Konsep Bali Twenty-Twenty_Hunian Tradisional Menjawab Pandemi. Harian DI’S Way. 12 Agustus 2020. Hal. 38-39. Freddy H istanto. INA

Tahun1996 Saat kuliah magisterArsitektur, saya diharuskan mengikuti Konferensi Tingkat internasional di Bali, konferensi yang diadakan Society Balinese StudyItu adalah kesertaan saya pertama kali untuk pertemuan ilmiah. grogi? sangat!

Topik heboh banget titik “Bali di milenial tiga”. Stress memikirkan apa yang akan saya tulis untuk konferensi yang dihadirkan pakar-pakar kebudayaan mancanegara itu. Ilmu arsitektur saya masih dangkal titik tapi saya harus menerawang secara ilmiah situasi masa depan.

Untung saya disodori buku “City of Bits” oleh moderator saya. Buku karangan William C Michelle (1996). Itulah modal satu-satunya untuk mengikuti konferensi itu pada 1996 City of Bits mendeskripsikan jenis Kota Baru masa depan.Sistem ruang virtual yang semakin penting, saling berhubungan oleh informasi digital yang  super cepat.

Jujur saat itu saya tidak ngefans sama sekali dengan teknologi informasi. Mbah Google saja juga belum lahir. setelah membaca lalu membayang bayangkan ke depan kota itu akan seperti apa. Sebagai arsitek, apa yang saya sodorkan dalam Konferensi itu ya?

Kalau saat saya studi pada 1996, aktivitas kerja, belajar dan keseharian dilakukan di luar rumah. Maka pada era serba Bits sekarang digital, pusat semua kegiatan manusia dilakukan dirumah. Work from home .

Analisa saya kemudian, Teknologi akan mendominasi peradaban manusia, maka 20 tahun kedepan manusia dan alam akan mengalami puncak kejayaan titik kejenuhan itu akan mengantar dunia atau alam melakukan sebuah proses keseimbangan.

Manusia akan kembali pada konsep Back To Nature. Kemudian saya menganalisa bahwa konsep hunian tradisional Bali lah yang akan menjawab kebutuhan hunian masa depan. Kemudian saya submit paper dengan tajuk: “Bali 2020 buka kurung Bali twenty-twenty): Arsitektur Tradisional Bali, konsep hunian masa depan.”

Perjalanan waktu lantas membuktikan bahwa pemikiran-pemikiran saya dulu tidak klop sama sekali.Bahasa Jawanya nggak klop blas. Maklum mahasiswa ingusan dengan ilmu pas-pasan, Ya begitulah.

Judul makalah saya itu pas dengan skala waktu yang saya prediksi saat 1996 lalu itu. Work from home nya pasti juga dengan ilmu gathuk. Bagaimanapun pandemi covid-19 Ini adalah sebuah momen alam dunia dan manusia titik bukan kejenuhan teknologi seperti yang saya ramal dalam paper itu.

Tetapi kecanggihan dan kecepatan teknologi yang sudah melampaui batas-batas kemampuan alam dan manusianya. ilmuwan Perancis Paul Virlio mengatakan bahwa dunia yang berlari adalah gambaran dunia yang paradigma berpikir nya adalah kecepatan.

Kecepatan itu bukan cuma urusan mie sekejap (mie instan) itu. Teknologi digital itulah yang mengacu dan memicu dunia ini seperti sekarang. Era ketegasan itu mengoyak peradaban manusia. Alam sendiri seolah dipacu untuk meladeni ketegasan manusia.

Ketergesaan dunia itu kini terbaca telah melampaui kodrat alam dan manusianya. covid-19 hadir sebagai pengadil untuk menormalkan alam semesta. Mengalibrasi dunia.

Kesimpulan paper saya pada 1996 dulu itu tentang “Kembali beraktivitas di rumah.” 20 tahun kemudian bernama “Work from home.” Apakah karena alasan seperti baper saya itu atau karena alasan pandemi, konsep hunian tradisional Bali adalah konsep hunian masa depan sangat relevan diterapkan.

Bali punya ruang yang bernama natah titik ruang yang multifungsi. Pada zaman ini, ruang keluarga tidak hanya berfungsi sebagai ruang santai keluarga. Tetapi seperti juga Fungsi natah, ruang ini sebaguna. Seperti ruang kerja, ruang belajar, ruang pertemuan dan lain-lain sejak semua aktivitas dilayani model online .

Rumah tradisional Bali menghadirkan aling-aling. letaknya persis ketika masuk ke dalam rumah. fungsinya sebagai penahan pengaruh negatif  dari luar. di masa pandemi covid 19 seperti ini, kehadiran aling-aling adalah semangat untuk menahan bahaya penularan dari luar.

urutan ruang terdekat setelah itu adalah dapur. Banyak barang-barang yang masuk dari luar rumah ke dalam bangunan adalah ke dapur. Konsep hunian Bali yang  meletakkan posisi dapur dekat pintu masuk ini menguntungkan.

Jarak terpendek yang tidak melewati ruang-ruang lain untuk meminimalisir tercemar sesuatu dari luar. Tata letak dapur Bali ini, mengingatkan desain-desain modern pada unit-unit hunian di apartemen.

Sanggah pamerajan, tempat suci di hunian Bali tentu sangat gayut dengan hunian kekinian. rumah juga bagian dari tempat yang  seimbang untuk kebutuhan pengkayaan rohani penghuninya.

Keterbukaan dengan alam di konsep hunian Bali cerminan Bagaimana hunian ini terbuka dan menyatu dengan alam. Zaman pademi seperti sekarang, Hunian yang sehat adalah yang sistem pengkondisian  udara bagus. Disamping itu, ruang terbuka sangat baik untuk pola hidup sehat yaitu untuk olahraga.

Kesimpulannya, arsitektur tradisional tidak boleh dibiarkan membeku Seperti apa aslinya dulu. Arsitektur tradisional selayaknya di modernisasi kan untuk dimasakin. Tulisan ini pun demikian. Lebih mengambil konsep-konsep untuk diaplikasikan dalam kondisi kekinian. (*)

Sumber: Harian DI’S Way. 12 Agustus 2020. Hal. 38-39

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *