Kampung Pandean Eksis Sejak Zaman Majapahit (5) Makam-makam Berserakan di Dua Gang di Jalan Pandean. Radar Surabaya, 30 Oktober 2020. Halaman 3. Chrisyandi Tri Kartika. LIB

          “Jika datang ke Jalan Pandean jangan kaget bila menjumpai ada makam di tengah jalan. Pasalnya, di dua gang jalan itu terdapat makamlawas. Seperti di Jalan Pandean II dan Jalan Pandean IV, Peneleh, Surabaya.” Moh.Mahrus

Makam-makam tersebut sudah ada sejak lama. Bahkan sebelum masa kolonial. Beberapa warga bahkan meyakini makam itu sudah ada sejak zaman Majapahit. Warga sekitar sudah tidak heran. Sebab, kawasan Pandean memang sejak dulu merupakan kawasan pemakaman.

“Ya, di Jalan Pandean II dan IV itu ada makam yang melintang di tengah jalan,” kata Ida Armawati, pengurus RT di kampong Pandean. Ida menceritakan, makam-makam tersebut masih sering diziarahi dan ditaburi bunga oleh pihak keluarga dab kerabatnya.

Menurutnya, untuk makam yang ada di Jalan Pandean II dan IV, Warga sekitar juga ikut menjaga dan membersihkan. Karena keberadaan makam itu di wilayah Pandean sudah dianggap biasa berdampinga dengan rumah-rumah penduduk.

“Letaknya memang di jalan, tapi tidak sampai mengganggu. Warga yang bawa motor juga paham, mereka harus turun, lantas (mesin motor dimatikan) dituntun,” katanya.

Pengamatan Radar Surabaya, makam-makam yang berserakan di gang-gang di Jalan Pandean itu ada yang sudah direnovasi bentuk luarnya. Bahkan ada yang dikeramik dan dicat warna putih.

Pustakawan dari Universitas Ciputra Surabaya, Chrisyandi Tri Kartika mengatakan, zaman dulu orang memakamkan kerabatnya yang meninggal bisa di mana saja. Tak harus di areal makam. Selain itu pada zaman dahulu, Penduduk kampong bila ada yang meninggal, biasa dimakamkan di sekitar tempat ibadah atau di tanah kosong milik keluarga.

“Keberadaan makam-makam keluarga itulah, apalagi yang sudah lama ditinggalkan, memancing warga kampong lainnya dan warga pendatang yang tidakn memiliki tanah luas ikut memakamkan anggota keluarganya di sana karena dianggap sebagai lokasi pemakaman umum,” bebernya.

Chrisyandi menurutkan, semenjak era colonial, mulailah dibangun area pemakaman umum yang teregistrasi. Sehingga, Pemakaman menjadi teratur dan tidak bercampur dengan pemukiman (bersambung/jay)

 

 

Sumber: Radar Surabaya, 30 Oktober 2020, Halaman 3

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *