Ketika Tiga Pemuda Surabaya Buka Usaha Parfum_10 Persen untuk Bantu Anak Disabilitas. Surya. 17 September 2020. Hal.1,15

Meski dalam kondisi penuh keterbatasan akibat pandemi covid-19, tak menghalangi kaum milenial seperti Michael Ongko, Jefry, dan Briandy Putra untuk bisa mengambil peluang di tengah masa sulit.

TIGA pemuda yang masih berusia 23 tahun ini justru mengeluarkan sebuah produk parfum yang tampak elegan dengan harga terjangkau berlabel Fordive.

Founder & Product Development Fordive Michael Ongko mengatakan membuka usaha sebelum pandemi berakhir merupakan sebuah kesempatan besar, karena pesaing yang masih belum terlalu banyak. Terutama parfum, yang kini dianggap sebagai salah satu penunjang gaya hidup dan menjadi wajib dimiliki oleh setiap orang.

“Istilahnya mencuri start kami sudah diskusi dan kemudian memutuskan untuk menjalani bisnisnya saja dulu, trail dan error market. Karena tidak ada yang tahu sampai kapan pandemi ini benar-benar berakhir, dan apa bedanya kalau kami mulai sekarang dan kami mulai setelah pandemi berakhir,” ungkap Michael saat ditemui di gudang distribusi Fordive di Gunungsari Indah Blok L-44.

Dua aroma parfum andalan dari Fordive Iyalah Feeling Good dan Love yourself dimana memiliki karakter aroma yang elegan dan soft tidak terlalu menyengat hidung. Serta kemasan yang menggunakan hard box membuat parfum ini tidak gampang pecah atau bocor saat pengiriman.

“PenjualanKami saat ini melalui marketplace seperti Tokopedia dan Shopee. Tak hanya itu kami juga menggandeng distributor dari berbagai wilayah seperti Palembang, Banjarmasin, Jawa Timur, Solo dan Yogyakarta,” ujarnya.

Tak hanya menjual, Fordive juga mempunyai campaign yang dinamakan Love More, Live More. Hal itu ditujukan untuk mengajak orang lain lebih mencintai diri sendiri dan orang lain.

Salah satu wujudnya adalah disisihkan donasi 10 persen dari hasil penjualan kepada yayasan pendidikan anak disabilitas di Surabaya, “Jadi dari awal bangun Fordive ini, kami punya misi untuk bisa memberi dampak positif untuk orang yang banyak termasuk mereka ( anak-anak penyandang disabilitas) yang harus berjuang dengan keadaan seperti lingkungan yang kurang menerima, mencari kerjaan susah, hingga sekolah pun harus khusus,” ungkap alumni Universitas Ciputra ini.

Mereka terinspirasi dari komunitas disabilitas di Bali yang dapat berkarya dengan lukisan hingga dikenal internasional. “Jadi kami nyumbangnya juga tidak asal-asalan, tapi kami bekerja sama dengan yayasan yang sudah stabil dan terbukti membantu edukasi anak-anak difabel selama berpuluh-puluh tahun,” pungkasnya. (m zainal arif)

Sumber: Surya. 17 September 2020. Hal. 1,15

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *