Kecerdasan Mencari Celah. Surya. 19. Oktober 2020. Hal.1,15. David Sukardi. MEM

SAYA melihat ada tiga kategori pemuda; pertama adalah pemuda aktif. Artinya memang dia tidak ada stimuli apapun dia memang sudah aktif. Dan pada dasarnya memang dla pemuda kreatif, kalau dikasih stimuli maka lebih hebat lagi. Banyak juga pemuda yang seperti itu.

Di Mojokerto ada yang namanya Pak Muhajir. Dia pengusaha sepatu, tapi terkena dampak pandemi Covid- 19.

Pada situasi semacam Ini dia berpikir agar mendapat nilai jual tinggi, dia kemudlan mengambil kursi-kursi pijat yang sudah rusak. ltu harganya kan otomatls murah hanya sekitar Rp 400-500 ribu.

Kursl itu langsung diperbaiki dengan teknik perbaikan sepatu, sehingga bisa lebih kuat dan lebih bagus produknya dan kalau dijual harganya bisa Rp 10-15 Juta. Padahal dia cuma mengeluarkan ongkos sekitar Rp 1-2 juta. Itu karena dia tidak bisa diam, karena dia selalu kreatif, dan dia terus mencari.

Lalu, dl Bojonegoro, ada pemuda yang sebelumnya aktif di Mangrovc, Wonorejo. Karena di mangrove sini dia terdesak, akhirnya dia dipindah di Bojonegoro.

Setelah dia pindah ke Bojonegoro dia “melihat lingkungannya ini memiliki sungai yang kotor sekali. Bagaimana caranya ngomong kalau dia berani ngomong, takut tidak didengarkan

Kemudian dia membuat semacam rambak ikan. Cara memelihara ikan di kondisi sungai kotor itu dia rnemberikan makananmakanan herbal. Ikannya akhirnya menjadi kuat, panen ikannya banyak dan si pemuda ini hidupnya lebih baik. Akhirnya membuat tetangga karan-kiri ikut.

Akhirnya seluruh warga desa di situ membuat produk rambak ikan.

Warga gak tahu cara merawat ikan, akhirnya belajar dengan si pemuda Ini. Bibitnya beli sama si pemuda itu, pakannya juga beli. Akhirnya dengan dia mernajukan desa, kehidupan ekonominya jauh lebih besar.

Kedua adalah pemuda pasif. Kelompok yang berlawanan d.engan pemuda aktif. lni kelompok pemuda yang bukan hanya paslf, lapi gak bisa diapaapain.

Walaupun dia dikasih semangat ini ataupun itu, percuma. Karena pada dasarnya si pemuda itu malas jadi tidak menginginkan apa-apa. Pokoknya mau santai easy going, kalau bisa enggak usah apa-apa, tapi bisa dapat uang.

Kalau kelompok pemuda yang pasif semacam ini, mau diapa-apakan tetap tidak bisa. Dikasih stimulus apapun tidak blsa.

Ketiga, pemuda oportunIs. Artinya ketika ada kesempatan ia selalu ambil nanti kalau kesempatannya hilang dia berhenti.

Artinya ketlka kita memberikan bantuan BLT itu misalnya dari pemerintah atau industri kreatif itu memang harus jeli. Kalau tidak pada level pemuda yang kreatif, maka bisa memilih pada level pemuda yang oportunis.

Sebenarnya itu masalah mentalitas. Makanya itu harus jeli untuk membidlk pada dua kriteria itu. Jangan sampai terkena pada level pemuda pasif, itu kan percuma.

Ketika saya berkunjung di Gunungkidul, saya melihat banyak pemudapemuda yang memelihara kambing. Kemudian saya tanyakan apakah emang cuma hanya untuk dipelihara saja kambing itu. Mereka menjawab, ya adanya seperti ini tidak jadi apaan lagi. Kan itu dari turun temurun mentang suclah seperti itu dan saya harus. menikmatl kondisi seperti ini.

Ketika saya ajak begini, mcrcka bilang enggak karena merasa repot begini- begini. Tetap mereka lebih enjoy dengan kondisi yang seperti itu. Memang itu secara mentalitasnya semacam itu.

Itu persoalan mentalitas, kalau dikasih uang mereka (pcmuda pasifi juga mau. Tapi itu akan digunakan bukan untuk kreativitas tapi untuk konsumtif.

Makanya itu harus hatihati jangan sampai melarikan uang ke arahnya yang konsumtif. Karena uang berapapun nanti pasti akan habis Itu. Dan dia juga tidak akan merasa bersalah mereka menganggap ini (uang) adalah bantuan.

Sementara bagi pemudapemuda yang kreatif, dia mampu mengubah hambatan-hambatan. Kuncinya adalah kecerdasan untuk

mencari celah.

Prinsipnya begini, ketika kita punya modal banyak tapi tidak memiliki ide maka modal itu akan habis. Tapi dl tangan orangorang kreatif,walaupun dikasih cuma sepersepuluhnya uang itu akan berubah menjadi bisa 10 kali lipatnya. Kuncinya itu tadi kreativitas dan idenya itu tidak akan pernah mati.

Jadi kita tuh diberi kemurahan oleh Tuhan kreativitas yang luar biasa yang tidak ada batasnya selama manusia masih mau memanfaatkannya, yaitu berpikir untuk menghasilkan ide-ide yang kreatif.

Jadi tidak ada yang namanya bisnis lesu bagt orang yang membelit otakotak kreatif. Yang ada hanyalah otak lesu.

Memanfaatkan medsos untuk berbisnis ini yang biasa disebut dengan benchmarking. Sebetulnya pemuda-pemuda yang memanfaat kan henchmarking itu ide-iclenya akan sangat luar biasa.

Mlsalkan kalau kita lihat ide dari korek api. Mungkin kita pikir ide kreatif darikorek api paling mentok adalah tusuk gigi.

Ternyata kalau kita membuka internet kreatilltas dari korek api itu bisa dibtiat miniatur jam Big Bang, miniatur Masjid Istiqlal. Dan 1tu kalau dijual bisa dihargai hampir Rp 1 Miliar.

Cuma permasalahannya adalah kita memiliki kecenderungan yaitu selalu jatuh. Namanya juga anak muda selalu jatuh ke godaan. Godaan pertama adalah nafsu, dengan fasilitas itu kita biasa mencari pornografi. Bukannya ideide bisnis.

Jadi kita itu terbiasa memberikan vitamin lerhadap nafsu, dan tidak memberikan vitamin kepada ide dan gagasan. Justru harusnya dengan adanya internet tadi itu menjadi vitamin menjadi ide bisnls kita. (pam/bri)

 

Sumber: Surya. 19 Oktober 2020. Hal 1, 15

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *