Klinong-klinong ke Pasar Pabean. Surya. 11 Juni 2021. Hal.6. LIB

 

DALAM rangka peringatan HUT Kota Surabaya ke-728 pada Senin (31/5/2021), Perpustakaan Universitas Ciputra Surabaya mengadakan kegiatan virtual bertajuk Klinong-klinong Jalan Panggung dan Pasar Pabean bareng Si Payung Merah.  Acara yang dikemas dalam bentuk Instagram Live itu memang sengaja memilih area itu karena memiliki sejarah panjang.  Pasar Pabean merupakan salah satu cagar budaya bahkan dalam beberapa literatur disebut sebagal salah satu pasar tertua di Surabaya.

Acara yang dilaksanakan pada pukul 09.00 WIB itu dipandu oleh Christye Dato Pango (pustakawan Universitas Ciputra Surabaya) sebagai pembawa acara dan mendapuk Si Payung Merah, Chrisyandi Tri Kartika sebagai narasumber.  Chrisyandi pustakawan Universitas Ciputra dan Ketua Komunitas Pernak-pernik Surabaya Lama.

Jalan Panggung merupakan salah satu area di kawasan kota lama Surabaya yang berada di tengah-tengah Kawasan Ampel dan Kembang Jepun.  Pada 2019, Pemerintah Kota Surabaya sempat melakukan revitalisasi sepanjang berupa pengecatan, pembuatan trotoar, dan pemasangan lampu hias serta permasangan paving block sepanjang jalan.  Alhasil saat ini jalan Panggung menjadi salah satu lokasi yang menarik wisatawan berkunjung ke kawasan wisata kota tua yang berada di jalan ini, di sudut kota ini.

“Teman-teman yang ingin berkunjung ke Jalan Pang-gung ini, usahakan hari Senin sampai Sabtu ya, kalau Minggu dipastikan tutup semua ini, sepi!” tutur Chrisyandi.

Selain banyak tempat foto menarik, Jalan Panggung memiliki atmosfer yang berbeda ketika dilewati. Keragaman budaya tampak di  jalan itu Bau harum rempah-rempah dan keberadaan pertokoan berarsitektur tradisional yang masih kental serta lampu hias eksotis menemani perjalanan

“DI Jalan Panggung ini juga banyak bangunan milik orang-orang etnis Tionghoa.  Contohnya ini nuko dari zaman dulu.  Lantai bawah dipakai usaha atau bisnis, lantai atas dipakai tempat tinggal.  Di sini pun dulunya ada numah ketua perwakilan masyarakat Pakistan juga.” katanya.

Ke arah utara menuju Pasar Pabean suasana semakin ramai dengan lalu lalang warga dan pedagang yang membawa barang dagangannya. Di tengah menjamurnya pusat perbelan modern saat ini, Pasar Pabean yang telah berusia 150 tahun  tahun itu masih tetap eksis. Pasar Pabean merupakan pusat perdagangan palawija di Jawa Timur dan memiliki jenis dagangannya yang sangat tersegmentasi, yaitu ikan asin hingga ikan segar baik laut maupun air tawar.

Pasar itu dibangun pada tahun 1831, dan dibagi menjadi dua, yaitu area  pasar basah dan pasar kering Area pasar basah untuk jenis jualan serba ikan, sedangkan untuk pasar kering untuk aneka hasil bumi.

Yang membedakan Pasar Pabean dengan pasar lain di Pulau Jawa adalah tiga entitas suku yang hidup di dalam pasar itu.  Mereka adalah masyarakat Jawa.  Madura, dan Tlonghoa.

“Pasar ini dekat dengan berbagai etnis dan ini ada perjanjiannya berdasarkan peristiwa Geger Pacinan.”  jlas Chrisyandi.

Peristiwa Geger Pacinan yaitu peristiwa pertemuan Tionghoa melawan VOC pada 1740-1743. Akhirnya pemerintahan Hindia Belanda mengelompokkan lokasi tinggal warga berdasarkan etnis dengan harapan tidak akan terulang kembali melawan pemerintah kolonial saat itu.

“Pembagian ini masih ada lagi dengan putusan dari hak istimewa Gubernur Jenderal Hindia Belanda untuk mengatur, tidak hanya untuk etnis Tlonghoa, tetapi juga untuk suku bangsa Asia lainnya. termasuk Arab, Melayu, India, dan lainnya.”

Kehidupan pasar Pabean tampak sangat dinamis dan kompleks. Walaupun setiap masyarakat memiliki peran masing-masing. Latar belakang yang berbeda, dan strata tersendiri, namun hubungan yang sinergi tampak menyatu di pasar itu. Pun suasana pasar yang  hiruk-pikuk ditemani suara kipas angin (yang juga digunakan untuk mengupas kulit bawang merah) yang menggambarkan peran penting Pasar Pabean terha- dap berputarnya aktivitas ekonomi warga Surabaya.

Klinong-klinong virtual itu menunjukkan potret Pasar Pabean dan Jalan Panggung yang menyenangkan sisi keindahan  dan keharmonisan warga Surabaya yang plural dengan semangat kebersamaan yang kuat Itu semangat yang perlu dijaga, dihargai dan dikestarikan selalu.

 

Sumber: Surya. 11 Juni 2021

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *