Kesejahteraan Bersama di Taman Nasional Komodo. Jawa Pos, 5 November 2020 – Hal 4. Dewa Gde Satrya. HTB

HARI Cinta Puspa dan Satwa Nasional merupakan sebuah event tahunan yang diperingati secara naslonal setiap 5November. HCPSN dicanangkan sejak 20 1ahun lalu, tepatnya pada 5 November 1993, melalui Surat Keputusan Preslden Nomor 4 Tahun 1993. Sejak tahun itu pula, telah dltetapkan puspa dan satwa kebanggaan Indonesia (nasional, langka, dan pesona) serta menetapkan puspa dan satwa sebagai identitas daerah.

Sebagai bagian HCPSN kall ini, permenungan akan satwa di Indonesia memiliki relevansi pada sorotanpublikpadapembangunan Jurassic Park di salah satu kawasan Taman Nasional Komodo (TNK), yakni Pulau Rinca.

Benang merah pertentangan dari gagasan untuk mempericual dan menumbuhkan kualitas destinasI berbasis ekowisata tersebut terletak pada beberapa hal. Pertama, kekhawatiran publik akan tekanan dan gangguan habitat komodo sebagai dampak pembangunan fasilitas. Pralctik konservasi yang selama ini melekat dan terjaga dl TNK dikhawatirkan akan terganggu.

Kedua, para pemangku kepentingan di area terdekat dan terdampak dari pembangunan Jurassic Park, yakni masyarakat lokal, merasa tidak dilibatIcan dalam rencana pembangunan. Dua hal itu senantlasa mengiringi dinamika pembangunan di area konservasi. Ildak hanya di Indonesia, tapi juga di berbagai belahan negara.

Taman Nasional (TN) Komodo telah resmi masuk 7 Keajaiban Baru di Dunia. Proses panjang untuk mendapat pengakuan dunia tersebut memiliki beberapa catatan penting yang menunjukkan betapa besar ikatan emosional warga bangsa kepada TNK.

Tahun 2010 lalu, bertepatan dengan tahun keanekaragaman hayati, TNK ditetapkan UNESCO sebagai 7 Keajalban Baru dl Dunia bemuansa alam. Ia berhasil menyisihkan 440 kontestandari 220 negara. Semangat dari status tersebut adalah pengakuan dunia atas keanekaragaman hayati yang khas dimililiki TNK.

Lembaga pariwisata dunia, UNWorld Tourlsm Organization, menekankan pentingnya peran keanekaragaman hayati sebagal salah satu aset terbesar dalam industri pa riwisata. Industri pariwisata yang sehat seharusnya mampu melindungi dan mengonservasi keanekaragaman tersebut, menjadikannya nilai jual dan andalan yang tetap dapat dipertahankan dalam jangka panjang. Aspek tersebut sebagian benang merah dari kekhawatiran pubIlk menyertai rencana Jurasslc Park.

Sejarah mencatat, Belanda telah menamai pulau di slsi selatan Provinsi Nusa Tenggara Timur (N1T) itu dengansebutan Pulau Komodo sejak 1910. Kemudian, pemerintah Indonesia menjaclikannya sebagai taman nasional pertama di Indonesia pada 1980. Komodo termasuk anggota famili biawak varantdaedan taxicofera (jenis kadal beracun) serta merupakan kadal terbesar di dunia dengan rata-rata panjang2-3 meter. Di TNK tidak hanya terdapat kawanan satwa llar komodo, tetapi juga rusa, babi hutan, kuda liar, kerbau liar, dan sekitar 300 spesies burung yang bersanding dengan ragam tumbuhan khas di Kepulattan Nusa Tenggara.

Tahun-tahun sebelumnya, TNK menargetkan maksimal turis masuk ke kawasan itu sebanyak 600 orang per hari atau 219.000 orang per tahun. Kenaikan secara tajam pada jundah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) terjadi pada tahun-tahun awal setelah penetapan TNK sebagai 7 keajaiban baru. Menyertai prestasi TNK, sebuahgrup hotel sudah membuka hoteldi kawasan Labuan Bajodan saat ini Labuan Bajo telah ditetapkan sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN).

 

Kesejahteraan Satwa

Dari pemberitaan media, pemerintah berhati-hati dalam menjalinkan pembangunan Jurassic Park ini. Selain diawasi UNBSCO, pembangunan dilakukan di zona khusus yang tidak mengganggu ekosistem. Instansi pemerintahan terkait Juga telah turun ke lapangan. Melakukan dialog dengan masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya.

Selain perlu mempertimbangkan keterlibatan masyarakat, elemen inti dari ekowisata yang merupakant’napas” dari TNK adalah environment sustainability. Kesejahteraan satwa diyaldni juga menjadi pertimbangan penting yang telah diperhitungkan. Wacana kesejahteraan binatang sebenarnya semakin marak di negara-negara dunia Ini.

Wacana itu dipicu fakta bahwa setiap tahun binatang mengalami penderitaan karena eksploitasi dan penganiayaan. Di Indonesia, dengan keragaman satwa yang sangat khas (sekitar 17 persen satwa di seluruh dunia terdapat di Indonesia), ada perlakuan kejam dan eksploitasi dalam bentuk perdagangan terlarang. Binatang juga menderita ketika mereka tidak diperlakukan dengan baik atau tidak dihiraukan.

Terkait hal tersebut, perlulah diingat kembali lima kebebasan binatang (thefivefreedoms) untuk meminimalisasi praktik kekerasan atas satwa. Pertama, freedomfrom hungerand thirst (kebebasan dari kelaparan dan kehausan). Artinya, binatang harus diberi makanan dan minuman yang cukup untuk menjamin mereka sehat. Kedua, freedom front discomfort (kebebasan dari ketidaksenangan) pratiknya, kita wajib memberikan kondisi lingkungan yang sesuai bagi binatang dan yang menyenangkan.

Ketiga, freedonrfrom poin, injury and disease (kebebasan dari kesakitan, luka-luka, dan penyakit). Perwujudaanya adalah mencegah kemungkinan satwa jatuh sakit atau menderita Iuka-luka sebanyak mungkin. Jika satwa masih jatuh sakit atau menderita Iuka luka, maka harus ada jaminan bahwa hewan itu dapat diperiksa oleh dokter hewan dan diobati.

Keempat, freedom to behave normally (kebebasan untuk bertindak dengan biasa sebagai seekor binatang). Satwa berhak mendapatkan lingkungan yang luas, yang memungkinkan mereka melakukan gerakan alami dan bergaul dengan binatang lain yang berjenis sama. Kelima, freedom from fear and distress atau kebebasan dari ketakutan dan stres.Penvujudannya adalah menjamin dilakukannya perlakuan yang baik untuk menghindarkan satwa dari ancaman kebosanan, stres, ketakutan, dan kesusahan.

Kiranya, pada momen Harl Cinta Puspa dan Satwa Naslonal ini, ditemukan benang merah yang menyejahterakan masyarakat dan ekosistem dl area TNK menyertai pembangunan furasslc Park. Selamat Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional 2020.

Oleh Dewa Gde Satrya (Dosen Hotel and Tourism Business, Falcultas Pariwisata, Universitas Ciputra Surabaya)

 

Sumber: Jawa Pos. 5 November 2020. Hal 4

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *