Kampung Pendean Eksis Sejak Zaman Majapahit (11-habis). Mencari Benang Merah Ujung Galuhdi Kampung Pandean. Radar Surabaya, 06 November 2020. Halaman 3. Freddy H Istanto. INA

Beberapa waktu lalu, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini sempat meninjau bangunan kuno di Kelurahan Peneleh tersebut. Salah satunya termasuk Kampung Pandean. Wali kota dua periode itu menyempatkan melihat langsung Sumur Jobong di Jalan Pandean gang I pasca direvitalisasi,” Moh. Mahrus

             TAK hanya melihat langsung Sumur Jobong, Risma juga sempat melihat  dokumen hasil kajian tim arkeolog dari Balai Purbakala Trowulan terkait sumur dari batu bata yang juga banyak ditemukan di Trowulan, Mojokerto, sebagai peninggalan kebudayaan masyarakat Hindu Budha tersebut.

Dalam kesempatan itu, Risma menyatakan bahwa – dahulu ada cerita jika di Surabaya pernah berdiri kerajaan bernama Ujung Galuh. Oleh karena itu dengan ditemukannya bukti-bukti sejarah tersebut, dirinya yakin jika Surabaya atau Soerabaia adalah kawasan perkotaan sejak masa Kerajaan Majapahit yang kekuasannya meliputi hampir seluruh Asia Tenggara di zaman Raja Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada. Jika kawasan ini menjadi situs dan kawasan yang dilindungi maka bisa dimanfaatkan untuk menyedot kunjungan turis ke. Kota Pahlawan.

“Kita butuh waktu untuk merangkai sebuah cerita antara data yang ada di buku sejarah dengan hasil temuan di lapangan. Memang sulit, tapi bukan berarti tidak bisa. Memang butuh biaya dan waktu,” ungkap Risma waktu itu.

Menurut arek Kediri ini, di Kampung Pandean pasti ada sebuah cerita yang terkait dengan masa lampau atau bahka’n sebelum zaman kedatangan kolonial Belanda. Bukti-bukti teinuan itu harus digali dan diteliti ‘dengan cara dikumpulkan dan dikaitkan satu sama lain sehingga diharapkan akan diketahui sejarah sesungguhnya dari kawasan Kampung Pandean dan kawasan heritage Peneleh atau Paneleh yang diduga sudah eksis sejak zaman Majapahit.

Bila berhasil menggan-dengkan cerita itu, kata Risma, akan lebih bagus dan menarik daripada cerita yang ada selama ini bersumber dari literatur Eropa. “Makanya nanti suatu saat bisa dibuat serangkaian cerita. Apalagi kawasan ini sudah masuk kawasan cagar budaya,” tegasnya.

Salah satu pengurus Kampung Pandean, Ida Armawati, sangat mendukung bila Pemkot Surabaya membuat wisata heritage di Kampung Pandean dan Peneleh, Surabaya. “Warga intinya sangat mendukung. Kami akan mengambil peluang dan tentu ikut menjaga kelestarian bangunan di sini,” ucapnya.

Ketua Surabaya Heritage Society, Freddy H Istanto menambahkan, bila sudah ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya, maka pemerintah harus bertanggung jawab menjaga dan melestarikan tidak hanya bangunannya. Tapi juga kawasannya termasuk sarana dan prasarana pendukung.

“Sarana trasarana harus memadai. Jalan dan tempat parkir harus diperhatikan. Jangan sampai ada kemacetan,” ucapnya. Bukan hanya itu, Freddy juga berharap Pemkot Surabaya bisa melakukan perawatan terhadap makam kuno Belanda yang ada di kawasan Peneleh.

Menurutnya, bila makam kuno dengan arsitektur khas Eropa itu dirawat maka akan menjadi objek wisata heritage bernilai tinggi. Tak hanya makam Belan-da, lanjut Freddy, semua bangunan lama yang ada di Kota Surabaya dan sudah ditetapkan sebagai cagar budaya juga harus benar-benar dijaga dan dirawat supaya tidak hilang nilai kesejarahan-nya dan tetap lestari sebagai edukasi bagi generasi penerus. (*/jay)

Sumber: Radar Surabaya. 6 November 2020. Hal 3 dan 7

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *