Kontribusi Diaspora untuk Dunia. Kompas 16 Agustus 2021. Hal. 16

Nama Carina Joe mulai banyak diperbincangkan di media Tanah Air setelah terungkap ia menjadi salah satu pemilik hak paten vaksin Covid-19 AstraZeneca. Perempuan kelahiran Jakarta ini mengungkap potensi besar penelitian di bidang bioteknologi jika didukung dengan ekosistem dan infrastruktur yang memadai.

Cukup sulit menemukan waktu yang tepat untuk berbincang langsung dengan Carina setelah beberapa kali ia tampil di sejumlah media Tanah Air. Selain karena perbedaan waktu antara Indonesia dan Inggris, hal ini tidak terlepas dari kesibukan Carina sebagai seorang peneliti bio teknologi. Beberapa kali ia bahkan mengaku tengah berada di luar kota.

Sejumlah media telah menguraikan peran Carina dalam proses pengembangan vaksin AstraZeneca yang dipimpin oleh ilmuwan University of Oxford, Sarah Gilbert, hingga memperoleh hak paten. Carina berjasa membuat metode agar vaksin AstraZeneca dapat diproduksi dalam jumlah yang besar dan membuatnya memegang hak paten tentang manufacturing scale up.

Saat menjawab pertanyaan dari Kompas beberapa waktu lalu, Carina mengatakan, ia pertama kali terlibat dalam penelitian di luar negeri setelah menyelesaikan program ma gister bioteknologi di Royal Melbourne Institute of Technology (RMIT), Australia. Selama menjalani program magister, Carina juga mengikuti magang dengan divisi manufaktur di The Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation (CSIRO). Ia fokus pada pembuatan protein rekombinan skala besar dan antibodi monoklonal terapeutik.

Dalam studi magisternya, Carina melakukan penelitian di bawah bimbingan Profesor George Lovrecz. To pik penelitian yang ia ambil adalah optimalisasi produksi antibodi mo noklonal menggunakan platform berbeda dan pengembangan proto kol untuk produksi protein rekom binan. Ia juga fokus meneliti bagaimana cara agar perusahaan mam pu menghasilkan lebih banyak produk untuk pembuatan antibodi mo noklonal menggunakan sel hibridoma.

Setelah meraih gelar magisternya, Carina kemudian menerima beasiswa untuk melanjutkan studi doktoral di RMIT. Fokus penelitian yang diambil ialah peningkatan imunogenisitas antigen permu- kaan hepatitis B dengan partikel mirip virus (VLP) sebagai satu-satunya komponen virus hepatitis B. VLP virus hepatitis B yang dimodifikasi ini menunjukkan kekebalan humoral yang lebih kuat dari vaksin yang tersedia secara komersial.

Selama menempuh studi doktoral sekaligus melanjutkan magang di CSIRO, Carina juga mengembangkan VLP chimeric yang mampu memunculkan autoantibodi pada penderita kanker. Selain itu, ia juga mengembangkan metode pemurnian yang dapat membuat reproduksi dan hilirisasi menjadi lebih cepat.

Seluruh latar belakang ilmu dan pengalaman di industri hingga lebih dari enam tahun inilah yang akhirnya membuat Carina diterima magang post doctoral di Jenner Institute, University of Oxford, Inggris Saat pandemi mulai merebak, ia kemudian turut serta dalam pengembangan vaksin AstraZeneca dan menjadi peneliti utama di laboratorium dengan dibantu asisten peneliti.

Saat ini, vaksin AstraZeneca telah disetujui dan digunakan di 178 negara, termasuk Indonesia. Hingga Juli lalu, lebih dari 700 juta dosis AstraZeneca sudah disuntikkan di seluruh dunia dan akan terus bertambah seiring belum meredanya pandemi saat ini. Menurut data statistik, vaksin ini telah menyelamatkan puluhan ribu nyawa manusia dari Covid-19.

Dukungan ekosistem

Bersinarnya peneliti diaspora bidang bioteknologi di luar negeri menjadi tamparan keras bagi ekosistem riset di Tanah Air. Carina mengakui bahwa beberapa tahun lalu setelah ia lulus dari SMAK 1 Penabur Jakarta, belum banyak universitas di Indonesia yang menawarkan studi jurusan bioteknologi. Hal inilah yang membuat dia memutuskan menjalani studi dan berkiprah di luar negeri.

Carina juga merasakan ekosistem riset di luar negeri sudah terbentuk sejak lama sehingga membantu dan memudahkan peneliti untuk menciptakan produk yang berguna bagi manusia. Dari pengalamannya menjadi peneliti di Australia dan Inggris, dua negara tersebut telah mempunyai ekosistem yang mendukung dalam sejumlah riset, khususnya di bidang bioteknologi.

Selain ketersediaan anggaran, kata Carina, para peneliti juga sudah didukung kolaborasi dengan para ahli dari berbagai bidang untuk bertukar pikiran dan memberikan saran yang tepat.

“Hasil riset yang hanya dilakukan di laboratorium tidak bisa dirasakan untuk kehidupan manusia. Jadi, memang perlu ada kerja sama industri dan peneliti agar hasilnya bisa dinikmati masyarakat serta ketersediaan fasilitas yang lengkap,” ucapnya.

Carina menjelaskan, kolaborasi antara para peneliti dan transfer teknologi biasanya dilakukan pada tahap terakhir dalam suatu penelitian. Dalam riset biotek nologi, transfer teknologi dilaku kan setelah lolos uji klinis tahap 1 dan 2 atau saat memasuki tahap uji klinis 3. Proses uji klinis 1 dan 2 masih dilakukan oleh peneliti dalam satu lembaga tersebut karena dosis yang dibutuhkan tidak terlalu banyak dibandingkan dengan uji klinis 3.

“Banyak juga riset yang menunggu sampai produk lolos uji klinis 3 dan baru melakukan transfer teknologi. Hal ini karena dana yang dibutuhkan sangat besar dan dana tersebut biasanya diberikan setelah cukup data,” katanya.

Akan tetapi, khusus saat pandemi dan situasi yang mendesak, proses manufacturing serta transfer teknologi dilakukan secara paralel dengan uji klinis. Proses kolaborasi dilakukan dengan melakukan presentasi dengan,  data yang ada ke perusahaan atau pemerintah yang dianggap mampu dan mempunyai minat untuk memproduksinya secara massal.

Saat ini, Indonesia memang mulai memperbaiki dan membangun ekosistem riset yang dapat mendukung para peneliti hingga menghasilkan produk berdaya sa ing global. Namun, Carina me mandang bahwa semua peneliti, termasuk diaspora seperti dirinya, tetap bisa berkarya dimana pun selagi masih bisa berkontribusi bagi negara dan dunia.

 

 

Sumber: Kompas 16 Agustus 2021. Hal. 16

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *