Kapan Surabaya Serius Menangani Cagar Budaya_Ketuklah Daku, Kau Kulepas. Harian Disway. 28 Mei 2021. Hal. 14,15. Freddy H I. INA

Oleh: Freddy H. Istanto*

SUARA mesin gergaji itu menderuderu. Pohon-pohon bertumbangan, lalu batang- batang tersebut ditumpuk rapi.  Truk pun hilir mudik keluar mengangkut potongan pohon.  Itu bukan hutan di Kalimantan, Kawan!  Truk-truk tersebut milik Pemkot Surabaya.

Ditelantarkan lebih dari sepuluh tahun, eks Penjara Kalisosok sudah berubah jadi hutan pembohong. Komunitas Pelestari Bangunan Cagar Budaya memergoki upaya-upaya pembangunan sebuah konstruksi yang patut diingat tidak legal itu di sana.  Lalu, media massa seru meliputnya.  Baru pemkot seolah tersentak dan segera melakukan bersih-bersih itu.

Kepemilikan bangunan cagar budaya eks Penjara kalisosok tersebut memang bukan hak pemkot. Sejak adanya tukar guling dengan pihak swasta, bangunan itu tidak lagi menjadi tanggung jawab pemerintah lagi.  Namun, bangunan yang terletak di Jalan Kasuari Krembangan telah disahkan sebagai bangunan cagar budaya (BCB) oleh wali kota Surabaya melalui SK No 188.45/251/402.1.04/1996.

Setelah proses tukar guling itu, status hukum sebagai bangunan cagar budaya tidak sertaerta terlepas.  Merawat, menjaga, mengembangkan BCB itu menjadi jawab pemilik baru, Pemkot Surabaya bertanggung jawab ikut mengawasi keberadaan BCB itu.

Sebelas tahun yang lalu Kalisosok jadi komunitas pelestari BCB.  Saat itu ațap bangunan besar diturunkan.  Komunitas tersebut khawatir bangunan tanpa atap genting Itu akan merusak secara perlahan lahan bangunan tersebut secara keseluruhan.  Beberapa media massa tidak bisa masuk menembus bangunan yang memang milik swasta itu.

Namun, Komunitas Surabaya Heritage Society (SHS) bersama-sama lurah, camat, satpol PP, dan media akhirnya diizinkan masuk.  Tentu kondisi saat itu tidak terpisahkan Kalisosok hari-hari ini.  Menariknya, saat itu Pemkot Surabaya saat media dicecar ternyata tidak mengetahui secara pasti siapa pemilik bangunan tersebut.

Kejadian pemkot baru diingatkan oleh komunitas itu bukan sekali ini saja.  Sepuluh tahun lalu, pasca kebakaran gedung Balai Pemuda, mangkrak tersebut dibiarkan.  Empat bulah pengatura, komunitas SHS menemukan gedung tumbuh-tumbuhan di reruntuhan bekas kebakaran dalam gedung tersebut.  Setelah dilaporkan media, barulah pemkot besoknya datang untuk membersihkan belukar tersebut.

Terlambat merespons perusakan BCB sudah menjadi kinerja buruk pemkot.  Pada 2013, gedung sinagoge di Jalan Kayon dirata- tanahkan.  Sinagoge satu-satunya di Indonesia itu ingin merayakan ulang tahun Kota Surabaya pada 2013.

Yang kemudian jadi seru adalah rata tanahnya Rumah Radio Bung Tomo di Jalan Mawar, Surabaya.  Sama modusnya, pemkot seolah gagap ketika komunitas pelestari sejarah memergoki kejadian yang menganggap itu.

Seru terjadi saling silang pendapat karena ternyata bangunan itu sudah beberapa kali perubahan.  Keaslian Rumah Radio Bung Tomo diragukan.  Ketika bertemu dengan pakar dari BPCB Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa kajian arkeologis, keberadaan bangunan tersebut tidak diragukan.  Kajian akademisnya tidak jelas.  Prof Johan Silas mengalami bangunan Timur tentang yang tidak meragukan Bangunan Jalan Mawar itu Rumah Radio Bung Tomo.  Karena, secara logika, pasti saat siaran Bung Tomo berpindah-pindah dari satu lokasi lain untuk mendeteksi terdeteksi Belanda, terlepas dari pendapat itu, Surabaya Heritage Society mengusulkan agar momentum Rumah Radio Bung Tomo itu dipakai sebagai program pelestarian titik putih BCB di Surabaya.

Pemerintah kota q.q.  dinas kebudayaan dan pariwisata perlu mengkaji kembali BCB- BCB yang telah ditetapkan dengan kajian akademis yang valid.  Mengevaluasi kembali kebijakan-kebijakan tentang cagar budaya secara detail dan tuntas.  Memberdayakan dinas terkait dengan pemahaman staf yang baik tentang cagar budaya.  Mengajak semua pemangku kepentingan kota untuk bahu membahu catatan sejarah Kota Surabaya berupa BCB.  Membina relasi yang baik dengan wai organisasi-organisasi seperti komunitas pelestari sejarah, pelestari bangunan memperkuat kerja sama dengan jaringan-ja organisasi sejenis.  Bagaimana Surabaya terlibat dalam jaringan Kota Pusaka Indonesia.  Pemkot dan wali kota memiliki jaringan politik yang akan menjaga, selain itu, dan memasakinikan catatan-catatan kota berupa bangunan cagar budaya.

Selamat berulang tahun Kota Surabaya.

*) Dosen Prodi Arsitektur Interior Universitas Ciputra;  direktur Surabaya Heritage Society

 

Sumber: Harian Diswey. 28 Mei 2021. Hal. 14,15.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *