Kebaikan Hati Sang Peneliti. Kompas. 22 Juli 2021. Hal 16

Nama Sarah Catherine Gilbert tengah melejit di dunia. Di ajang turnamen tenis Grand Slam Wimbledon, ia mendapatkan penghormatan khusus. Bagaimana guru besar vaksinologi Universitas Oxford itu bisa dihormati sedemikian rupa?

Sarah Gilbert adalah guru besar vaksinologi Universitas Oxford yang memimpin tim menemukan vaksin pertama untuk pandemi Covid-19. Vaksin itu kemudian dikembangkan bersama perusahaan farmasi AstraZeneca dan kini dikenal dengan nama vaksin Oxford/AstraZeneca

Gilbert bukan orang baru dalam penelitian tentang vaksin. Ibu dari tiga anak kembar ini memiliki pengalaman selama 25 tahun dalam pengembangan vaksin. Tidak mengherankan ketika pande- mi Covid-19 terjadi, ia dipercaya sebagai pemimpin tim mengembangkan vaksin untuk virus SARS-CoV-2 atau virus korona jenis baru

Gilbert pertama kali datang ke Oxford, Inggris untuk bekerja sebagai peneliti pasca- doktoral tahun 1994 bermodalkan gelar doktor di bidang biokomia dari Universitas Hull. Tahun 1999, ia bergabung menjadi dosen tetap sekaligus salah satu peneliti utama di Institut Jenner, lembaga di bawah Universitas Oxford yang meneliti vaksin dan obat-obatan.

Menurut biodata di laman resmi Oxford, di lembaga tersebut ia terlibat dalam pengembangan sejumlah vaksin untuk penyakit malaria, in fluenza, demam Nipah, demam Lassa, demam Lembah Rift, dan sindrom pernapasan akut Timur Tengah (MERS).

Tahun 2007, Gilbert dan tim memperoleh hibah untuk melakukan penelitian lebih mendalam mengenai vaksin untuk penyakit-penyakit yang telah tereradikasi tetapi masih bisa muncul kembali apabila manusia tidak melakukan pencegahan. Berkat hibah ini, ia dan tim bisa mengembangkan vaksin influenza universal yang bertujuan mengobati semua jenis influenza.

Dalam pemaparannya di majalah sains, Splice, ia menerangkan bahwa influenza masih menjadi pandemi walaupun di negara-negara Barat masyarakat umumnya telah diimunisasi setiap tahun. Selain itu, influenza merupakan penyakit yang bermutasi sangat cepat

Oleh sebab itu, vaksin yang dibuat Gilbert dan kolega berfungsi dengan cara menabah jumlah sel T, yakni sel  daya tahan tubuh, yang spesifik terbentuk apabila terkena virus influenza. Vaksin ini diujicobakan kepada 500 orang berusia 65 tahun ke atas di Inggris per April 2017 dan penelitiannya masih berlangsung.

Kajian vaksin influenza universal itulah yang mendasari tim Gilbert di Vacci tech, lembaga intra Universitas Oxford yang ia dirikan, untuk mengembangkan vak sin “Penyakit X”. Ini istilah untuk penyakit yang belum muncul.

Ketika kasus-kasus awal Covid-19, yang saat itu dikenal dengan istilah Pneumonia Wuhan, diberitakan di media arus utama pada akhir 2019, Gilbert beserta tim menyimpulkan, harus ada alternatif pengobatan untuk berjaga-jaga jika penyakit ini menyebar. Mereka mengembangkan vaksin baku berbasis adeno virus, sejenis virus yang mengakibatkan penyakit dengan gejala seperti flu.

Adenovirus ini dirancang agar tak bisa berkembang biak ketika disuntikkan ke dalam tubuh manusia. Di dalam ade novirus ada tambahan protein yang diambil dari duri per mukaan virus korona. Wal hasil, adenovirus ini akan melepas protein tersebut di da lam tubuh manusia dan men ciptakan daya tahan terhadap infeksi.

“Memang rumit karena belum ada vaksin untuk virus korona pada manusia. Vaksin virus korona selama ini hanya untuk unggas dan bovinae (keluarga sapi, kerbau, dan antelop),” kata Gilbert dalam wawancara dengan harian The Independent pada Maret 2021.

Vaksin ini diberi kode AZD1222 dan mulai diuji klinis pada April 2020. Umumnya, uji klinis memakan waktu hingga lima tahun. Tim penguji tak akan memulai kegiatan sebelum mereka mengumpulkan sukarelawan sesuai kuota dan persyaratan kesehatan.

“Kami memakai pendekatan yang berbeda dengan mengiklankan pencarian sukarelawan dan langsung melakukan uji klinis sembari terus menambah sukarelawan,” kata Gilbert.

Uji klinis yang memakan waktu empat bulan. Per September 2020 vaksin yang kemudian diproduksi bekerja sama dengan AstraZeneca ini menjadi vaksin pertama yang disetujui Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk pencegahan Covid-19.

Berdasarkan data Pemerintah Inggris per Juni 2021, di negara tersebut vaksin Oxford/AstraZeneca ini 92 persen efektif mencegah masyarakat agar tidak perlu dirawat di rumah sakit aki bat Covid-19. Dalam uji klinis, efikasi vaksin ini 74 persen, tetapi pada kenyataan setelah dilakukan imunisasi massal, angkanya naik menjadi 90 persen.

Meskipun demikian, Gil- bert dan koleganya tidak menyatakan bahwa orang orang yang disuntik vaksin itu akan kebal sepenuhnya terhadap Covid-19. Karena itu, ia menekankan bahwa memakai masker, menjaga jarak, dan sering member

Dalam dua wawancara berbeda di LBC dan I News pekan lalu, Gilbert mendorong Imunisasi Covid-19 di seluruh dunia. Ia menjelas kan, situasi tidak akan bisa kembali normal apabila daya tahan tubuh massal berskala global tidak terwujud.

Masalahnya, vaksinasi Covid-19 berjalan timpang Berdasarkan Our World in Data Juli 2021, secara total negara-negara maju telah memvaksinasi 50 persen penduduknya. Sebaliknya, negara-negara miskin baru 1 persen. Gilbert khawatir jika kesenjangan vaksinasi global masih terjadi, akan ada mutasi galur-galur baru yang tidak bisa diatasi oleh vaksin yang tersedia sekarang

Kepada BBC, April 2020 Gilbert menegaskan, hak atas kekayaan intelektual (HAKI) vaksin Oxford/AstraZeneca milik Universitas Oxford. Ia dan koleganya kan ke seluruh penjuru dunia. Bahkan, saat itu Gilbert mengatakan belum ada kepastian Inggris akan memperoleh hasil produksi pertama karena bisa saja produksi pertama justru di kirim ke negara-negara yang lebih memerlukan. Vaksin ini lalu diproduksi secara massal oleh perusahaan As traZeneca.

Pada Konferensi Tingkat Tinggi G-7 dibahas tentang penangguhan HAKI semua merek vaksin Covid-19 Perusahaan AstraZeneca termasuk yang enggan melepas paten dan royalti itu. Namun, Gilbert beserta Vaccitech yang memegang sebagian HAKI terus mendorong penangguhan.

Upayanya tidak sia-sia. Sekarang selain di Inggris, vaksin itu juga diproduksi Serum Institute di India dan Siam Bioscience di Thailand. Kemungkinan vaksin itu juga akan diproduksi di Benua Afrika.

Atas prinsipnya ini, Gilbert mendapatkan penghormatan secara global, termasuk dari penonton dan orang-orang yang hadir di turnamen Grand Slam Wimbledon.

 

Sumber: Kompas. 22 Juli 2021. Hal 16

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *