Alfatih Timur Kita Bisa Berbagi

Kita isa Berbagi. Kompas.25 Juni 2016.Hal.16

Dalam daftar 30 anak muda  berpengaruh di Asia yang dilansir “Forbes” pada awal 2016 tercantum nama M Alfatih Timur (24). Anak seorang dokter di Sumatera Barat itu di pilih karena kiprahnya di kita bisa.com

Kitabisa .com adalah laman untuk menggalang dana dan berdonasi secara daring (online). Penggalang dana menggunakan uang yang terkumpul untuk tujuan sosial, membantu sesama, atau menciptakan karya.

Saat ini laman itu tengah di pakai mantan Mentri Perencanaan Pembangunan Nasional Andrinof Chaniago dan Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI) Rhenald Kasali untuk menggalang beasiswa bagi Tristan Alif yang di sebut-sebut sebagai “Messi Indonesia”.

“Saya percaya yang di katakan Bung Hatta, fondasi Indonesia adalah gotong royong. Kitabisa.com menerjemahkan semangat itu. Di kitabisa.com, kami percaya ada banyak orang baik di Indonesia. Mereka hanya perku di hubungkan satu sama lain,” ujar M Alfatih Timur.

Alfatih adalah CEO kitabisa.com. Kompas mengobrol dengan anak muda yang bisa disapa Timmy itu di sela-sela pertemuan wirausaha sosial di Singapura, 16-7 juni 2016. Pada acara yang di selenggarakan oleh DBS Foundation itu, dia salah atu pembicara di hadapan 100 wirausaha sosial di Asia.

Wirausaha sosial adalah modal bisnis yang menerapkan prinsip dan tata kelola usaha profesional. Namun, alih-alih mengejar keuntungan, tujuan utama mereka adalah membantu menyelesaikan berbagai personal sosial.

Undangan yang di peroleh Timmy untuk berbicara di forum itu tak lepas dari kiprah kitabisa.com yang beroperasi sejak juli 2013. Lama yang ia dirikan bersama bebrapa temannya itu, sejauh ini, telah membantu penggalangan dana dengan nilai total Rp17 miliar. Seluruhnya dipakai mendanai 1.388 kegiatan atau inisiatif.

Layanan zakat

Bersama beberapa lembaga, laman itu juga menyediakan layanan pembayaran zakat Indonesia lebih dari Rp 200 triliun, tetapi baru terkumul Rp 2 triliun. Bukan karena orang tidak mau membayar zakat, melainkan karena pembayaran tidak punya kesempatan untuk mendatangi tempat membayar dan menunaikan kewajiban.”

“Orang Indonesia, lanjut Timmy, pada dasarnya amat mudah merogoh kocek untuk membantu orang lain. Masalahnya, banyak di antara mereka yang tidak menemukan tempat dan waktu yang sesuai dengan aktivitas untuk menyalurkan donasi.

Sebagian orang lebih suka menyelesaikan berbagi urusan dari pada telepon genggam atau komputer yang terhubung dengan internet. Dengan beberapa kali klik, berbagi urusan bisa di selesaikan “layanan yang di hadirkan ke dekat mereka, bukan mereka di minta mendatangi tempat menyalurkan zakat atau donasi,” kata lulusan Fakultas Ekonomi UI itu.

Saat ada ajakan berdonasi dan dananya bisa di salurkan tanpa meninggalkan tempat duduk, banyak orang dengan sigap mengirimkan uang. Di Indonesia, ada banyak kegiatan pengalangan dana melalui internet secara dadakan. Beberapa orang memulai kampanye untuk memulai internet secara dadakan. Beberapa orang mulai melakukan kampanye untuk mendanai atau menyumbangkan sesuatu. Orang-orang yang tertarik kemudian menyumbangkan dana.

“Banyak orang yang sama sekali tidak saling kenal, tetapi tetap menyumbang,” ujarnya.

Saat Timmy dan delapan rekannya memulai kitabisa.com, belum banyak laman yang bisa menjadi sarana pengumpulan dan penyaluran sumbangan. Dia mengaku tidak terlalu paham dengan pola itu.

Laman itu di mulai saat Timmy beberapa temannya di Rumah Perubahan tertantangmenggarap proyek sosial yang berdampak besar. Ide mereka di paparkan kepada Rhenald Kasali, pendiri Rumah Perubahan. Rhenald menyetujui gagasan itu.

Gagasan itu tidak serta-merata muncul. Dengan beasiswa, ia belajar penggalangan dana secara daring ke Australia dan Amerika Serikat. Ia belajar tentang wirausaha sosial yang kala itu mulai marak.

Namun, ada hal yang tidak bisa di pelajarinya segera untuk bisa mengoprasikan kitabisa.com: teknologi informatika. Karena itu, ia mengandeng beberapa pihak menguatkan timnya.

 

M  ALFATIH  TIMUR

Lahir: Bukittingi, 27 Desember 1991

Pendidikan: SMA 1 Padang

Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia

Pekerjaan: CEO kitabisa.com

–  Istri: Puti Ara Zena

 

 

Seiring waktu, ternaya sebagian pendiri kitabisa.com tidak bisa bergabung karena berbagai alasan. Bongkar pasang timterjadi hingga saat ini kitabisa.com di gawangi 13 orang. Mereka menggandeng sejumlah pihak sebagai penasihat.

Setelah tiga tahun di kitabisa.com, Timmy belum berpikir untuk menggarap hal lain. Ia masih fokus mengurus laman itu. Istrinya, Puti Ara Zena, juga mendukung kegiatannya.

Inspirasi ayah

Namun, sampai sekarang, keluarga Timmy tidak terlalu paham apa yang dilakukan pemuda itu. Ia hanya menyampaikan, kegiatan sosial itu terinspirasi dari pekerjaan ayahnya sebagai dokter di pedalaman Sumatera Barat.

Ayah Timmy adalah dokter penuh pengabdian dan ikhlas. “Waktu saya kecil, sering sekali melihat ayah mengobati orang tanpa meminta imbalan. Kadang di bayar dengan sayur,” ujarnya.

Setelah besar, Timmy semakin tertarik bergiat dalam kegiatan sosial. Namun, ia tidak ingin seperti ayahnya. Selain karena bukan sekolah kedokteran, ia juga tahu ia tidak akan bisa melakukan kegiatan sosial dengan cara ayahnya.

Ayahnya digambarkan sebagai lilin yang mengorbankan diri untuk menerangi lingkungan di sekitarnya, sementara Timmy ingin ingin punya energi menolong yang lebih tahan lama. Karena itu, ia memilih wirausaha sosial. “Bisnis sosial yang dapat memberikan dampak sosial sekaligus menciptakan profit sehingga berkelanjutan. Dengan begitu, saya tidak harus mengorbankan diri saya,” turutnya.

Minat kuat menolong orang dalam diri pemuda itu menarik minat Rhenald Kasali sehingga menjadikan pemuda itu sebagai asisten. Setelah wisuda, ia pernah meminta masukan Rhenald soal pilihan sekolah lanjut. Namun, Rhenald meminta dia bergabung selama beberapa tahun sebelum melanjutkan sekolah lagi.

Kala itu, orang tua Timmy belum sepenuhnya setuju. Namun, setelah di yakinkan, akirnya mereka mendukung keputusan pemuda itu. Selain menjadi asisten Rhenald, Timmy juga aktif di Rumah Perubahan.

Laman itu dikelolah dengan manajemen bisnis moderen. Pendapatan laman, antara lain, kutipan 5 persen dari setiap penggalangan dana. “Kutipan tidak di berlakukan untuk penggalangan dana bagi bencana alam atau pembayaran zakat,” katanya.

Atas semua usahanya itu, maka lumrah saja jika Forbase memasukkan Timmy dalam daftar 30 anak muda berpengaruh di Asia. Kiprah pemuda itu di harapkan dapat memberi inspirasi bagi masyarakat, terutama para pemuda. Di tengah berbagai masalah yang merendung negri ini, masih ada orang-orang yang mau berbagi untuk kebaikan.

Di sela-sela kesibukan di kitabisa.com, Timmy masih sempat mengeluti hobinya. Ditengah rutinitas sehari-hari, dia kerap memainkan seluang untuk mengusir kejenuhan. Seruling khas Minang itu kerap di mainkannya di kantor.

“Tidak mahir, tetapi bisalah kalau beberapa lagu Minang,” ujar pemuda yang mengaku tidak ingat apa nama adat yang di berikan keluarganya.

Seperti lazimnya seluruh pria dewasa di Sumatera Barat, Timy punya nama adat. “Saya hanya ingat Sutan saja. Tidak ingat lagi apa kelanjutannya,” katanya sembari tertawa.

 

 

UC Lib-Collect

KOMPAS, SABTU, 25 Juni 2016

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *