, kemampuannya diasah pelatih bernama Sapiuddin. Sejumlah prestasi di daerah membawanya ke Jakarta untuk berlatih di PB Pelita pada 2011, lalu pindah ke Jaya Raya, dan bergabung di pelatnas.

 

Apriyani pun mendedikasikan medali emasnya untuk orangtua, keluarga, dan pelatihnya sejak ke cil. Dia juga bercerita tentang se mua pelajaran yang didapat selama berpartner dengan Greysia. “Saya belajar mendewasakan diri. Harus mencoba keluar dari zona nyaman. Dulu, saya adalah orang yang tak mau diatur. Namun, Kak Greys menjadikan saya lebih dewasa da lam cara berpikir dan dalam men jalani kehidupan sehari-hari. Al hamdulillah, kami bisa mendapat kan ini semua,” tuturnya.

 

Sumber: Kompas. 3 Agustus 2021. Hal. 16

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *