Legend of Barongsai

KESENIAN barongsai ini identik dengan perayaan Imlek. Masyarakat Tionghoa percaya bahwa mendatangkan barongsai saat Imlek akan mengusir roh-roh jahat dan mendatangkan hoki.

Tarian singa tersebut masuk ke Indonesia pada abad ke-17. Kehadirannya di Indonesia mampu memberikan warna lain pada seni budaya Indonesia.

Perjalanan barongsai di Indonesia pun pasang-surut. Meskipun begitu, tarian itu adalah salah satu kesenian yang masih bertahan hingga saat ini. Itu karena barongsai mampu berasimilasi dengan aspek sosial dan kebudayaan lokal.

The  Origin  of  Barongsai

ADA banyak versi cerita legenda mengenai asal-usul barongsai. Namun, cerita yang paling umum dan paling mendekati adalah cerita tentang monster yang menggangu sebuah desa. Monster itu menghancurkan hasil-hasil panen milik penduduk desa.

Namun pada suatu hari ada biksu yang datang dan menjinakkan monster itu dengan meletakan pita merah di sekitar tanduknya. Tradisi tersebut berkembang hingga saat ini masyarakat percaya bahwa barongsai menjadi penjaga dan pelindung desa dari bahaya.

Versi lain dari buku karangan Siow Ho Piew. Cerita berawal dari singa pemberian raja Persia kepada kaisar Tiongkok pada dinasti Dang. Binatang gagah tersebut menjadi kesayangan sang kaisar hingga rakyat menghormati dan percaya bahwa singa tersebut mampu mengusir roh jahat dan tolak bala.

Sayangnya, singa itu mendadak mati hingga pawang-pawang kebingungan. Untuk menghibur kaisar, para guru silat, musik, dan senirupa saling bekerja sama dalam menciptakan bentuk singa yang beragam. Pada Imlek di buat tarian singa yang di mainkan oleh dua orang dengan iringan tambor, kenong, dan simbal. Tradisi itu berlangsung hingga saat ini.

 

The  Anatomy  of  Barongsai

TARIAN barongsai biasanya di mainkan oleh dua orang, masing-masing pada kepala dan ekor. Mereka menggunakan celana yang bermotif sama dengan warna barongsai. Setiap pemain barongsai juga melingkarkan tali pada pinggangnya. Tali tersebut berfungsi sebagai alat bantu para pemain ketika beratraksi.

Pada bagian kepala barongsai terdapat beberapa atribut yang memiliki filosofi mendalam. Salah satunya pita yang terdapat pada kepala barongsai. Pita pada kepala barongsai melambangkan bahwa ia telah dijinakkan atau sedang tidur.

Selain itu ada pula cermin yang melekat pada kepala barongsai. Apa fungsi cermin tersebut? Menurut kepercatyaan masyarakat Tiongkok, cermin yang ada pada kepala barongsai tersebut berfungsi untuk mengusir roh-roh jahat dan sifat-sifat buruk. Menurut legendanya, kalau ada roh-roh jahat yang mendekat dan melihat wajah dari cermin yang ada di kepala barongsai itu, dia bisa lari,” tutur Steering Committee Tim Tarian Singa dan Naga Ksatria Surabaya Citra Ongkowijoyo.

 

Part  of  The  Show

SELAIN bentuknya, salah satu yang menjadi daya tarik barongsai adalah iringan musiknya yang nyaring dan menggema. “Saat ini sudah macam-macam alat yang di masukkan ke dalam permainan barongsai. Itu semacam kreasi saja, namun standardnya satu tambur, satu kenong, dan empat simbal,” ucap Citra.

Ada pula da tou wa wa atau si kepala besar. Bentuk da tou wa wa bermacam-macam, mulai biksu, kera sakti, hingga perempuan.

Beberapa orang mungkin menganggapnya sebagai biksu yang menjunakkan barongsai. Namun sebenarnya fungsi dari da tou wa wa disini adalah pendamping barongsai. Terkadang ia berperan sebagai pemandu barongsai hingga membuka jalan untuk barongsai.

Ada juga objek yang di tuju oleh barongsai yang di sebut dengan cheng. Ada macam-macam objek, mulai nanas, selada sampai jeruk. Biasanya barongsaia akan memberikan objek tersebut kepada orang yang punya acara.

 

Sumber: Jawa Pos, 27 Januari 2017

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *