Kedai dan Eksplorasi Rasa Camelia Sinensis. Jawa Pos 8 Agustus 2021. Hal. 3

BARISTEA. Demikian sebutan bagi para penyeduh teh di kedai Conextea. Berlatar stoples-stoples penuh racikan teh artisan, seorang baristea akan ramah mengajak ngobrol pengunjung. Sekadar menanyakan kabar atau mendeteksi mood untuk kemudian menyajikan teh yang paling tepat.

Rony Wijaya, owner Conextea, mengatakan bahwa pengunjung yang bingung mau minum teh apa adalah “santapan lezat” baristea. “Kalau pengunjungnya bingung, ada banyak peluang untuk bercerita tentang teh,” katanya saat ditemui Jawa Pos pada Kamis (4/8).

Kedai teh di kawasan Tangerang Selatan itu memamerkan banyak formula artisan. Ada yang menggunakan daun pandan, daun secang, cengkih, lavender, mawar, dan banyak lagi. Hadirnya kedai teh dengan beragam sajian artisan memberikan warna tersendiri bagi dunia FnB Indonesia. Kelompok usia pengunjung kedai teh pun menjadi semakin muda. “Awalnya, kami pikir yang datang akan berusia 30 tahun ke atas,” ujar Rony.

Selain teh artisan, jenis yang juga digemari adalah blend tea alias teh yang dipadukan dengan berbagai rempah dan bunga. Mereka yang tidak terbiasa dengan kolaborasi banyak rasa dalam teh artisan dan blend tea bisa menye ruput pure specialty tea.

Pria 21 tahun itu berprinsip bahwa menikmati teh bukanlah tentang menghilangkan dahaga atau sekadar gaya. Yang dia suguhkan adalah pengalaman ngeteh. Karena itu, dia mewajibkan seluruh kru Conextea punya product knowledge yang baik terkait teh. Juga, wajib memiliki kemampuan komunikasi yang baik. Tujuannya, pengunjung bisa betah.

Pada galerinya, Conextea memajang kemasan produk Sila Tea House. Dua kedai itu bergandenganmengangkat pamor teh Indonesia. Selain menyajikan teh, Sila yang berlokasi di Kota  Bogor juga bersentuhan langsung dengan petani. Maka, Sila peduli pada produk dan pemasarannya.

“Kebanyakan orang meminum teh sebatang batangnya. Wangi atau rasanya pun dari perasa buatan,” tutur Redha Ardias, co-founder Sila, saat menerima Jawa Pos di kantornya pada Rabu (4/8).

Sebagian besar masyarakat mengenal teh sebagai minuman rasa sepat dan berwarna gelap. Rata-rata mereka menikmati teh dengan tambahan gula. Padahal, ada begitu banyak rasa pada teh Indonesia yang tidak perlu diseragamkan menjadi manis karena ditambah gula.

Selama ini, produsen teh mengekspor produk mentah mereka ke mancanegara. Ironisnya, teh-teh itu setelah diproses dan dikemas masuk lagi ke Indonesia dengan “baju” asing.

Melalui Sila, Redha bermain-main pada area tersebut. Menyajikan produk dalam negeri dengan mengolah sendiri sampai menjadi minuman, tanpa melibatkan proses ekspor-impor. Untuk menarik perhatian, dia pun mengemas teh secara unik. Dia juga menciptakan nama-nama yang tidak biasa. Teh Jeda misalnya. Teh blend dengan fungsi relaksasi itu dikemas dalam wadah biru tua dengan gambar hutan. Jika diseduh, tehnya berwarna biru.

Redha juga menyisipkan informasi tentang teh pada setiap kemasan. Bukan hanya informasi terkait bahan baku, tapi juga cerita di balik teh tersebut. Produk yang berkualitas dan dikemas menarik akan menaikkan permintaan. Ujungnya, petani dan para pemetik teh juga bisa merasakan dampak baiknya. (lyn/c6/hep)

 

Sumber: Jawa Pos 8 Agustus 2021. Hal. 3

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *