Kampung Pandean Eksis Sejak Zaman Majapahit (6) Banyak Bangunan Bergaya Eropa, Tionghoa, dan Jawa. Radar Surabaya, 31 Oktober 2020. Halaman 3. Freddy H Istanto. INA

“Di kawasan Kampung Pandean di Kelurahan Peneleh, Kecamatan Genteng, Surabaya, masih banyak dijumpai bangunan kuno. Tak hanya bergaya arsitektur Jawa, bangunan kuno tersebut juga bergaya Tionghoa bahkan Eropa,” Moh. Mahrus

Dari pengamatan Radar Surabaya, bangunan bergaya arsitektur Eropa, Tionghoa dan Jawa tersebut banyak yang dimanfaatkan sebagai rumah tinggal. Tapi menariknya, meski pada saat itu tren bengunan bergaya arsitektur Eropa, warga Pandean masih ada yang mempertahankan bangunan berarsitektur Jawa yakni rumah Joglo. Seperti yang ada di Jalan Pandean gang II.

Bangunan-bangunan lama tersebut antara lain bisa dijumpai di Jalan Panden I, II, III dan IV. Bangunan kuno itu paling banyak difungsikan sebagai tempat tinggal atau rumah. Ini bisa dimaklumi karena kawasan ini dikenal sebagai lokasi pemukiman selain dulu dipakai sebagai lokasi kuburan atau makam.

Salah satu pengurus Kampung Pandean, Ida Armawati mengatakan, bangunan kuno itu paling banyak dipakai untuk rumah warga. Namun, kondisinya ada yang masih bagus dan ada yang kusam. “Bangunan lama era kolonial masih ada, kebanyakan dipakai rumah warga,” katanya kepada Radar Surabaya.

Perempuan yang juga membuka les ini menjelaskan, untuk bangunan lama di Jalan Pandean I terdapat rumah. Selain itu juga ada bekas sekolah Muhammadiyah yang kini difungsikan sebagai rumah seperti pada umumnya. “Kalau bangunan lama tempat pande besi di sini sudah gak ada. Rata-rata sudah jadi rumah baru,” paparnya.

Tidak hanya di Pandean I, lanjut Ida, Bangunan lama juga bisa ditemukan di jalan Pandean II, III, dan IV. “Di gang dua itu ada musala dari bangunan kuno, tapi sekarang sudah dijadikan masjid,” bebernya.

Ketua Surabaya Heritage Society, Freddy H Istanto mengungkapkan, bangunan kuno di Jalan Pandean tidak hanya bergaya arsitektur kolonial Belanda.

“Beberapa juga ada yang gabungan arsitektur Tionghpa dan Jawa,” katanya.

Dosen Arsitektur Interior Universitas Ciputra ini menuturkan, untuk bangunan bergaya kolonial di Pandean rata-rata ditempati penduduk lokal. Menurutnya, dahulu warga membuat rumah bergaya aristektur Eropa karena mereka memiliki selra yang ngetren di zamannya. “Kalau saya amati di Surabaya Utara, kampong-kampung di sana juga punya karakter kebudayaan yang berkembang pada saat itu. Jadi itu penting. Tren arsitektur memang dibawa dari zamannya,” urainya.

Freddy menyebutkan ketika Indonesia dipengaruhi arsitektur mediterian, hampir seluruh bangunan utamanya tempat tinggal menggunakan arsitektur mediteran tersebut. “Kalau saat itu (zaman kolonial, red), arsitektur Belanda yang memonopoli,” ujarnya.

Freddy menyatakan bangunan berarsitektur Eropa memiliki ciri-ciri bangunan dengan kolom klasik, megah, anggun, dan jendela serta pintu berukuran besar. Selain arsitektur Belanda, lanjut dia, di Pandean juga ditemukan bangunan bergaya arsiteketur Tionghoa. Dengan ciri khas atapnya nok agak melengkung, dinding kiri kanan bangunan menerus dan memiliki banyak ornamen.

“Kemudian karena penduduk mayoritas Jawa, karena nostalgia, kerinduan dan kenyamanan menggunakan arsitektur yang pernah dialami sebelumnya dan dibanggakan komunitasnya, maka penduduk lokal tetap mempertahankan bangunan arsitektur Jawa, Seperti Joglo itu,” paparnya.

Namun demikian, kata Freddy, ada juga penduduk lokal yang menggabungkan tiga arsitektur itu untuk membuat rumah. Sebab pada saat itu, tiga arsitektur yang menonjol di Surabaya adalah Eropa, Tionghoa, dan Jawa. (bersambung/jay)

 

Sumber: Radar Surabaya, 31 Oktober 2002. Halaman 7

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *