Korupsi, Persoalan Turun Temurun?

Business people sending documents under the table

 

Lucunya negeri ini, manis dimulut, pahit di perut. Lagi-lagi masalah yang selama ini masih menghantui Indonesia muncul lagi dari salah satu orang pemerintah. Apalagi kalau bukan kasus korupsi?, sudah bosan dan tidak mengagetkan lagi rasanya jika masalah korupsi ini terus menerus muncul. Padahal awalnya bilang anti korupsi-anti korupsi, tapi sekarang ketika berhasil dipilih, malah mereka sendiri yang menelan ludah. Pahit rasanya dikhianati, namun mau gimana lagi? Ibarat sudah masuk perut, susah untuk keluarnya. Beberapa hari kemarin, Edhy Prabowo selaku Menteri kelautan dan perikanan tertangkap menjadi tersangka atas pidana korupsi dari ekspor benih lobster yang dilakukan. Jumlahnya tentu tidak lagi jutaan, namun hingga mencapai milliar rupiah. Buruknya lagi, Edhy Prabowo tertangkap dengan beberapa tersangka lainnya seperti staf khusus Menteri KKP, pengurus PT ACK, hingga direktur perusahaan eksportir benur. Edhy ditangkap pada saat ia pulang dari perjalanannya dari Honolulu, Negara bagian Hawaii. Disana, ia diduga telah menghabiskan uang sebesar Rp 750 juta untuk memborong barang bermerk sepergi Chanel, Tas Louis Vuitton, Rolex, dll.  Ia mengaku bahwa telah melakukan kesalahan ini, dan akan mempertanggung jawabkannya di akhirat nanti.

Sebenarnya, apa sih yang salah dari kasus korupsi yang terus menerus terjadi ini?. Apalagi kalau bukan kebiasaan turun temurun yang telah ditanamkan sejak kita kecil. Yep, primordialism bisa jadi sebuah akar dari permasalahan korupsi ini loh!. Sadar tidak sih kalian kalau ternyata korupsi itu tidak hanya melulu berbicara soal uang? Namun tanpa disadari ternyata bisa korupsi waktu, korupsi tempat, dan masih banyak jenis korupsi yang lainnya loh!. Walaupun kamu anggap mungkin tidak terlalu berdampak besar, namun kebiasaan inilah yang lama-kelamaan terbawa dan akhirnya ketika harus berhadapan dengan jenis korupsi yang lebih besar, maka kita akan menganggap itu sebagai hal yang biasa saja. Dari kecil kita sudah terbiasa untuk bermalas-malasan dan mengulur waktu, padahal itu merupakan jam kerja. Kita juga sudah terbiasa untuk mengambil tempat duduk seseorang untuk menaruh tas kita. Hayo? Sadar tidak itu juga merupakan salah satu bentuk korupsi. Oleh karena itu, inilah menjadi salah satu alasan mengapa edukasi dan kebiasaan itu sangat penting untuk dijaga. Marilah hentikan kebiasaan buruk untuk menunda, mengambil tempat, hingga melakukan usaha suap kepada sesama. Mulailah dari dirimu sendiri, baru kita bisa menjadi dampak yang lebih positive kepada orang lain. Jadi selain itu, sebenarnya apa sih upaya yang dapat dilakukan untuk memberantas korupsi ini sendiri?

Hukum!. Yap benar, sudah seharusnya hukum untuk ditegakkan dan lebih ditegaskan lagi. Beberapa negara maju seperti Cina, Korea Utara, dll, mereka telah menerapkan hukuman mati bagi para koruptor. Tentu hukuman mati pasti terdengar sangat kejam bagi beberapa dari kalian, dan mungkin bertentangan dengan HAM yang ada di Indonesia. Namun setidaknya jika tidak bisa memberlakukan hukum mati, maka lebih baik untuk menciptakan hukum yang lebih tegas dan berat dari sekarang. Beberapa orang menyatakan bahwa undang-undang yang ada dan yang diperbarui malah dianggap melemahkan KPK dan mempermudah adanya korupsi. Tentu terjadi pro dan contra, namun hal ini tidak kunjung membuahkan hasil yang memuaskan warga. Hal ini dapat dilihat dari salah satu tayangan oleh Mata Najwa yang menghadirkan perwakilan dari pihak DPR dan beberapa ahli untuk membicarakan mengenai perpu pada tahun 2019 kemarin. Pada tayangan tersebut, terjadi beberapa perdebatan panas dan berbagai komentar-komentar yang menunjukkan suara rakyat yang tidak puas atas adanya undang-undang baru.

Suara rakyat mungkin jarang didengarkan, padahal banyak sekali administrasi public dan manajemen keuangan public yang nyatanya lebih berdampak dalam mengendalikan korupsi loh!. Hal ini bisa menjadi solusi bila nantinya akan terjadi reformasi yang melibatkan pengungkapan informasi secara luas, detil, dan terbuka. Dengan begitu bisa membuat masyarakat untuk bertindak lebih partisipatif dan melatih pemikiran terbuka bukan?. Hal ini tentu akan mengalami banyak kesulitan karena kurangnya ‘kekuasaan rakyat’ dan edukasi. Namun oleh karena itu, sudah seharusnya kita sebagai rakyat yang terdidik itu ikut untuk memberi informasi yang tepat dan benar adanya. Berfikir rasional sebelum bertindak, dan tentunya kita bisa menyatukan dan memaksimalkan kekuatan rakyat untuk menemukan suatu solusi dari permasalahan yang ada. Caranya juga bisa bermacam-macam, kita bisa berkomunikasi melalui proses formal maupun informal.  Jika kita tidak bisa bekerja sama dengan pemerintah, maka kita bisa menjalin Kerjasama dengan kelompok non-pemerintah atau organisasi terlebih dahulu, lalu pelan-pelan berkembang hingga aspirasi dapat disampaikan dengan baik. Namun bisa juga memanfaatkan teknologi yang ada. Jaman sudah berubah, dan semuanya menjadi lebih mudah disampaikan dan dibaca. Hanya permasalahannya sekarang, apakah akan didengar?, satu-satunya yang bisa dilakukan adalah menunggu jawaban dari aspirasi masyarakat yang sudah ‘viral’ di media. Ini bisa menjadi salah satu pencegahan efektif dan praktis yang bisa dilakukan oleh hampir seluruh masyarakat Indonesia.

Memang rela ditindas dan dirugikan terus menerus oleh negara? tentu tidak!. Maka dari itu marilah bersama-sama menyampaikan aspirasi kita dengan sehat hingga suatu saat nanti bisa terdengar dan korupsi itu sendiri bisa diberantas.

 

Daftar Pustaka

Anon (2020, Juli 21). 9 Cara Mengatasi Korupsi. Greatdayhr.com. diakses di https://greatdayhr.com/id/blog/cara-mengatasi-korupsi/. 29 November 2020.

Rosana, Fransisca (2020, November 30). Edhy Prabowo Disinyalir Tak Dengarkan Peringatan Ahli Soal Tarif Ekspor Benur. Diakses di https://bisnis.tempo.co/read/1409605/edhy-prabowo-disinyalir-tak-dengarkan-peringatan-ahli-soal-tarif-ekspor-benur. 30 November 2020.

Anon. (2020, November 26). Edhy Prabowo resmi jadi tersangka kasus korupsi: ‘Ini adalah kecelakaan, saya akan bertanggung jawab dunia akhirat’. Bbc.com. Diakses di https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-55067343

Anon (2020, November 25). 5 Fakta Menteri Edhy Prabowo ditangkap KPK atas Dugaan Korupsi Benih Lobster. Liputan6.com. Diakses di https://www.liputan6.com/news/read/4417440/5-fakta-menteri-edhy-prabowo-ditangkap-kpk-atas-dugaan-korupsi-benih-lobster. 30 November 2020.

Kurniawan, Adi (2019, December 4). Penjatuhan Pidana Denda bagi Koruptor. Hukumonline.com. Diakses di https://www.hukumonline.com/klinik/detail/ulasan/lt5dc22f5834ba6/penjatuhan-pidana-denda-bagi-koruptor/. 30 November 2020

 

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *